alexametrics
Sabtu, 15 May 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
Azizah, Penjual Salak Asal Kampung Tarogan

Tetap Jajakan Dagangan meski Pendapatan Turun Drastis

30 April 2021, 17: 21: 38 WIB | editor : Abdul Basri

RAMADAN : Azizah saat berjualan salak di Kampung Tarogan, Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Kota Bangkalan, Minggu (25/4).

RAMADAN : Azizah saat berjualan salak di Kampung Tarogan, Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Kota Bangkalan, Minggu (25/4). (HENDRI KAMARUDIN/RadarMadura.id)

Share this      

Selain dikenal sebagai Kota Zikir dan Salawat, Bangkalan juga berjuluk Kota Salak. Sayangnya, pemasaran buah Salacca zalacca masih dilakukan secara konvensional.

HENDRI KAMARUDIN, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

KABUPATEN Bangkalan merupakan satu-satunya kota di Madura yang memiliki lahan pohon salak yang lumayan luas. Lokasinya terletak di Desa Bilaporah, Kecamatan Socah dan Desa Kramat, Kecamatan Kota Bangkalan. Karena itu, tidak heran kalau buah yang kulitnya mirip dengan sisik ular itu menjadi ikon kota Bangkalan.

Baca juga: Selfie Dibunuh karena Dendam

Kalau sudah masuk ke kawasan pinggiran kota Bangkalan, tepatnya di Kampung Tarogan, Kelurahan Kemayoran, maka pengguna jalan pasti akan menjumpai pedagang salak. Hampir setiap hari mereka menunggu pundi-pundi rezeki di tepi jalan. Walaupun lahan salak di Kelurahan Kemayoran tidak begitu luas, namun di sana masih ada masyarakat yang berjualan salak.

Seperti Azizah, yang ditemui jawa pos radar madura (JPRM) di Kampung Tarogan, Kelurahan Kemayoran. Menurut dia, meski sepi, dia tetap berjualan salak. Sebab, hanya itu yang bisa dia lakukan selama ini untuk mengais rezeki. Tapi, dia mengeluhkan pendapatan hariannya.

”Sejak awal Ramadan, pendapatan menurun. Sebelum ada Covid-19, pendapatan saya bisa mencapai Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per hari. Setelah pandemi, penghasilan saya berkurang dan berkisar Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu per hari,” ucapnya.

Perempuan yang sudah lebih 10 tahun berjualan salak itu mengungkapkan, salak yang dia jajakan dikulak dari Pasar Senenan, Bangkalan. Satu bak dibeli seharga Rp 50 ribu. Sementara kepada pembeli, dia jual seharga Rp 60 ribu. ”Meskipun hasilnya sedikit, itu sudah cukup buat makan,” sambung perempuan yang dikaruniai empat anak itu.

Dijelaskan, biasanya dia menjual salak dari hasil kebun sendiri. Namun karena sekarang masih dalam perawatan, terpaksa kulakan ke Pasar Senenan. ”Itu saya lakukan buat tambahan makan sehari-hari. Meskipun hasilnya sedikit, saya tetap ikhlas menjalani,” imbuhnya.

Ditambahkan, jenis salak yang dijual ada tiga macam. Di antaranya salak penjalin, salak kerbau, dan salak nasi. ”Yang paling diminati masyarakat adalah salak penjalin. Sebab, salak penjalin memiliki tekstur yang sepat dan rasanya manis,” pungkasnya.

(mr/yan/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news