alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Pandemi dan Spiritual Kebangsaan

Oleh HENDRI*

28 April 2021, 14: 03: 33 WIB | editor : Abdul Basri

Pandemi dan Spiritual Kebangsaan

Share this      

SUDAH dua kali Ramadan dilanda pandemi Covid-19. Mula-mula virus ini mewabah di Wuhan (Cina). Terdeteksi di Indonesia Desember 2019. Sejak Covid-19 ditetapkan sebagai jenis penyakit yang menimbulkan darurat kesehatan masyarakat, dengan gencar pemerintah melakukan upaya preventif mulai dari lockdown, work from home (WFH), pembatasan sosial berskala besar (PSBB), larangan mudik, serta pengawasan ketat dengan atribut keamanan negara pun dilakukan.

Kita ingat suasana awal Ramadan tahun lalu yang sangat mencekam. Petugas keamanan di mana-mana diikuti dengan pemberitaan sangat dahsyat, baik di televisi, media sosial, bahkan mulut ke mulut. Selain memang takut dengan bahaya covid yang tak segan-segan merenggut nyawa, penjagaan pun sangat ketat, hampir setiap malam kita jumpai petugas keliling menyusuri jalan, mengontrol warung, kafe, dan tempat keramaian.

Bagaimana dengan Ramadan sekarang? Di bulan Ramadan ini agak sedikit menciut, pemberitaan sudah mulai bungkam, masyarakat enggan membicarakan, dan media pun mulai surut dalam mem-posting informasi perkembangan Covid-19. Lebih kacaunya, masyarakat menganggap korona sudah tidak ada.

Baca juga: Intan Retnosari dan Qim Aguinaldo, Keluarga Dokter yang Jarang Mudik

Stigma ini harus diluruskan oleh kita bersama. Virus korona masih eksis dan ada di sekitar kita. Kapan, di mana, dan siapa saja bisa terpapar. Wabah ini siap menerjang bagi mereka yang imunitas tubuhnya lemah. Walaupun, kita sudah divaksinasi. Instruksi protokol kesehatan: 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilisasi dan interaksi) harus dipatuhi dengan baik.

Pandemi di bulan Ramadan ini memang membuat umat Islam kurang efektif dalam melakukan ritual keagamaan. Salat Tarawih, tadarus Al-Qur’an yang dulu ramai dilaksanakan di masjid dan musala sekarang tidak lagi. Kendati begitu, bulan Ramadan ini jangan diabaikan begitu saja, ibadah kita harus ditingkatkan, mungkin membantu meringankan kesulitan orang lain lebih besar nilai ibadahnya dari sekadar iktikaf sepanjang malam di masjid. Sebab, perilaku iman dari nilai ibadah harus benar-benar sampai pada karakter kesalehan manusia.

Imam Ghazali mengatakan bahwa ibadah merupakan pokok iman. Bukan sekadar upacara agama yang masih abstrak. Iman yang baik dilafalkan dengan bahasa, diyakini dengan hati, dan dibenarkan dengan perilaku. Sementara iman yang tidak melahirkan kesalehan sosial tidak berarti sama sekali di hadapan Allah SWT. Sebab, keimanan harus berbanding lurus dengan perilaku nurani manusia yang selalu dihiasi dengan kemuliaan akhlak dan keluhuran budi.

Hablun minallah tidak pernah lepas dari hablun minannas. Artinya, holistisitas manusia dalam melakukan efisiensi hubungan dengan Allah, niscaya pula harus memperbaiki kualitas hubungan dengan manusia. Seyogianya, di bulan Ramadan ini selain pintu magfirah dibuka lebar, amal baik dilipat ganda hingga tujuh ratus kali lipat (HR. Bukhori dan Muslim). Mari tingkatkan amal baik kita, ringankan beban saudara kita, barangkali ada yang kelaparan atau punya masalah yang tak kunjung selesai, bantu dan mudahkan sehingga kita dapat memaknai ibadah bukan sekadar ritual. Tapi lebih hidup, berupa perbuatan baik yang bisa dirasakan oleh orang sekitar, lebih-lebih bangsa kita.

 

Spiritual Kebangsaan

Kita ingat, betapa hebatnya panutan kita, iman yang kuat ditunjukkan dengan tingkat spiritual kebangsaan yang hebat. Misalnya, KH Hasyim Asyari sebagai ulama sepuh bangsa, ada Ir Soekarno proklamator kita, Moh. Hatta sang intelektual, Moh. Yamin si ahli bahasa, Wahid Hasyim, Abdul Kahar Muzakir, dan Agus Salim yang dikenal sebagai ulama panutan, semua itu punya integritas tinggi untuk bangsa.

Lalu bagaimana dengan kita? Kita yakin bahwa ”setelah gelap muncullah terang” Indonesia harus bangkit dari keterpurukan. Kita belajar dari ungkapan Nelson Mandela sang revolusioner dan Presiden Afrika Selatan (1994–1999) bahwa, ”tak ada jalan mudah untuk mencapai kemerdekaan di mana pun. Berkali-kali harus melewati lembah dengan bayangan kematian sebelum mencapai puncak cita-cita”. Kita lihat semangat Winston Churchill dalam memotivasi bangsa Inggris, dengan mutiara bahasa yang dicatat dunia ”The Darkest Hour” saat menggambarkan Periode Perang Dunia II antara jatuhnya Prancis dan invasi kubu poros ke Uni Soviet, bahwa kemerdekaan itu memang harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan.

Di bulan yang penuh rahmat, berkah dan tidak tertolak setiap doa (HR. Ahmad) harus dijadikan kesempatan bagi umat Islam Indonesia untuk lebih intens dalam beramal saleh membangun rasa kepedulian, empati, saling membantu dan meringankan satu dan yang lainnya. Jika kita lihat lebih dalam lagi, wabah ini tidak ada apa-apanya jika kita bisa kerja sama (gotong royong), walaupun itu tidak mudah, tapi tidak merugi jikalau kita mau berusaha. Ingat kata bijak ”usaha tak pernah mendustakan hasilnya”. Semoga wabah ini segera berlalu dan Ramadan esok kita dapat melakukan ibadah dengan tenang, aman, dan damai. 

*)Ketua Ikatan Alumni Santri dan Simpatisan Pesantren Mancengan Darussalam (IassManda) Modung. Dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Pamulang.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news