alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Ramadan di Era Postmodern

Oleh FEBRIHADA GAHAS CANDRAMUKTI*

29 April 2021, 16: 53: 22 WIB | editor : Abdul Basri

Ramadan di Era Postmodern

Share this      

RAMADAN merupakan bulan suci yang sering dinantikan kaum muslimin. Pasalnya, bulan ini hanya sekali dalam tahun. Tak mustahil jika sebagai umat Islam menjalankan ibadah di Bulan Ramadan ini dengan penuh kesenangan dan khidmat. Namun, memasuki era postmodern ini situasi sudah berubah, mengalami perubahan sosial. Kondisi masyarakat saat menunaikan ibadah puasa Ramadan pada era tradisional tidak sama dengan era saat ini.

Pada era postmodern, Ramadan diwarnai dengan hiruk-pikuk tayangan hiburan. Menurut salah seorang tokoh postmodern, Jean Baudrillard, ciri khusus era tersebut dipenuhi berbagai tanda, kode atau citra. Banyaknya tayangan iklan di sdunia hiburan merupakan maraknya jaringan penanda (kemasan) dan melemahkan aspek petanda (makna).

Meminjam istilah Guy Debord, sebagian besar masyarakat di bulan suci ini menjadi ”masyarakat tontonan” atau menjadi penonton. Tak pelak kemudian menjadi pemuja penanda-penanda bahkan bersifat lebih konsumtif. Korban iklan televisi bulan Ramadan meningkat lebih pesat dibandingkan dengan suasana lazimnya. Imbasnya, daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok semakin tinggi, utamanya makanan. Estimasi anggaran sehari-hari semakin bertambah.

Baca juga: Warga Temukan Makam Baru Berisi Bayi

Tak cukup sampai di situ, Ramadan menjadi ajang kapitalisasi. Penanda kapitalisme tersebut, maraknya berbagai diskon segala jenis produk, menjamurnya acara komedian/lawak, mode pakaian syar’i kekinian, sinetron-sinetron religi yang tayang setiap harinya. Itu semua hadir dan dibungkus dengan istilah Ramadan. Bahkan lebih dramatisnya, banyak beredar foto-foto di media sosial yang menyuguhkan hidangan-hidangan sedap di mata maupun lidah, meme-meme kocak, video-video lucu, paket traveling spesial Ramadan, dan sebagainya. Akibatnya, Ramadan yang seharusnya sarat dengan makna keimanan dan peningkatan ketakwaan, bergeser menjadi ajang aji mumpung bagi makhluk yang namanya kapitalisme.

Solusi atas fenomena di atas, tentunya harus membunuh makhluk kapitalisme tersebut. Salah satu caranya dengan detournement, yakni menciptakan penanda yang menegasikan dan mengkritik banyak petanda. Istilah ini dicetuskan seorang sosiolog postmodern bernama Guy Debord. Petanda-petanda tersebut dapat dilakukan oleh siapa pun yang mempunyai keinginan dan ketulusan dalam menjaga roh sakralitas bulan suci Ramadan. Misalnya, kalangan pemuda generasi milenial membuat suatu inovasi dengan mengadakan halaqah pengajian pada waktu siang dan malam hari. Halaqah pengajian mempunyai target mengkhatamkan tiga puluh juz Al-Qur’an.

Hal tersebut berlandaskan pada surah Al-Qadr ayat 1-5. Secara tafsir sederhana bahwa Al-Qur’an tersebut diturunkan pada malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan (bulan Ramadan). Segala keperluannya diatur oleh Allah melalui Jibril. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar. Momen ini, waktu tepat bermuamalah ma’a Allah (berhubungan, bergaul langsung dengan Allah) mengharapkan maunah di Lailatul Qadar. Ataupun menyelesaikan satu kitab khusus yang dikaji selama Ramadan, mengadakan salawatan setiap sorenya secara berkesinambungan, berharap tulus mendapatkan syafaat Rasulullah, peningkatan ibadah ma’a Annas (hubungan sesama manusia) dengan berinteraksi sosial di ruang publik.

Momentum ini juga ajang latihan sebagai pembentukan pribadi menuju ranah keselehan sosial. Generasi muda tidak hanya berkumpul, berkelompok sekadar mencari hiburan menunggu azan Magrib (ngabuburit) meskipun secara agama tidak dilarang atau diharamkan, tetapi alangkah lebih baik jika generasi muda terlibat aktif pada kegiatan-kegiatan yang mengarah ke hal-hal positif. Tak kalah pentingnya seruan-seruan dari pemuka agama di ruang-ruang virtual ataupun televisi mengenai esensi makna Ramadan supaya menjadi pribadi saleh secara individu. Peranan para dai sangat urgen karena mempunyai pengaruh kuat bagi para jamaah ataupun penontonnya, ceramah, beragam fatwa dan nasihatnya dinanti untuk esensi Ramadan. Tindakan, perilaku serta interaksi sehari-hari selalu diawasi dan dikontrol bahkan menjadi contoh, panutan, dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Memanfaatkan teknologi informasi dengan membuat berbagai gambar satire atau sarkasme yang mengacak-acak berbagai iklan televisi. Gambar-gambar tersebut dapat menjadi senjata andalan dalam membunuh, menyingkirkan power of iklan yang tayang musiman. Disebarkan secara masif melalui via WhatsApp, baik itu bersifat grup ataupun personal, konten YouTube, Tik-Tok, media sosial Facebook, Instagram. Terpenting dari itu, kemampuan kita sebagai individu dalam membentengi diri agar tidak mudah terjebak pada petanda, kode serta derasnya arus informasi. Jika semua itu dapat dilakukan secara istiqamah, penuh kesabaran serta keikhlasan, setidaknya umat Islam terutama generasi muda yang menikmati Ramadan di era postmodern dapat melaksanakan puasa lebih baik dari tahun sebelumnya. 

*)Alumnus 32O718 (Briboz) TMII Al-Amien Prenduan. Dosen IAIN Madura

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news