alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Esensi Puasa dalam Puisi Penyair Sufi

Oleh: BADRUL MUNIR CHAIR*

13 April 2021, 17: 11: 53 WIB | editor : Abdul Basri

Esensi Puasa dalam Puisi Penyair Sufi

Share this      

SUFISME atau tasawuf merupakan ajaran Islam yang di dalamnya mengandung teori dan praktik-praktik spiritual untuk membersihkan jiwa (tazkiyah an-nafs), terutama dari nafsu yang berpotensi mendekatkan manusia pada keburukan. Tasawuf merupakan jalan rohani yang ditempuh melalui medium dan ritual tertentu sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ajaran tasawuf banyak disampaikan dan ditulis dengan media/bahasa puisi. Misalnya, yang dilakukan oleh penyair-sufi Persia Maulana Jalaluddin Rumi dan penyair-sufi Aceh Syekh Hamzah Fansuri. Puisi sering dijadikan sebagai media ungkap kaum sufi. Sebab, segala bentuk keindahan diyakini dapat dijadikan sarana untuk menggapai pengalaman religius. Selain dengan puisi, musik dan tarian juga sering dijadikan media ekspresi dari perjalanan spiritual kaum sufi.

Ajaran-ajaran tasawuf kaum sufi erat kaitannya dengan nilai-nilai kearifan dan kebaikan yang akan membawa manusia pada transformasi batin dan penyempurnaan rohani. Kandungan ajaran kaum sufi mencakup berbagai aspek dalam kehidupan, baik yang bersifat ibadah maupun muamalah. Mulai dari zikir, meninggalkan maksiat, menjaga akhlak, termasuk yang berkaitan dengan tema puasa.

Baca juga: Ajak Masyarakat Jaga Kondusivitas

Maulana Jalaluddin Rumi, salah satu penyair-sufi terbesar dalam sejarah Islam, banyak menyebut puasa dalam puisi-puisinya. Dalam kitab Matsnawi, Rumi menulis tentang esensi puasa: Ketika mulut ini tertutup, maka akan terbukalah mulut lainnya/Untuk bersiap menerima jamuan-jamuan rahasia (Jilid III, bait 3747); Dan Kekuatan Jibril itu bukanlah dari dapur (Jilid III: bait 6).

Ketika berpuasa, kita diwajibkan menutup mulut lahiriah kita (tidak makan dan minum). Menurut Rumi, ketika mulut lahiriah kita tertutup, maka mulut batiniah kita akan terbuka. Dengan demikian, yang dimaksud Rumi sebagai jamuan-jamuan rahasia dalam puisi di atas adalah jamuan yang bersifat rohani, yang jauh lebih nikmat dari sekadar hidangan makan dan minum. Maka bagi Rumi, esensi puasa adalah untuk mencapai kashf, yaitu tersingkapnya hijab atau penghalang yang menutupi penglihatan batin manusia. Dengan berpuasa, mata batin dan kepekaan kita akan lebih terasah sehingga hikmah-hikmah tentang kehidupan akan lebih mudah kita peroleh.

Dalam bait yang lain, Rumi menulis bahwa Kekuatan Jibril itu bukanlah dari dapur. Makna dari bait tersebut adalah bahwa untuk mendekati kehidupan malaikat, manusia harus menghindari dapur (baca: banyak makan), dengan kata lain harus berpuasa. Dalam khazanah tasawuf dikenal istilah alam malakut, yaitu alam yang dihuni oleh para malaikat dan an-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang)—alam yang tingkat kedekatannya dengan Allah jauh lebih tinggi dari alam yang dihuni manusia. Bagi Rumi, dengan berpuasa, kita dapat mendekati alam malakut tersebut sehingga kita akan dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Selain Maulana Jalaluddin Rumi, penyair-sufi asal Fansur (Aceh) yaitu Syekh Hamzah Fansuri juga banyak menulis tentang anjuran untuk berpuasa dan menjauhi hawa dalam puisi-puisinya. Dalam kitab Asrar al-’Arifin, Syekh Hamzah Fansuri menulis: jangan bermaqam di ubun-ubun atau di pucuk hidung/ atau di antara kening atau di dalam jantung/ sekalian itu hijab kepada Dzat-Nya. Dan dalam bait yang lain beliau menegaskan: hapuskan akal dan rasamu/ lenyapkan badan dan nyawamu/ pejamkan hendak kedua matamu/ sana kau lihat permai rupamu.

Dalam puisi-puisi Syekh Hamzah Fansuri, upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dapat dicapai dengan cara melawan hawa nafsu, baik itu nafsu yang bermaqam di ubun-ubun (pikiran liar/buruk) maupun di pucuk hidung (segala yang berkaitan dengan aroma, termasuk di dalamnya makanan dan minuman). Hal itu dipertegas dalam bait yang lain, yaitu hapuskan akal dan rasamu, yang merujuk pada pikiran buruk dan nafsu yang berkaitan dengan rasa (seperti makan, minum, maupun seks). Sebab, hal-hal tersebut adalah penghalang untuk lebih dekat kepada Allah (taqarrub ila Allah) maupun upaya untuk mengetahui ”rahasia-rahasia” Allah (makrifatullah). Dengan menjauhi hal-hal tersebut, maka akan ”kau lihat permai rupamu”, yaitu kita akan menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang jauh lebih elok, baik di mata Allah maupun di mata sesama manusia.

Tamsilan puisi, bagi Rumi, berfungsi untuk mengolah rasa cinta orang yang mendengar atau membacanya. Maka ketika para penyair sufi menulis puisi tentang puasa, puisi-puisi dari para penyair sufi tersebut diharapkan dapat membangkitkan ilham pembaca melalui penafsiran rohaniahnya. Dengan begitu, para pembaca tergugah untuk menyelami esensi puasa.

Akhirnya, semoga dengan berpuasa, kita dapat mendekatkan diri kepada Allah dan kita dapat memetik berbagai hikmah dalam kehidupan. 

*)Alumnus Ponpes Darud Dakwah, Ambunten Tengah, Sumenep, dan Ponpes Darul ’Ulum Peterongan, Jombang. Dosen filsafat Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo, Semarang.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news