alexametrics
Sabtu, 15 May 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Ayah dan Guru-Gurunya

Oleh: A. DARDIRI ZUBAIRI*

25 April 2021, 15: 45: 17 WIB | editor : Haryanto

Ayah dan Guru-Gurunya

Share this      

Hari Minggu, tanggal 25 April 2004 (dua hari setelah kelahiran anak pertamaku), 17 tahun lalu ayahku wafat. Ya, persis hari dan tanggal ini.  Sebagai bentuk kerinduan anak, tiba tiba ada keinginan untuk menulis tentang beliau. Aku sadar, ini sebenarnya persoalan privasi. Persoalan anak dan ayahnya. Maaf, kadang kerinduan harus diekspresikan.

Ayah, HA Zubairi Marzuqi, tipikal santri yang tak kenal lelah mengaji, sebagaimana nanti akan kita lihat, punya 5 anak bukan alasan untuk berhenti mengaji . Ayah mondok di Pesantren Annuqayah pada seorang kiai alim dan wara', KH Muhammad Ilyas, santri KH Muhammad Khalil Bangkalan dan KH. Hasyim Asy'ari, selanjutnya beliau meneruskan mondoknya ke Makkah. Supulang mondok, Kiai Ilyas menjadi pengasuh Pesantren Annuqayah menggantikan ayahnya, KH. Syarqawi. Jadi, Kiai Ilyas adalah genetasi kedua yang menjadi pengasuh pesantren Annuqayah. 

Cerita ayah mondok terbilang unik. Awalnya berniat mondok di Sumenep. Tapi kakekku, H Marzuqi, di tengah jalan berubah niat dan mengantarkan ayah nyantri pada Kiai Ilyas, kiai yang kala itu masyhur kealimannya, meski kakek dan ayah tak pernah mengenalnya. Desa Guluk-Guluk pun dimana pesantren Annuqayah berada juga persisnya tidak tahu. Berbekal arah saja, mereka berdua berangkat naik Dokar(gerobak yang ditarik kuda) ke arah barat dari rumah. Setelah berpindah-pindah dari dokar satu ke dokar lain dengan jarak tempuh sekitar 45 km dan jalan raya yang belum beraspal, akhirnya mereka tiba di pesantren Annuqayah. Ini terjadi di dekade awal tahun 1950-an.

Baca juga: Bulan Puasa, Bupati dan Wabup Sampang Gencar Silaturahmi

Di Guluk-Guluk ayah seperti menemukan gairah keilmuannya. Dunia pesantren seperti tak ingin dilepas, hingga kakek yang melepaskannya. Pasalnya ayah hendak dinikahkan dengan supupunya yang kemudian menjadi pendamping setianya hingga akhir hayatnya. Boyong dari pondok Guluk-Guluk tidak membuat semangat mengajinya hilang. Beliau sempat mondok ke Genggong, Probolinggo meski hanya beberapa bulan. 

Setelah menetap di desanya, beliau mengaji "secara cologen" (pulang-pergi dari/ke pesantren). Khusus pada bulan puasa beliau juga ngalap berkah dengan mengaji di pesantren Guluk-Guluk. Ini dilakukannya meski sudah memiliki 5 anak. 

Satu pengalaman ketika saya kecil seringkali melihat ayah berangkat membawa kitab, ikut truk yang mengangkut genting ke Bluto untuk mengaji kepada KH Sirajuddin(ayah KH. Romdlan Siradj' PP Nurul Islam, atau kakek Gus Fayyald dari jalur Ayah). Ayah memang berjualan genting. Ketika itu genting dari desaku cukup terkenal. Sentra industri genting rumahan ya di desaku. KH Siraj adalah menantu KH Ilyas.

Sebenarnya ayah sudah mengaji kepada beliau ketika Ayah masih nyantri di Guluk-Guluk dan kiai Siraj masih menetap di rumah mertua sebelum pindah ke karang cempaka Bluto.  Setelah  Kiai Siraj pindah ke Bluto dan Ayah boyong, ikatan Guru-murid tak putus yang ditunjukkan Ayah dengan mengaji kapada Kiai Siraj secara rutin. setiap mengirim genting dengan Truk ke karang cempaka, ayah pasti ikut untuk mengaji  kepada kiai Siraj. Kalau tidak ada pengiriman genting, kadang ayah naik sepeda ontel.

Sebagai seorang santri, tradisi "nyabis" dipegangnya dengan kuat. Beliau sangat sering nyabis ke pesantren Annuqayah, meski kiai Ilyas sudah wafat dan digantikan oleh Kiai A Warits Ilyas, kiai generasi ketiga. pernah ketika kecil saya diajak sowan kepada kiai Warits, Kiai Amir Ilyas, Kiai Ishomuddi Abdullah Sajjad, Kiai Basyir Abdullah Sajjad, Kiai Ashim Ilyas, dan kiai lainnya di pesantren Annuqayah yang berlangsung sejak pagi hingga sore baru pulang. Di hadapan guru, ayah lebih banyak diam. Tidak banyak bicara kalau tidak sedang ditanya guru. 

Setiap sowan pasti selalu mengajak anaknya. Adab terhadap guru sudah diwanti-wanti sebelumnya, mulai bagaimana mencium tangan guru, duduk, minum dan makan. Satu lagi yang sering diingatkan, jangan mencuri buah salak. Di pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa, dhalem Kiai Warits, memang dikelilingi pohon salak hingga merip perkebunan. Setelah nyabis ke guru-gurunya di  Guluk-Guluk, beliau biasanya melanjutkan nyabis ke Kiai Siradj Karang Cempaka Bluto. Dan itu terus dilakukannya meski pengasuh pesantrennya silih berganti. 

