alexametrics
Sabtu, 15 May 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Mengenal Manuskrip Mushaf Pangeran Paku Ningrat

22 April 2021, 04: 25: 58 WIB | editor : Abdul Basri

Mengenal Manuskrip Mushaf Pangeran Paku Ningrat

Share this      

PROF. Oman Fathurrahman, seorang filolog Indonesia yang reputasinya dikenal di kancah internasional sering mengingatkan kami betapa pentingnya manuskrip sebagai sumber pengetahuan. Melalui manuskrip, kita bisa mempelajari banyak hal dan mengambil manfaat dari kebudayaan di masa lalu. Kita juga bisa lebih mengenal identitas diri melalui keterangan-keterangan yang tertulis dalam manuskrip tersebut.

Beberapa hari lalu, penulis mendapatkan informasi keberadaan mushaf Al-Qur’an Madura dari Zainal Abidin, seorang filolog muda UIN Jakarta. Informasi tersebut ia dapatkan dari Annabel Teh Gallop, seorang filolog senior asal Inggris yang dikenal sebagai pengkaji manuskrip Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Naskah tersebut tersimpan utuh di Perpustakaan Britania (British Library), London, Inggris, dan dapat diakses secara daring di situs www.bl.uk.

Setelah ditelusuri, penulis menemukan sebuah manuskrip yang pada halaman awal setelah sampul tertulis aksara pegon berbunyi:Pangeran Paku Ningrat-Keraton Sumeneb-1793 lengkap dengan iluminasi (hiasan gambar) ornamen mirip dua menara dan satu kubah motif bunga dengan paduan warna hijau, merah, dan kuning emas.

Baca juga: Perempuan Tak Sekadar Glowing

Apa maknanya?

 

Manuskrip Mushaf Pangeran Paku Ningrat

Kata ”manuskrip” mungkin hanya familier di kalangan tertentu. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tersebut memiliki dua pengertian, yaitu: (1) ”naskah tulisan tangan yang menjadi kajian filologi” dan (2) ”naskah, baik tulisan tangan (dengan pena, pensil) maupun ketikan (bukan cetakan)”. Kedua pengertian ini sebenarnya mengacu pada objek yang sama, yaitu naskah hasil tulisan tangan. Hanya, kata ”manuskrip” memang identik dengan kajian filologi. Filologi sendiri merupakan ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis.

Sementara itu, kata ”mushaf” mungkin sudah populer di masyarakat. Kata tersebut biasanya dikaitkan dengan kitab suci Al-Qur’an. Namun, perlu diterangkan di sini bahwa mushaf yang dimaksud penulis adalah naskah Al-Qur’an yang bertulis tangan. Jadi, mushaf tersebut berbentuk manuskrip.

Seperti yang telah disebutkan, pada halaman awal mushaf tertulis dengan huruf pegon nama ”Pangeran Paku Ningrat”dan keterangan ”Keraton Sumeneb 1793”. Berdasarkan keterangan awal ini, diduga kuat bahwa manuskrip tersebut berasal dari Sumenep, Madura. Menurut penelitian Annabel Teh Gallop, mushaf Pangeran Paku Ningrat ditulis menggunakan kertas dluwang atau jeluang, yakni sejenis kertas yang dibuat dari kulit kayu. Menilik iluminasi yang menghiasi beberapa bagian manuskrip, Annabel memastikan bahwa mushaf tersebut dibuat setelah abad ke-18 M. Adapun keterangan tahun 1793 ia anggap sebagai penanggalan Jawa sehingga sama dengan 1865 M. Selain itu, tulisan Sumeneb terdiri atas huruf sin-wau-mim-nun-ba’ atau dalam huruf latin menjadi s-w-m-n-b juga menjadi penguat argumennya. Pengejaan ”Sumeneb” dengan menggunakan huruf ”b” dan bukan ”p” sesuai dengan surat-surat dari Keraton Sumenep pada abad 18-an M.

Di dalam artikel hasil penelitiannya, Annabel mengakui sangat terkesan dengan mushaf Pangeran Paku Ningrat. Penulisan kaligrafi dalam mushaf tersebut dikerjakan dengan begitu meyakinkan dan memenuhi nilai artistik. Oleh karena itu, ia tertarik memberikan penawaran atas manuskrip tersebut ketika dilelang di acara ”Asian Decorative Arts’sale” di rumah lelang Christie’s di South Kensington, London. Sayangnya, manuskrip tersebut pada akhirnya dimiliki oleh British Library atau Perpustakaan Britania dan diberi nama dokumen ”Or. 15877”.

Namun, Annabel memberi catatan penting terkait mushaf Paku Ningrat. Ia sangat yakin bahwa iluminasi yang menghiasi halaman awal naskah tidak otentik. Berdasarkan hasil pengamatannya terhadap naskah-naskah Al-Qur’an Asia Tenggara, tidak ada tradisi mempertebal iluminasi seperti yang terlihat pada halaman awal tersebut. Ditambah lagi, adanya pewarnaan yang sampai menembus halaman kertas dan beberapa aspek ornamen lain yang diduga ditambahkan pada masa belakangan untuk menaikkan harga jual.

Berdasarkan keterangan yang ditulis dengan huruf pegon pada kolofon, diketahui bahwa manuskrip tersebut disalin oleh Abdul Latif di Dusun Larangan, Kampung Puri, dan selesai pada hari Senin pada ”hilal” (malam) kedua puluh dua pada tahun ”Jasranga”. Oleh karenanya, Annabel berasumsi bahwa naskah ini mungkin saja berasal dari Pamekasan karena Larangan termasuk wilayah Pamekasan. Adapun halaman awal yang memuat keterangan Sumenep dan nama Paku Ningrat bisa jadi hanyalah hasil kesenian Madura.

