alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Merespons Mudik Virtual, Mungkinkah?

Oleh MUH. HUSEN ARIFIN*

01 Mei 2021, 16: 32: 29 WIB | editor : Abdul Basri

Merespons Mudik Virtual, Mungkinkah?

Share this      

KERENTANAN kontak fisik saat mudik Lebaran menjadi salah satu hal mendasar. Demi mencegah persebaran Covid-19 di sejumlah daerah kota atau kabupaten, pemerintah melarang mudik pada Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1442 H selama 6–17 Mei 2021.

Seperti Lebaran tahun lalu, Lebaran tahun ini, peniadaan mudik menjadi diskursus di kalangan masyarakat perantauan. Narasi rindu rumah di kampung menjadi satu perbincangan yang selalu hangat di tempat kerja, rumah, musala, pasar, dan tempat publik lainnya.

Jika mudik resmi dilarang, bagaimana dengan pulang kampung? Menarik. Perbedaan makna kata terucap dari Presiden Joko Widodo 2020 ketika menanggapi masyarakat yang ingin mudik. Sementara dalam KBBI, sekilas memberi makna sama. Mengutip Rahayu Surtiati Hidayat, ahli bahasa Universitas Indonesia pun setuju jika makna kedua kata tersebut berbeda.

Baca juga: 106 Warga Sampang Dideportasi

Ungkapan presiden tahun lalu rasanya masih relevan untuk memaknai mudik tahun ini. Lantas bagaimanakah reaksi masyarakat perantauan saat ini? Sejujurnya, masyarakat perantauan bertujuan pulang kampung untuk mengungkap jati diri bahwa berkumpul dengan keluarga merupakan ekspresi sosial yang eksklusif, memfasilitasi harapan-harapan sosial tumbuh, dan bermakna bagi mereka yang menemukan jalan kebahagiaan di tengah pandemi Covid-19.

Setidaknya, aktualisasi dari Lebaran tentu berorientasi transaksional kolegial. Bagi-bagi THR sebagai wujud pengamalan menumbuhkan semangat berbagi rezeki di antara keluarga. Identitas masyarakat perantauan memiliki citra positif, setidaknya stempel sosial tentang sukses di usia muda. Walaupun nilai-nilai terkandung di dalamnya lebih dimaknai sebagai masyarakat yang mengikuti partisipasi tradisi.

Perbedaan mudik atau pulang kampung menegaskan bahwa masyarakat tetap berhak mempertimbangkan keputusannya. Namun, jaminan kesehatan bukanlah hal yang mudah dan benar-benar mengundang kewaspadaan yang lain.

Bayang-bayang kewaspadaan ini kemudian memunculkan alternatif. Penggunaan teknologi berbasis aplikasi di gawai menjadi solusi. Masyarakat di era revolusi industri 4.0 tidak bisa lepas dari teknologi. Pengaruh teknologi komunikasi sangat berdampak signifikan dalam praktik keseharian, karena nyaris seluruh aktivitas masyarakat mendapatkan bantuan teknologi.

Mulai aktivitas awal bangun tidur, cek status di media sosial, memesan makanan untuk berbuka, membayar kebutuhan rumah tangga, serta pekerjaan berbasis remote dapat terlaksana dengan instan. Praktik sosial lainnya semakin mudah.

Menilik aktivitas masyarakat Indonesia menggunakan teknologi sangat bombastis. Sebagaimana data cyberthreat.id menyebutkan, dari total 272,1 juta penduduk, terdapat pengguna internet mencapai 175,4 juta jiwa. Setidaknya ada 338,2 juta unit gawai terkoneksi. Dengan kata lain, rata-rata masyarakat Indonesia memiliki lebih dari satu gawai.

Kita membaca kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia sudah melek teknologi, sehingga yang paling sering dilakukan yakni mengoperasikan media sosial, dengan data kurang lebih 160 juta jiwa. Maka dari itu, kecakapan teknologi masyarakat Indonesia semakin tinggi.

Di sisi lain, euforia teknologi membuat masyarakat mengaburkan makna sosial sebenarnya. Sebab, sekadar berteknologi tanpa mengimplementasikan kebersamaan dan melaksanakan muamalah ma’al biah secara tatap muka, terasa hampa dan garing. Demikian pembedanya, di satu sisi teknologi membantu masyarakat, namun menambah asosial. Kita menyadari bahwa masih perlu langkah sistemik memaknai mudik secara komprehensif.

Mudik Virtual

Multigenerasi masyarakat Indonesia sudah berpartisipasi dalam penggunaan teknologi. Oleh karena itu, kemajuan teknologi seiring dengan literasi digital yang dimilikinya.  

Kemampuan masyarakat mengintegrasikan teknologi dan praktik sosial merupakan penguasaan konsep ITM dalam perspektif Pendidikan IPS (Sapriya, 2019). Kemajuan teknologi sejalan dengan kemampuan masyarakat mengakses teknologi, tidak lagi kesulitan dalam menentukan pilihan.

Namun, ada satu kekhawatiran yang wajib terjangkau, jika kita melakukan komunikasi virtual terlalu lama akan berdampak pada kesehatan yang disebut computer vision syndrome dan repetitive stress injuries. Yakni, gejala pada mata akibat terlalu lama di depan gawai dan menyebabkan gangguan penglihatan, juga gangguan pada tubuh berulang, seperti kesemutan dan nyeri.

Secara saksama, usaha untuk mudik virtual yang mencuat ke permukaan di masyarakat pada pertengahan Ramadan ini juga harus dianalisis dalam koridor sosial dan budaya, juga asas kebermanfaatannya. Karena itu, diperlukan kajian atas alternatif model mudik yang memungkinkan masyarakat Indonesia tetap guyub dalam nuansa Lebaran, menggabungkan hubungan yang harmonis antara identitas dan tradisi. Bilamana kita sebagai masyarakat perantauan merasa mudik tahun ini rumit dan ruwet. Mudik virtual, mungkinkah? 

*)Alumnus Briboz TMI Al-Amien Prenduan, Dosen Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru, Bandung, Jawa Barat.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news