alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
Kisah Sukses KH. A. Busyro Karim

Jadi Politisi Jangan Sampai Suka Marongo’

29 April 2021, 16: 56: 49 WIB | editor : Abdul Basri

RAMAH: KH. A. Busyro Karim berjalan di halaman Masjid Ayu Winarti Said di kompleks Ponpes Al-Karimiyyah, Desa Beraji, Kecamatan Gapura, Sumenep, Senin (22/3).

RAMAH: KH. A. Busyro Karim berjalan di halaman Masjid Ayu Winarti Said di kompleks Ponpes Al-Karimiyyah, Desa Beraji, Kecamatan Gapura, Sumenep, Senin (22/3). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

Dua puluh tahun di lingkungan pemerintahan bukanlah waktu yang singkat. Pengalaman menjadi ketua DPRD dan bupati Sumenep masing-masing dua periode memapankan pengalaman KH. A. Busyro Karim sebagai kiai sekaligus politikus. Di penghujung jabatannya, dia menuliskan buku berbahasa Arab tentang birokrasi.

BUYA –panggilan KH. A. Busyro Karim– sudah menulis 11 buku. Buku yang terakhir berjudul Nurul Karim. Buku berbahasa Arab ini seakan mengukuhkan pemahaman dia dalam memahami dunia politik dan birokrasi.

”Walaupun saya dihabisi oleh orang lain, saya difitnah macam-macam sama orang lain, saya tidak pernah dendam. Saya berusaha baik dan datang ke rumahnya. Biarin itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan dengan saya, dia tetap teman saya,” ungkapnya kepada tim Acabis di kompleks Ponpes Al-Karimiyyah, Desa Beraji, Kecamatan Gapura, Sumenep, Senin (22/3).

Baca juga: Pejabat Jangan Terima Parsel

Sebagai kiai sekaligus politikus, dirinya memiliki prinsip dalam berpolitik. Yaitu, politisi harus menambah kawan, bukan menambah lawan. ”Jangan sampai jadi politisi malah bilasalam, bilakalam dengan orang lain marongo’-marongo’,” ucapnya.

Prinsip tersebut tidak terlepas dari wawasan keagamaannya. Sejak kecil Buya sudah dikenalkan dengan pendidikan agama. Tidak hanya sebatas kitab-kitab fikih. Kitab tasawuf seperti Bidayatul Hidayah sudah dia hatamkan ketika masih duduk di bangku SD.

Tak hanya itu, masih di usia SD Buya sudah hafal kitab Safinah dan menghatamkan kitab Sullamut Taufiq. ”Mungkin itu ya pengaruhnya (belajar kitab tasawuf, Red). Sehingga, kita jangan dendam, jangan iri. Sejak kecil saya oleh Mbah Halimah sebelum mondok sudah hafal Safinah. Khatam Sullam Taufiq. Termasuk Bidayatul Hidayah yang tasawuf itu saya hatam,” ungkap Buya mengenang masa lalunya.

Dari pengetahuan agama dan terdorong oleh lingkungan di birokrasi itulah Buya kemudian menulis buku Nurul Karim. Buku kesebelas ini membahas tentang birokrasi. Halaman pertama sampai 100 tentang birokrasi.

”Ini judulnya Nurul Karim. Cahaya kemuliaan,” terangnya sambil menunjukkan buku terbarunya itu.

Alasan objektif penulisan buku tersebut dimaksudkan bisa menjadi cara bagaimana bergaul dengan orang lain. Sedangkan dari sisi subjektif buku tersebut diberi judul Nurul Karim karena diambil dari nama kedua orang tuanya, KH. Abdul Karim dan Nyai Hj Nuraniyah. ”Ibu saya namanya Nur. Bapak saya namanya Karim. Sehingga, saya persembahkan untuk bapak ibu saya. Nurul Karim,” jelasnya.

Buya menjelaskan, menulis buku tersebut dalam bahasa Arab. Menurutnya, itu didasarkan karena dirinya sedang belajar bahasa Arab. ”Yang kedua supaya Sampean belajar bahasa Arab juga,” ucapnya lantas tertawa.

Sebelum menyusun buku tersebut, Buya mengumpulkan ayat dan hadis yang berkaitan dengan perilaku di birokrasi. Setelah dalil-dalil tersebut diinventarisasi, baru dia lihat tafsirnya. Tak cukup di situ, Buya masih mencarikan pendapat-pendapat ulama terdahulu yang berkaitan dengan dalil tersebut.

”Buku tersebut berdasarkan ayat, hadis, tafsir, baru saya terakhir. Cuma yang merangkum saja. Saya ini sedikit sekali. Yang banyak ulama-ulama,” ucap Buya dengan nada merendah.

Dalam buku tersebut dibahas hubungan pemerintah dengan rakyat. Sesuai dengan Al-Qur’an, hadis, dan pandangan ulama. Di sana juga dibahas cara menyampaikan aspirasi pada pemerintah.

Buku setebal 100 halaman itu juga membahas cara menghadapi berbagai karakter orang. Misal menghadapi orang yang munafik. Bagaimana berhadapan dengan mereka yang suka bertikai.

”Bagaimana mengadapi orang yang merasa benar sendiri dalam beragama? Kalau tidak sama dengan saya itu salah, itu sirik, itu murtad. Itu ada semua dalam Al-Qur’an dan hadis. Jadi buku ini tidak hanya untuk birokrat, tapi untuk masyarakat juga,” papar Buya sambil menunjukkan bukunya.

Buya memiliki prinsip siapa pun dan jadi apa pun harus jadi orang baik. Jika menjadi politisi, jadilah politisi yang baik. Jika tentara atau polisi, jadilah tentara atau polisi yang baik. Jika jadi petani, jadilah petani yang baik.

”Kalau kiai tidak boleh berbisnis, terus bisnis ini mau dikuasai siapa? Yang penting ketika saya berbisnis, tidak sampai menjadi orang jelek karena bisnis itu. Kalau semua kiai tidak mau berpolitik, terus siapa yang mau mewarnai politik? Yang penting ketika kiai masuk ke politik, ya tetap kiai. Dari sisi akhlak dan semuanya,” tutur mantan pengurus GP Ansor itu.

Sebelum Nurul Karim, Buya telah menerbitkan Tafsir Al-Asas; Kandungan dan Rahasia di Balik Firman-Nya; Menuju Sumenep Cerdas 2015; Kitab Fiqh Covid-19; Terapi Spiritual, dan lima buku lainnya. 

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news