Ada yang menarik soal penghormatan kepada guru. Suatu hari, kiai Ali Fikri (Cucu Kiai Ilyas/putra Kiai Warits, pengasuh pesantren Lubangsa Sekarang) berkenan berkunjung ke rumah, kira- kira tahun 2001 atau 2002. Aku langsung ke kamar Ayah, saat itu sedang tidur siang, mengabarkan bahwa ada putra gurunya. Beliau bangun, ke kamar mandi, dan mengenakan baju yang paling bagus. Saat bertemu kiai Ali Fikri ayah bersalaman sambil  menunduk dan mengambil tangah kiai fikri dan menciuminya. Kiai Fikri juga menunduk menciumi tangan ayahku. Sejenak beliau berdua saling berebut untuk mencium tangan. Ayah mencium tangan kiai Fikri karena beliau gurunya (cucu/putra guru). Tentu kiai Fikri sungkan tangan beliau dicium orang yang lebih sepuh, hingga beliau berebut cepat untuk menciumi tangan ayah. 

Inilah gambaran santri-guru beda generasi ketika bertemu. Usia ayahku kala itu kira-kira 70-an dan Kiai Fikri mungkin sekitar 27 tahun karena baru pulang dari Yogyakarta, tempat kuliah beliau. Ayah mengamalkan sesuatu yang sering beliau dawuhkan, guru itu berlangsung hingga tujuh turunan. 

Di politik, ayah cukup aktif.  Ini dilakukannya sejak NU jadi partai hingga bergabung PPP. Era 70-an dan awal 80-an setiap ada kegiatan kampanye, beliau hadir. Sesekali didaulat menjadi jurkam. Karena aktvitas politiknya seringkali intel Orde Baru keluyuran disekitar rumah, bahkan ayah sempat ditahan semalam di koramil di kecamatanku. Awal tahun 1970-an Ayah sempat menjadi pegawai negeri (PNS). Cuma 5 bulan. Setelah itu Ayah mengundurkan diri. 

Pada tahun 1983 dan dikuatkan pada Muktamar  1984 di Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo, NU menegaskan kembali ke Khittah, tak lagi bergabung partai, menjaga jarak yang sama dengan semua partai, dan mempersilahkan warganya menentukan sendiri partai yang akan dipilihnya. Sejak NU kembali ke khittah, ayah pengamal khittah paling ketat. Ayah tak lagi datang ke kegiatan-kegiatan politik atapun kampanye. Termasuk keika beliau ditanya pilihan politiknya, Ayah tidak pernah bilang. Paling Ayah menjawab, "NU kan sudah membebaskan, terserah kamu". 

Jangankan sama orang, sama anaknya saja tidak pernah membocorkan pilihan politiknya. Sikap yang cukup ketat mengamalkan khittah ini harus dibayar mahal, fitnah bahwa Ayah masuk Golkar santer terdengar. Tahu sendiri, masuk Golkar ketika itu hampir sama dengan menjual iman. 

Ketika PKB lahir, ayah kembali menunjukkan pilihan politiknya. Setidaknya beliau datang ke kampanye-kampanye PKB. Apalagi awal-awal PKB lahir didukung penuh oleh mayoritas kiai, makin kuatlah PKB. Di Sumenep pemilu pertama paska reformasi, PKB memperoleh 25 kursi. Setelah itu terus mengalami penurunan kursi secara drastis, hingga 7 kursi di 2014-2019. Kenapa PKB terus turun? Tak oning se matora. 

Di NU ayah cukup aktif, terutama di Bahsul Masail PCNU Sumenep. Setiap bulan, beliau naik angkot ke MWC yang menyelenggarakan BM, karena sejak dulu tradisi BM diadakan secara bergiliran dari MWC ke MWC setiap bulan. Beberapa hari sebelum BM, di meja tamu penuh tumpukan kitab dan catatan tulisan tangan. Ayah betul-betul memanfaatkan BM sebagai ruang belajar buat ayah sendiri.

Di meja beliau setiap bulan juga terlihat Majalah Aula PWNU Jatim. Dari majalah inilah ayah mengikuti perkembangan NU di tingkat nasional maupun regional Jawa Timur. Melalui majalah Aula ini pula, saya makin mengenal NU dan mengenal tokoh-tokohnya ketika itu. Muktamar Situbondo yang menerima Pancasila dengan argumen cerdas yang dibangun KH Ahmad Shidiq saya baca di majalah ini. Saya juga makin mengenal KH As'ad, KH. Ali Ma'shum, Kiai Mahrus Ali, Kiai Adlan Ali, kiai Tholhah Manshur, KH Ilyas Ruchiyat, dan kiai lain hingga generasi di bawahnya, Kiai Sahal, KH Ali Yafi, Gus Dur, Saifuddin Fami, kiai Tholha Hasan, dll dari majalah Aula. Panjang umur Aula.

NU inilah yang dititipkan ketika aku berangkat ke Jakarta untuk kuliah di Cuputat. "Kalau mau aktif di organisasi carilah organisasi yang senafas dengan ahlussunnah waljamaah", pesannya singkat. Dawuh inilah yang menjadi pemandu saya hidup dilingkungan Ciputat, sebuah kampus yang menasbihkan diri sebagai madzhab Islam Rasional dan modernis. 

Alfatihah....

Adz, 25 April 2021

Keterangan:

Foto dan catatan disalin dari catatan A. Dardiri Zubairi di akun Facebooknya-nya yang diunggah Minggu (25/4) pukul 12.29.

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news