alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Jangan Nodai Kesucian Ramadan

Oleh THORIQ AZIZ JAYANA*

14 April 2021, 20: 54: 04 WIB | editor : Abdul Basri

Jangan Nodai Kesucian Ramadan

Share this      

RAMADAN adalah bulan suci, begitulah para ustad menyebutnya. Namun label suci ini bukan kata serampangan. Kesucian Ramadan; di samping karena umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa, juga sebagai momentum untuk me-refresh kembali kesadaran akan rasa kemanusiaan dan perbaikan moral (akhlak).

Puasa Ramadan bukan sebatas persoalan menahan lapar, atau hal-hal yang remeh-temeh seperti membiarkan bau mulut dan tidur siang, tapi puasa Ramadan berupaya menggiring kita untuk menjadi manusia yang memiliki totalitas fitrah, yang saleh secara ritual, spiritual, dan sosial-kemanusiaan. Semua itu terangkum dalam kata takwa sebagaimana yang disinggung dalam QS. al-Baqarah [2]: 183.

Sekalipun firman Allah itu disebutkan berulang-ulang di berbagai kesempatan, namun kita sebatas hanya mendengarkannya, nyaris tidak pernah berupaya menghayatinya. Pasalnya, disadari atau tidak, banyak di antara kita yang berpuasa justru merusak kesucian Ramadan. Ibadah puasa, yang seharusnya menahan diri dari segala kegiatan yang membatalkan puasa dan menjaga hati dari bisikan hawa nafsu, malah banyak di antara kita yang unjuk kepongahan, keangkuhan, dan ingin dihormati.

Baca juga: Agroeduwisata Harus Bertahan Lama

Rentetan kepongahan yang merusak kesucian bulan Ramadan itu juga terlihat dari aksi sweeping warung-warung makan di pinggir jalan. Meski aksi sweeping ini tidak semasif tahun-tahun lalu, mungkin karena organisasi yang gemar sweeping sudah dibubarkan oleh pemerintah, namun acap kali saya menemukan di jalan/gang desa masih ada saja oknum preman berjubah yang memaksa warung makan untuk menutup usaha di siang bolong.

Lalu muncullah keresahan dalam benak saya, (dan saya duga, juga keresahan yang dialami pemiliki warung). Bukankah lebih bermartabat jika dengan berpuasa kita bisa menghormati orang lain yang tidak sedang berpuasa? Mungkin saja mereka tidak berpuasa karena ada halangan, sakit, safar, atau beda keyakinan, atau sedang haid dan menyusui (bagi perempuan). Apakah orang-orang yang berhalangan atau nonmuslim dilarang makan di siang hari di warung hanya karena umat Islam sedang berpuasa?

Sekali lagi, keresahan saya bertanya-tanya, tidak adakah keteguhan iman dalam diri sehingga menganggap orang yang sedang makan di warung saat siang hari sebagai musuh agama? Lagi pula, berjualan di siang hari adalah mata pencaharian sebagian orang, adakah syariat yang berupaya memutus mata pencaharian seseorang hanya karena tindakan sebagian orang yang gila hormat?

Terkait hal ini, saya teringat dengan dawuh Gus Dur, ”kalau kita muslim terhormat, kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa”. Kalimat bijak ini mengajarkan kepada kita bahwa orientasi ibadah itu ada pada diri sendiri, bukan diukur pada orang lain. Berpuasa seharusnya menjadikan diri semakin saleh dan berakhlak mulia, bukan sebaliknya, yang pongah, angkuh, dan meminta-minta penghormatan dari orang lain.

Jika berpuasa untuk mencari penghormatan, betapa rendahnya kualitas puasa yang Anda lakukan. Atau bahkan, puasa semacam itu hanyalah puasa semu, yang disebut oleh Nabi Muhammad sebagai puasa ”yang tidak memperoleh apa-apa kecuali hanya rasa lapar dan dahaga” (HR. Ibnu Majah).

Hal-hal absurd lainnya yang tidak habis saya pikir ialah ibadah yang menggebu-gebu hingga tidak bisa menempatkan pada waktu dan kondisi yang tepat. Jika terpaksa saya harus mengatakan, hal semacam itu adalah ibadah egoisme. Mungkin sering kita mendapati, khususnya di bulan Ramadan, banyak masjid yang menggelar tadarus menggunakan pengeras suara (toa) di siang bolong di waktu orang lain istirahat, atau tadarus sampai tengah malam yang membuat orang lain tidak lelap tidurnya, atau pembacaan salawat tarhim yang disetel terlalu pagi buta (sekitar tiga jam sebelum subuh) yang membuat orang lain terbangun padahal baru saja ia tidur.

Bagi orang yang mendengarkannya, apalagi bagi orang yang berada di sekitar toa masjid tersebut, perbuatan semacam itu pasti menjengkelkan. Bukan karena amaliah ibadahnya, namun penempatan waktu dan kondisinya yang tidak tepat. Saya tidak sedang melarang orang lain untuk memperbanyak ibadah di bulan Ramadan, hanya kita harus tahu batas, tahu situasi dan kondisi. Jika Anda ingin memperbanyak beribadah, karena tergiur pahalanya yang berlipat-lipat, maka lakukanlah tanpa harus mengganggu orang lain. Jangan beribadah karena mengikuti ego, apalagi mengharap penghormatan dari orang lain.

Marilah kita jaga kesucian bulan Ramadan ini dengan tidak mengikuti hawa nafsu, jauhi perbuatan-perbuatan anarkistis, terorisme, dan hal-hal yang bisa mengganggu orang lain, jauhi sifat kepongahan, keangkuhan, dan mengemis-ngemis hormat dari sesama. Marilah kita berlomba-lomba berbuat kebaikan, menebar kasih sayang, kedamaian, dan memberikan rasa hormat kepada siapa saja.

Itulah yang menjadi esensi dari ketakwaan dalam puasa. Selamat menjalankan ibadah puasa. 

*)Alumnus PP Miftahul Ulum Bettet, Pamekasan

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news