alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
KH. Abdurrahman yang Lebih Dikenal Bajigur

Bilang Saja Mau Curi Apa, Yang Penting Semua Jujur

30 April 2021, 17: 59: 46 WIB | editor : Abdul Basri

KOMUNIKATIF: KH. Abdurrahman berinteraksi dengan santri Ma’had Al-Majnun, Selasa (23/3).

KOMUNIKATIF: KH. Abdurrahman berinteraksi dengan santri Ma’had Al-Majnun, Selasa (23/3). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

KH. Abdurrahman lebih dikenal dengan panggilan Kiai Bajigur. Bukan sekadar panggilan biasa. Ada makna di balik lakab yang melekat pada kiai ini. Seperti apa kisah kiai yang dulu sempat membuat heboh karena membuat kapal di atas bukit ini? 

PONDOK Pesantren (Ponpes) Al-Bajigur terletak di sebuah bukit di Desa Tenonan, Kecamatan Manding, Sumenep. Membutuhkan waktu lebih kurang 30 menit dari pusat Kota Sumenep untuk sampai ke sana. Di ponpes itulah KH. Abdurrahman menetap bersama keluarga dan 500 santrinya.

Nama Ponpes Al-Bajigur bukanlah berasal dari bahasa Arab. Nama tersebut pemberian dari masyarakat pada 1995. Saat itu adalah awal mula KH. Abdurrahman datang ke Desa Tenonan. ”Dulu desa ini dikenal banyak bajingan, maling, termasuk bramocorah,” kenang Kiai Bajigur kepada tim Acabis yang menemuinya Selasa (23/3).

Baca juga: Penistaan Agama

Setelah dia sampai di desa itu pada 1995, banyak bajingan yang menganggur. Akhirnya pondok itu diberi nama Al-Bajigur oleh orang sekitar. Kata itu merupakan kerata basa atau akronim dari dua kata, bajingan dan nganggur. Dari nama itu pula KH. Abdurrahman lebih dikenal dengan nama Kiai Bajigur.

Kiai Bajigur menceritakan bagaimana awal mula dia datang ke Desa Tenonan. Semua itu diawali ketika dirinya berangkat ibadah haji pada 1990. Saat di Tanah Suci, tepatnya usai menjalankan tawaf, dia melihat ada gunung di samping Masjidilharam.

Bentuk gunung yang tampak pada Kiai Bajigur persis seperti bukit yang saat ini dia tempati. Dari situ dia kemudian yakin kalau Allah mau memindahkan satu negara ke negara lain sangatlah mudah. ”Jadi, alam ini hadir di Masjidilharam tahun 1990,” ungkap Kiai Bajigur.

Sejak kejadian itu, Kiai Bajigur berhasrat bisa segera tinggal di Desa Tenonan. Namun, keinginan tersebut baru bisa dimulai lima tahun kemudian. Itu pun dia harus bolak-balik dari rumahnya yang berada di desa sebelah. Yakni Desa Lanjuk, Kecamatan Manding.

”Dulu di sini masih gunung. Saya sendirian. Nyai (istri) saja belum mau ikut selama satu tahun,” papar Kiai Bajigur.

Sejak awal dia masuk ke Desa Tenonan banyak maling dan bajingan yang tiba-tiba berhenti melakukan aksi kriminal. Informasi yang diterima oleh Kiai Bajigur, tidak sedikit masyarakat yang mengatakan maling dan bajingan yang ingin sakti harus ke Kiai Bajigur. ”Tapi itu kan hanya omongan saja,” katanya.

Kiai Bajigur mengakui, saat awal menempati Desa Tenonan memang sempat mengumpulkan para bajing, maling, dan kaum bramocorah di sana. ”Saya kumpulkan mereka. Lalu, saya sampaikan kalau mau mencuri bilang ke saya. Bilang saja mau curi apa, yang penting kalian semua jujur,” ucap Kiai Bajigur di hadapan orang-orang yang dia kumpulkan saat itu.

Namun, kata Kiai Bajigur, selama itu pula tidak ada yang berani jujur. Baru setelah tertangkap polisi, mereka perlahan berhenti. Mereka juga datang ke Al-Bajigur. Di sana oleh Kiai Bajigur diarahkan untuk mandiri.

”Kemudian dari mereka banyak yang tertarik pada pertanian dan perdagangan. Sekarang mereka banyak yang sukses. Banyak yang sukses dari (usaha) keripik singkong,” paparnya.

Kiai Bajigur membuat heboh karena membuat perahu di atas Bukit Lanjuk akhir 2013 hingga awal 2014. Kapal ini terdiri atas tiga dek. Dek pertama tempat mesin dan barang. Dek kedua untuk penumpang dan dek ketiga untuk nakhoda. Panjang perahu 15 meter dengan lebar 3 meter.

Perahu itu dikerjakan oleh tujuh orang ahli dari Saronggi dan Jawa. Sejak awal pengerjaan hingga selesai memakan waktu sekitar lima bulan dengan biaya Rp 400 juta. Perahu tersebut dibawa ke Pantai Slopeng, Kecamatan Dasuk. Ratusan orang membantu proses pemindahan untuk melarung perahu yang diberi nama Rofa’tut Thoir atau Burung Terbang itu.

Di Ponpes Al-Bajigur terdapat beberapa lembaga pendidikan dan Lembaga kemasyarakatan. Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nurusyudur, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurusyudur, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Bajigur, dan Madrasah Aliyah (MA) Al-Bajigur. Sedangkan lembaga kemasyarakatan ada Forum Silaturahmi Masjid, Mushola Safinatuttaqw,a dan Ikatan Keluarga Besar Al-Bajigur (IKBAR).

Selain dibagi menjadi putra dan putri, di Ponpes Al-Bajigur terdapat pesantren khusus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Lembaga tersebut diberi nama Ma’had Al-Majnun. ”Alhamdulillah sampai sekarang ada tingkat PAUD, MI, SMP, dan SMA. Mudah-mudahan berlanjut sampai perguruan tinggi,” harapnya. 

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news