alexametrics
Sabtu, 15 May 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Gerakan Literasi Ramadan

Oleh RAMLAH Q.*

24 April 2021, 18: 25: 19 WIB | editor : Abdul Basri

Gerakan Literasi Ramadan

Share this      

MENJADI manusia, tidak cukup sebatas berdiam di muka bumi, hanya dengan menikmatinya saja. Butuh beberapa ”reward” yang sepantasnya manusia berikan kepada semesta. Alam yang luas; hamparan bumi, tinggi menjulangnya langit, bentangan lautan, kukuhnya pepohonan, juga luar angkasa yang dahsyat, membutuhkan sikap yang cukup responsif dari manusia. Karena keberlangsungan hidup mereka membutuhkan rawat-tangan manusia.

Berbicara manusia, berbicara alam, sama halnya dengan berbicara Tuhan. Tiga hal itu mencukupi untuk dijadikan sebagai komponen yang memberi pengaruh terhadap aksi, baik yang sudah ada atau pun yang akan ada. Eksistensi sebagai manusia sudah sepantasnya digaungkan, mulai diserasikan dengan status yang disandangnya. Contoh sederhana, manusia yang berstatus mahasiswa. Cukup keren bukan?

Manusia yang benar-benar manusia adalah ia yang mampu memanusiakan manusia, begitu pun dengan mahasiswa, mampu memahasiswakan mahasiswa, atau bahkan memahasiswakan yang belum mahasiswa atau yang bukan mahasiswa. Tentu hal ini bukan satu hal yang mudah. Hanya saja, selagi ada kemauan, pasti ada jalan. Adagium itu tentu sangat klise, namun cukup mampu menjadi pecut untuk melangkah, bahkan berlari.

Baca juga: Sejak Awal Ramadan, Ngaku Kecipratan Berkah

Tiga paragraf itu semacam mukadimah. Riuh di dada karena gelisah, ternyata tidak mengenakkan ketika sebagai mahasiswa ditanyakan eksistensinya. Bagaimana tidak. Mahasiswa masyhur sebagai pemuda yang solutif, kreatif, dan inovatif. Sliweran ini sedikit membuat pening sebab dari tangan saya tidak ”keluar” apa-apa, bahkan hanya mampu menghabiskan apa-apa. Sungguh terlalu.

Berkiprah dalam dunia literasi agaknya kurang sah jika sepanjang bulan Ramadan yang penuh berkah tidak mengadakan acara kecil-kecilan, semacam diskusi pinggiran, meski receh tapi tetap terkenang. Tergeraklah hati saya untuk berkomunikasi dengan salah satu konco yang saya anggap serasa dan serasi dalam hal visi misi. Saya bersyukur, karena teman saya juga merasakan hal yang sama. Teman saya pun ingin membuat rumah literasi, dengan beragam buku, tentu dengan banyak pengunjung pula. Kombinasi ini mewujud gula-gula, pelangi, semerbak bunga, dan semua hal yang membahagiakan. Alhamdulillah.

Relasi mulai dibentuk; mengomunikasikan berbagai hal yang dianggap perlu dalam kegiatan ini. Membangun kerja sama dengan beberapa orang yang sudah kami anggap berpengalaman, dan yang terpenting satu visi misi. Karena perjalanan mesti seimbang; ada gula ada semut. Bias dari kegiatan ini tidak luput dari harapan panjang agar pemuda pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya, memiliki integritas tinggi. Tentu bukan karena ingin dipuji. Netizen tidak dilarang melakukan apa pun, toh mereka memiliki hak untuk berkomentar. Karena bagaimanapun, komentar-komentar yang muncul, akan menjadi bahan pembelajaran.

Sudah saatnya kita sebagai manusia yang menjadi pemuda yang mahasiswa. Berani berlama-lama dengan buku, diskusi, dan menulis. Karena tiga item itu bukan satu hal yang tabu di kalangan mahasiswa. Kembali menata niat, mencoba menghasilkan satu dobrakan besar demi sebuah perubahan.

Lalu, bagaimana dengan mahasiswa yang santri? Identitas sebagai santri bukan menjadi alasan untuk tidak bergerak, untuk tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik. Justru dengan identitas itu, aspek penjagaan terhadap norma-norma agama, seperti halnya akhlak, bisa diaplikasikan dengan lebih sigap. Menjaga adab bukan suatu hal yang niscaya, ia menjadi titik terang dalam jiwa-jiwa manusia. Dan tentu identitas sebagai santri tidak hanya dimiliki oleh mereka yang nyantri alias mondok. Karena tidak mondok pun, ia pantas dipanggil santri, sejauh ia mampu bersikap dengan sifat-sifat kesantrian.

Berikut sifat-sifat kesantrian yang bisa diperoleh dari kepanjangan kata ”santri”. Huruf sin singkatan dari: saalikun ila al-akhirah. Santri harus menuju pada jalan akhirat. Huruf nun singkatan dari naaibun ‘ani al-masyayikh. Santri adalah sebagai pengganti para guru (ulama). Huruf ta’ singkatan dari taarikun ’ani al-ma’ashi. Santri harus mampu menjauhkan diri dari kemaksiatan. Huruf ra’ singkatan dari raghibun fi al-khairat. Santri harus senang terhadap kebaikan. Huruf ya’ singkatan dari yarju as-salamata fi ad-diini waddunya wal akhirah. Santri sudah sepantasnya mengharap keselamatan di dunia dan akhirat.

Dengan keberagaman, sisi kesantrian itu mengisi satu ruang utuh. Tidak hanya fokus pada akhirat, hubungan terhadap manusia dan alam raya juga menentukan kualitas sebagai santri sejati. Jadi bukan satu hal yang tabu ketika santri melahirkan gerakan-gerakan solutif di tengah kegalauan masyarakat. Suatu gerakan yang menjembatani suatu hal yang kisruh dan butuh pembenaran. Seperti halnya mendobrak kebiasaan antibaca menuju semangat membaca. Juga pentingnya membiasakan diri untuk berdiskusi dan menulis. Salam literasi! 

*)Sedang tinggal di FLC Sumenep Pondok Pesantren Tanwirul Hija Cangkreng, Sumenep

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news