alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
Rysky Setya Ningsih, Karyawan Kantor Imigrasi

Semula Pulang Setiap Bulan, Sekarang Setahun Sekali

01 Mei 2021, 16: 18: 30 WIB | editor : Abdul Basri

PROFESIONAL: Rysky Setya Ningsih saat ditemui di ruang kerjanya di Kantor Imigrasi Kelas III Non-TPI Pamekasan, Rabu (7/4)

PROFESIONAL: Rysky Setya Ningsih saat ditemui di ruang kerjanya di Kantor Imigrasi Kelas III Non-TPI Pamekasan, Rabu (7/4) (ONGKY ARISTA UA./RadarMadura.id)

Share this      

Dampak pandemi Covid-19 benar-benar luar biasa. Bahkan, efeknya juga dialami oleh Rysky Setya Ningsih. Gara-gara virus korona, dia harus mengubah jadwal pulang ke kampung halaman.

ONGKY ARISTA UA, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

RYZKY Setya Ningsih, 29, tidak lagi bisa pulang secara rutin ke kampung halamannya di Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Dia harus stay di Pamekasan karena terdampak pandemi Covid-19. Apalagi, dia bekerja di Kantor Imigrasi Kelas III Non-TPI Pamekasan.

Baca juga: Gili Iyang Direkomendasikan Jadi Tempat Landing Pesawat Amfibi

”Pada situasi normal, saya pasti pulang setiap sebulan sekali. Dan itu sudah direncanakan sedemikian rupa. Namun, sekarang berubah karena pandemi Covid-19,” ungkapnya saat diwawancarai Jawa Pos Radar Madura pada Rabu (7/4). ”Sejak pandemi, (pulang, Red) satu tahun sekali,” katanya.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Madura (JPRM), dia sedang berada di ruang kerjanya. Dia sehari-hari menjadi Staf Subseksi Teknologi Informasi, Intelijen, dan Penindakan Keimigrasian. Dia bekerja di Kantor Imigrasi Pamekasan sejak 2015.

Sebagai perempuan yang masih single, dia memilih ngekos dengan teman kerjanya di Pamekasan. Sebelum Covid-19 mewabah, yakni pada 2015, 2016, 2017, 2018 dan 2019, dia biasa pulang ke kampungnya setiap bulan. Pulang ke kampung halaman ibarat mengisi energi.

Dengan begitu, energi itu harus diisi setiap bulan. Sebagai lajang yang menempuh karir di tanah rantau.“"Sejak pandemi 2020, saya baru pulang Februari 2021,” ceritanya. Sejak pandemi, dia harus belajar menghemat energi yang semula sering diisinya setiap bulan.

Kerinduan kepada orang tuanya pun harus dia tekan dalam-dalam. Sebab, kebiasaan pulang ke rumah setiap bulan sekarang hanya menjadi impian yang tak mungkin diwujudkan.

”Nggak pulang karena ada pembatasan, kemudian bapak ibu di rumah sudah berumur. Saya tak mau pulang karena khawatir terpapar dan membawa dampak buruk untuk mereka,” katanya.

Covid-19 memang menjadi alasan yang paling masuk akal baginya untuk tidak pulang. ”Saya di sini di pelayanan. Saya tidak yakin bersih dari Covid-19, saya khawatir menularkan ke ibu bapak dan keluarga saat pulang ke rumah,” sambungnya.

Dia mengatakan, menahan rindu pulang kampung adalah hal yang paling menyedihkan. Sebab, bukan sebuah kebiasaan baginya tidak pulang memeluk ibu dan bapaknya selama satu tahun. ”Apa pun yang di rumah, saya merindukannya,” katanya.

Rysky juga mengaku merindukan masakan di rumah dan dua adik kandungnya. Termasuk, lingkungan rumah dan teman-temannya di kampung halaman. Dia mengaku sedih membayangkan itu semua.

”Saya harus ikhlas atas semua itu. Sebab, sebagai abdi negara, kita tidak bisa seenaknya melakukan apa pun. Selama ada aturan yang mengikat kita, seperti larangan mudik, kita harus menaati dan mengikhlaskan semuanya,” katanya.

Pada Lebaran 2020, Rysky tidak pulang. Lebaran 2021 dia juga tidak bisa pulang. Video call dan telepon yang menjadi kanal menuangkan kerinduan itu. ”Dan alhamdulillah orang tua di rumah juga menguatkan saya agar terus profesional bekerja di sini,” katanya.

Rysky mengatakan, ada satu prinsip yang dia pegang selama hidup di tanah rantau. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. ”Di mana pun kamu berada, ya itu saudara kamu. Apalagi untuk saya yang tidak ada saudara blas. Dan di sini, saudara saya adalah temen-temen saya,” tutupnya.

(mr/yan/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news