alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Catatan
icon featured
Catatan

Puasa dan Etika Lingkungan

Oleh MATRONI MUSERANG*

22 April 2021, 17: 46: 19 WIB | editor : Abdul Basri

Puasa dan Etika Lingkungan

Share this      

PUASA merupakan salah satu rukun Islam. Bagi yang melaksanakan pasti bernilai ibadah. Puasa untuk menahan diri dari yang membatalkan puasa. Lumrahnya, puasa batal apabila makan dan minum.

Puasa memiliki dampak positif bagi batin dan fisik (materi). Sebab, ibadah puasa sebagai bukti nyata kita sebagai hamba Tuhan yang memiliki tanggung jawab untuk mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Segala aktivitas keseharian orang berpuasa biasanya selalu terpuji. Mulai aktivitas akal, hati, dan fisiknya. Terpuji berarti sangat baik, mahamulia di hadapan Tuhan dan manusia bahkan lingkungan.

Baca juga: Kunjungi AAU-Akmil, Bupati Baddrut Siapkan Beasiswa

Pada dasarnya, puasa ada untuk dilaksanakan dan dihayati ke-ada-annya. Misalnya apa puasa itu? Apa makna dan fungsinya? Puasa bukan sekadar dilaksanakan setiap hari selama satu bulan. Akan tetapi, refleksivitas puasa bagi batin dan fisik itu berdampak nyata. Misalnya, bagaimana puasa mampu menahan kata-kata busuk dan buruk, yang benci tak ada benci, yang dengki tak ada dengki, yang tamak pangarep tak ada tamak pangarep.

Misalnya tokoh ngarep pettra, ngarep salaman kettheng. Kalau masih ada bintik-bintik seperti itu, berarti puasa kita tak memiliki bekas apa-apa dalam batin. Puasa hanya sebatas formalitas tahunan.

Puasa satu bulan dalam satu tahun menjadi ajang untuk mengasah akal, batin, dan fisik kita agar bertambah terpuji dalam menjalankan agama Tuhan dan pemikiran keagamaan, sehingga tak ada kelompok-kelompok yang mengaku paling benar memahami agama.

Dengan puasa kita bebas dari bintik-bintik kebusukan. Kebusukan akal, kebusukan fisik, kebusukan batin. Sebab, puasa pada hakikatnya menjadi pembasuh kebusukan aktivitas keseharian atau bahasa lainnya, penghapus akhlak buruk.

Adanya kesadaran bahwa puasa merupakan ibadah yang mampu menghapus segala aktivitas keburukan, maka keseharian batin dan fisik kita akan lebih damai menjalani hidup. Damai menjalani aktivitas keseharian. Mengapa? Karena, menurut KH Achmad Siddiq, kita memiliki tradisi wawasan keagamaan yang sama dalam pandangan, dalam sikap, dalam tata cara pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran serta nilai-nilai Islam dalam tingkah laku keseharian.

Puasa momen refleksi kita sebagai hamba. Sebagai sosok yang dicipta tentu secara manusia memang tidak punya daya. Kita hanya diperintah puasa, ya kita sebagai hamba ya berpuasa.

Sebagai hamba tentu kita memiliki etika. Etika terhadap sesama, etika terhadap alam, etika terhadap tanah, etika terhadap semua ciptaan Pencipta.

Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan Tuhan. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka bumi. Kita ada untuk puasa dan khalifah. Sebagai khalifah, tentu tugas kemanusiaannya selalu menjadi contoh atau teladan. Teladan dalam aktivitas batin. Teladan dalam aktivitas fisik.

Seorang kiai harus menjadi teladan batin dan fisik bagi santrinya. Puasa sebenarnya momen yang pas untuk menguak diri hamba sebagai sosok yang selalu berbuat salah dan dosa. Oleh karenanya, ketika menjadi pemimpin dalam rumah tangga, pemimpin dalam lembaga, sudah seharusnya keteladanan menjadi porsi paling utama.

Sebagai hamba, puasa mengajak kita mengaktifkan akal untuk selalu berpikir tentang diri, tentang siapa diri dan hendak ke mana diri. Momen muhasabah untuk menghadirkan kehambaan kita sebagai sosok yang dicipta.

Sehingga, wajar jika ”manusia” memiliki diksi yang berbeda ini hanya untuk membedakan wilayah kerja kesadaran kita sebagai ciptaan. Misalnya basyar, al-insan, dan an-nas yang masing-masing memiliki perbedaan. Maka di bulan puasa, tiga diksi yang sama-sama berbeda ini harus kita kuak sebagai bahan refleksi keheningan diri untuk menemukan hakikat puasa itu apa.

Sebagai basyar kita menyadari bahwa badan kita akan hancur berkalang tanah. Maka, fisik sebagai materi yang sifatnya sementara, bagaimana mungkin kita tidak akan mencari sesuatu yang tak sementara.

Maka lahirlah al-insan yang memiliki akal untuk berpikir, diberi ilmu dan pengetahuan untuk mengetahui dan memahami alam semesta, peran akal dan spiritualitas itu penting. Sebab, menumbuhkan kesadaran kemanusiaan yang diberi amanah tanah, amanah alam, amanah sumber daya alam, diberi amanah angin, amanah air, yang harus dipelihara dan dilestarikan untuk kepentingan bersama.

Lalu an-nas yang memiliki kesadaran makhluk sosial dan kolektif. Sebagai manusia kita memang tidak bisa dan tidak akan mampu hidup sendiri, tanpa sesama, tanpa sumber daya alam, dan sumber-sumber yang lain.

Bahwa, kita dicipta tidak lain hanya untuk beribadah. Ibadah terhadap alam, ibadah terhadap tanah, ibadah terhadap air, ibadah terhadap angin, ibadah terhadap segala hal yang dicipta oleh Pencipta. Itulah mengapa kita ada dan tiada. 

*)Alumnus Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Jogjakarta

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news