alexametrics
Sabtu, 15 May 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Menanti Contoh Gerakan Cinta Zakat

Oleh SHULHAN*

23 April 2021, 19: 24: 48 WIB | editor : Abdul Basri

Menanti Contoh Gerakan Cinta Zakat

Share this      

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) bersama jajaran kabinet yang membantu jalannya roda pemerintahan, setiap bulan suci Ramadan menunaikan zakat secara serentak di Istana Negara. Jokowi bersama Wakil Presiden Makruf Amin dan para menteri serta pejabat negara menunaikan zakat melalui lembaga negara pengelola zakat, yakni Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) pada Kamis (15/4/2021). Dalam momentum ini, Presiden RI juga meluncurkan Gerakan Cinta Zakat untuk mendorong umat Islam di tanah air agar gemar menunaikan zakat untuk membantu orang yang membutuhkan.

Jokowi sebagai kepala pemerintah (uli al-amri) mencontohkan langsung pelaksanaan ibadah zakat bersama para menterinya secara seremonial untuk menggaungkan Gerakan Cinta Zakat ke seluruh penjuru Nusantara. Presiden mengajak bangsa Indonesia untuk berzakat dengan contoh perbuatan, tidak sekadar ucapan. Perbuatan pemerintah menjadi contoh (uswah) konkret bagi rakyat untuk dipatuhi dan teladani. Jokowi juga mengajak seluruh elemen masyarakat seperti pejabat negara, perusahaan, dan kepala daerah untuk menunaikan zakat melalui lembaga resmi.

Upaya Jokowi ini akan semakin baik jika diikuti oleh kepala pemerintah daerah seperti gubernur dan bupati beserta jajarannya. Para kepala daerah sangat baik apabila meniru perilaku kepala negara itu untuk menunaikan zakat dan memobilisasi bawahannya, seperti sekretaris daerah, kepala dinas, dan pejabat forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) untuk bersama-sama menunaikan zakat di bulan suci Ramadan.

Baca juga: Wings Air Ogah Layani Rute Sumenep–Surabaya

Kita menunggu bupati Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan memberikan contoh menunaikan zakat mal, zakat profesi, dan zakat fitrah melalui Baznas kabupaten setempat. Seperti halnya presiden, keempat bupati tersebut sangat baik jika menggerakkan seluruh jajarannya menunaikan zakat secara serentak sebagai refleksi gerakan cinta zakat di empat kabupaten di Madura. Contoh nyata seperti itu diperlukan untuk menumbuhkan gerakan cinta zakat bagi rakyat di Pulau Madura serta berzakat melalui lembaga resmi yang dibentuk atau disahkan oleh negara.

Memberikan contoh nyata menunaikan zakat oleh kepala pemerintah daerah dari sisi kacamata agama termasuk sunah hasanah yang mendatangkan pahala dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka. ”Barang siapa yang membuat sunah (kebiasaan) baik dalam Islam, maka akan mendapatkan pahala dan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali. Sebaliknya, barang siapa yang membuat sunah (kebiasaan) buruk, maka akan mendapatkan dosa dan dosa pengikutnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun,” (HR Muslim).

Hadis ini mendorong setiap muslim untuk berlomba-lomba melakukan kebajikan yang dibiasakan dan diikuti orang lain. Hal itu penting dilakukan karena yang melaksanakan akan mendapatkan pahala kuadrat, yakni pahala perbuatannya sendiri dan pahala dari perbuatan orang yang mengikutinya. Kebiasaan baik yang dilakukan oleh public figure seperti bupati sangat mungkin diikuti oleh rakyatnya. Itu terjadi karena segala aktivitasnya mudah diketahui masyarakat luas karena diekspos media dan memiliki banyak pendukung yang mencintainya.

Selagi menduduki posisi strategis, bupati sangat layak memunculkan banyak kebiasaan baik yang bisa diikuti oleh warganya. Salah satunya adalah memberikan contoh berzakat melalui lembaga resmi dan membiasakan diri dan jajarannya tiap tahun atau tiap bulan menunaikan ibadah zakat tersebut. Lambat laun tapi pasti, masyarakat akan mengikuti jejaknya untuk menunaikan zakat sebagai kebiasaan melalui lembaga pengelola zakat yang sah secara agama dan undang-undang negara. Kebiasaan baik yang berhasil dibudayakan di tengah masyarakat akan menjadi peninggalan (legacy) yang mengalirkan pahala jariah terus-menerus walaupun yang memelopori sudah tidak ada.

Lembaga pengelola zakat yang resmi menurut Syekh Muhammad bin Qosim dalam kitab Fathul Qorib ialah orang-orang (amil-lembaga) yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menghimpun zakat dan menyalurkannya kepada yang berhak menerima. Berdasarkan pendapat ini, tidak dibenarkan perseorangan, perkumpulan, komunitas atau yayasan menghimpun zakat jika belum mendapatkan legalitas dari pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) setelah memperoleh rekomendasi dari Baznas sesuai regulasi yang berlaku.

Selain Baznas yang tersebar di tiap provinsi dan kabupaten, banyak lembaga amil zakat (LAZ) yang dikelola yayasan, seperti NUCare/LIZISNU milik NU dan LAZISMUH di bawah naungan Muhammadiyah. Ada pula Dompet Dhuafa, Yatim Mandiri, Rumah Zakat, YDSF, dan lain-lain yang merupakan lembaga zakat resmi berskala nasional. Selain itu, ada LAZ yang berskala provinsi atau kabupaten. Titik tekannya adalah umat Islam hendaknya menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga resmi yang tepercaya untuk mendatangkan maslahat zakat yang terukur dan signifikan. 

*)Dewan Pengasuh Lembaga Pendidikan Ar-Rasyid Duko Rubaru, Sumenep

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news