alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Yang Tidak Kiai Katakan

Oleh MOH. SAMSUL ARIFIN*

21 April 2021, 01: 44: 08 WIB | editor : Abdul Basri

Penulis bersama Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al Ibrohimy Nyai Hj Maryamah Bahri.

Penulis bersama Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al Ibrohimy Nyai Hj Maryamah Bahri.

Share this      

KIAI memiliki peran penting di tengah-tengah umat Islam, bahkan di masyarakat luas secara umum. Di Indonesia, khususnya di Madura, adat dan agama saling mengisi dan memperkuat. Misalnya; adat berkumpul, bersosialisasi di suatu masyarakat diperkuat dengan nilai-nilai silaturahmi yang dibawa oleh agama. Atau, ajaran menghormati guru dan orang tua diperkuat oleh prinsip-prinsip dan istiadat masyarakat seperti bupa’ babu guru rato.

Tanggung jawab kiai menjadi semakin luas dan berat. Tidak hanya mengurusi santri dan sibuk dengan pesantren, tapi juga menjadi guru bagi masyarakat, menjadi tokoh masyarakat yang perbuatan dan kata-katanya diteladani (kalau tidak diartikan ”diawasi”).

Realitas ini seperti menciptakan dua dunia yang berjarak antara kiai dan kita (masyarakat atau santrinya). Menciptakan ”rahasia-rahasia” kiai yang tidak banyak masyarakat tahu. Berangkat dari rasa penasaran itulah, tebersit dalam hati saya untuk menggali jawabannya, memutuskan sowan, mewawancarai beberapa pengasuh pondok pesantren dan orang-orang terdekat kiai lalu menuliskannya.

Baca juga: PH saat Bacakan Pleidoi Kasus Dugaan Pencabulan

Anakku, Kupasrahkan Kau pada Allah

Bukan mendramatisir keadaan, tapi kalimat ini saya pilih untuk mewakili keadaan yang sering terjadi di kehidupan pribadi kiai. Para ”gus” (panggilan untuk putra kiai) semasa kecil, jarang mendapat perhatian ayahnya sebaik ayahnya memperhatikan santri.

Jadwal padat mengajar, baik yang rutin dengan santrinya maupun mengisi materi pengajian umum, plus menghadiri berbagai macam acara sosial kemasyarakatan, sangat menyita waktu pribadi dengan keluarga.

RKH Karror Abdullah Schal (Ra Karror) pernah menyampaikan, ”jujur, bahkan sampai saya dewasa, saya itu sangat sulit bertemu abah, beliau itu jarang di rumah, hampir setiap hari menghadiri undangan, sangat sibuk mengurusi (melayani) umat, bahkan untuk sekadar ngobrol santai saja sangat sulit,” ungkap Ra Karrar di acara Aschal Kecamatan Kokop 2020.

Gus Ibrohim Muchlis, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ibrohimy Galis juga mengatakan bahwa selama sebelas tahun belajar di Pondok Pesantren Assirojiyyah Kajuk, abahnya (alm. KH Muchlis Bahri) hanya tiga kali ngirim langsung ke pondok. Kiai Muchlis lebih sering menugaskan santrinya untuk ngirim Gus Ibrohim. Sekarang, setelah Gus Ibrohim berkeluarga dan memiliki putra, beliau merasakan sendiri memang benar bahwa santri dan masyarakat lebih sering diperhatikan daripada putranya sendiri. Seakan-akan beliau berkata ”anakku, kupasrahkan kau pada Allah.”

Bukan hanya rezeki yang datang, waktu pun bisa dihabiskan ”dengan cara yang tak disangka-sangka”. Hal ini tidak banyak orang tahu. Ruang privasi kiai itu tinggal sedikit dan hanya sebentar. Mengapa demikian, karena sebagian besar waktunya dan keberadaannya diberikan kepada santri dan umat.

Menjadi pejabat negara, orang-orang penting di perusahaan swasta mungkin sudah mengantongi jadwal setiap hari, bahkan bulan-bulan berikutnya. Mereka disebut orang penting dan sibuk, tapi masih memiliki aturan dan protokoler ketat. Jam berkunjung, jam istirahat, jadwal cuti dan liburan bisa ditata sedemikian rupa.

Kiai beda. Boro-boro menjadwalkan liburan, jadwal istirahat pun kadang direlakan untuk melayani tamu yang datang dengan keperluan mendadak. Uniknya lagi, hal ini oleh ”masyarakat awam” dirasakan lumrah, karena menganggap kiai memang hadir untuk umat, melayani umat kapan pun dan di mana pun sekaligus melupakan bahwa kiai juga manusia yang punya kewajiban dan hak dalam keluarga. Ini saya rasa bisa diwakili oleh kalimat bahwa kiai itu sering ”merelakan waktunya dengan cara yang tak disangka-sangka”.

Harapan Besar Kiai kepada Santri

Seorang kiai yang luhur budi pekertinya, luas ilmunya, serta mengasuh santri bahkan (seakan-akan) melebihi dalam mengasihi anaknya sendiri tentu memiliki harapan pribadi terhadap santrinya. Meskipun harapan ini lebih sering diungkapkan dengan bahasa perilaku daripada bahasa lisan.

Pertama, kiai sangat khawatir tentang akhlak yang telah diajarkan, dibiasakan, dan ditanamkan kepada santri selama di pondok pesantren akan hilang atau rusak ketika mereka sudah keluar (lulus). Bahkan, takut akhlak santrinya itu rusak saat liburan (pulangan pesantren) karena tidak diawasi secara langsung.

Hal ini bisa dilihat dari sikap kiai terhadap alumni. Mereka yang sudah lulus dan masih menjaga komunikasi dengan kiainya, apalagi masih sering bersilaturahmi pada kiainya, akan sangat dicintai dan didoakan yang terbaik. Seorang kiai menceritakan kepada saya, alumni itu rasanya seperti anak sendiri yang dididik, lalu dewasa, setelah tahu banyak ilmu dan pengetahuan, ia pergi merantau. Seperti orang tua, tentu merindukan kapan anaknya pulang dari rantauan. Kiai pun demikian, merindukan alumni datang, lebih-lebih mampu menunjukkan bahwa akhlak yang dipelajari dulu di pesantren masih tetap selalu ia amalkan.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news