 

Pentingnya Mengkaji Sejarah dan Budaya

Terlepas dari hasil penelitian Annabel, penulis melihat ada beberapa keunikan dari mushaf Pangeran Paku Ningrat dibanding dengan mushaf cetakan masa kini. Salah satunya adalah diawali dengan basmalah dan diakhiri dengan hamdalah. Lumrahnya, mushaf cetakan Al-Qur’an yang beredar sekarang diawali dengan basmalah pada halaman awal dan diakhiri dengan doa khatam Al-Qur’an. Pada mushaf Paku Ningrat, mushaf diawali dengan basmalah yang terletak sebelum halaman awal dan hanya sekadar diakhiri dengan hamdalah yang terletak pada halaman setelah kolofon.

Keunikan lainnya adalah penggunaan huruf pegon sebagai aksara pengantar sekaligus bahasa Jawa sebagai bahasa yang digunakan, termasuk juga penanggalan Jawa di dalamnya. Hal ini menarik untuk dikaji mengingat mushaf Paku Ningrat berasal dari Madura. Artinya, meskipun penulis merupakan orang Madura serta waktu dan tempat penulisan dilakukan di Madura, nyatanya mushaf Paku Ningrat ditulis tidak menggunakan bahasa dan penanggalan Madura.

Sementara itu, menilik iluminasi yang menghiasi manuskrip mushaf Pangeran Paku Ningrat, penulis tertarik dengan bentuk dan warna ornamen yang ditonjolkan. Misalnya, warna yang ada adalah merah, hijau, dan kuning emas. Tiga warna itu identik dengan warna batik Madura yang cenderung menggunakan warna-warna cerah tersebut. Selain itu, bentuk ornamen seperti dua menara, kubah, serta gambar ukiran tumbuh-tumbuhan juga tampaknya identik dengan kebudayaan masyarakat Madura.

Beberapa hal di atas tentu semakin menarik apabila dikaji menggunakan kajian ilmu filologi, semiotika, sejarah, sosial, budaya, politik, dan tentu agama. Dalam kajian filologi, misalnya, selain kajian fisik seperti yang dilakukan Annabel, mushaf tersebut dapat diperbandingkan dengan koleksi manuskrip mushaf-mushaf yang berasal dari daerah lain yang ada di Gedung Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Dalam kajian semiotika, beberapa aspek iluminasi mungkin dapat dijelaskan lebih jauh seperti apa arti ornamen tumbuh-tumbuhan, kubah, dan menara serta mengapa warna hijau, merah, dan kuning emas yang dipilih.

Selanjutnya, kajian sejarah tampaknya memiliki peranan penting untuk memahami keberadaan mushaf Pangeran Paku Ningrat. Apakah, misalnya, yang dimaksud dengan Pangeran Paku Ningrat adalah gelar Pakunataningrat I yang disandang oleh Sultan Abdurrahman, cucu dari Bindoro Saud yang menjadi Raja Sumenep dalam kurun waktu 1811-1854 M. Kemungkinan ini sangat besar berdasarkan informasi yang beredar bahwa beliau seorang hafiz Al-Qur’an dan pernah menulis mushaf Al-Qur’an dengan tangannya sendiri yang kini berada di Museum Keraton Sumenep.

Fakta lain yang mungkin mendukung adalah kealimannya yang diakui oleh Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu sehingga mendapat gelar kehormatan doctor dari pemerintahan Inggris. Namun, apakah mushaf tersebut benar-benar karya beliau? Tentu perlu kajian mendalam untuk memastikannya.

Adapun kajian sosial, budaya, dan politik dapat diterapkan dengan menjadikan fenomena penggunaan aksara pegon, bahasa, dan penanggalan Jawa sebagai objek kajian dari mushaf Pangeran Paku Ningrat. Pertanyaan-pertanyaan seperti: mengapa harus menulis mushaf, mengapa menggunakan aksara pegon, mengapa yang digunakan adalah bahasa dan penanggalan Jawa, bagaimana mushaf tersebut bisa sampai di Inggris, dan berbagai pertanyaan kritis lainnya dapat dijadikan sebagai titik tolak kajian.

Terakhir, pendekatan melalui kajian agama juga perlu dilakukan untuk memahami fenomena seperti penulisan basmalah di awal dan hamdalah di akhir mushaf, jenis khat yang digunakan serta penyusunan ayat-ayat atau surat-surat yang ada di dalamnya. Lebih dalam lagi, mushaf Pangeran Paku Ningrat ini dapat dikaji menggunakan studi ilmu-ilmu Al-Qur’an modern seperti yang dilakukan oleh para pakar di Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Dengan menggunakan beberapa pendekatan kajian tersebut, kita dapat menggali lebih dalam sejarah dan kebudayaan Madura sehingga kemudian dapat lebih mengenali identitas diri sebagai masyarakat Madura melalui manuskrip mushaf Pangeran Paku Ningrat. Usaha ini semakin mudah karena mushaf tersebut dapat diakses gratis secara daring di mana saja melalui laman website British Library.

 

FARIS MAULANA AKBAR

Perantau dari Mlajah, Bangkalan. Anggota Komunitas Saung, Ciputat. Tinggal di @farispharis.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news