alexametrics
Sabtu, 15 May 2021
radarmadura
Home > Resensi
icon featured
Resensi

Perempuan dalam Kungkungan Dunia ’Patriarchat’

11 April 2021, 18: 56: 09 WIB | editor : Abdul Basri

Perempuan dalam Kungkungan Dunia ’Patriarchat’

Share this      

TUHAN menciptakan manusia dengan dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Ada jenis kelamin ganda, namun itu merupakan kelainan. Pria dan perempuan diciptakan dengan bentuk berbeda. Dari segi fisik, pria mempunyai tubuh yang lebih kekar daripada perempuan dan banyak perbedaan lainnya yang tidak perlu saya sebut satu per satu.

Meski banyak perbedaan, keduanya tidak boleh diremehkan, karena mempunyai kelemahan serta kelebihan masing-masing. Laki-laki tidak boleh mendiskriminasi perempuan, karena mereka lemah secara fisik. Perempuan pun tidak boleh mengece laki-laki karena tidak bisa melahirkan bayi. Seyogianya, perempuan dan pria harus saling menghormati satu sama lain, karena Tuhan menciptakan keduanya dengan kelemahan dan kelebihan agar saling melengkapi.

Realitas kehidupan berkata lain. Perempuan selalu dalam cengkeraman berbagai aturan dari masyarakat yang mendiskreditkan mereka. Contoh konkretnya, perempuan harus menggunakan pakaian tertutup agar tidak mengundang nafsu birahi lawan jenis. Sedangkan bagi laki-laki boleh saja menggunakan pakaian yang terbuka.

Baca juga: Pemkab Bidik Penghargaan Swasti Saba Wistara

Novel best seller Kim Ji-yeong ini merupakan kritik terhadap dunia yang seakan misoginis. Bumi ini seakan dikuasai oleh laki-laki (patriarchat), perempuan tidak boleh melakukan berbagai hal yang dilakukan laki-laki, karena mereka dipandang lemah dan tidak berwibawa.

Pekerjaan yang dilakukan perempuan di rumah bukan tidak banyak. Sedangkan laki-laki semisal sebagai pegawai kantor, mereka hanya bekerja di kantor, tanpa harus mencuci baju, mengurus anak, membersihkan kantor, dll. Perempuan sebagai ibu rumah tangga, dengan satu label pekerjaan, tapi mengerjakan banyak sekali hal, mengurus anak, memasak, belanja keperluan rumah, dan masih banyak lagi. Meski begitu, tidak ada yang menggaji mereka sepersen pun, kecuali mencari pekerjaan sampingan yang bisa dikerjakan dari rumah.

Coba kita lihat respons masyarakat, pekerjaan yang begitu ruwet dan melelahkan tersebut kurang mendapat apresiasi positif dari mereka. Istri yang sudah capai melakukan banyak pekerjaan masih harus melayani suami sepulang kerja, membuatkannya teh, jika tidak, istri pun akan dijustifikasi oleh masyarakat sebagai perempuan yang tidak baik. Sungguh kejam bukan dunia patriarchat?

Hidup yang begitu tidak nyaman juga dialami oleh anaknya, Kim Ji-yeong, dari lingkungan keluarga, di bangku sekolah, dan dunia keluarga baru setelah menikah. Saat makan bersama keluarga, Kim Ji-yeong dan kakak perempuannya harus mengalah kepada adik laki-lakinya. Ibu pun harus mengalah. Nenek mengambilkan nasi untuk si adik laki-laki terlebih dahulu, kemudian memperbolehkan yang lain.

Di bangku SD, Kim Ji-yeong acapkali mendapatkan perlakuan tidak baik dari teman laki-lakinya. Seperti dipukul lengannya, dipinjam peralatan sekolahnya dan tidak dikembalikan, disembunyikan alat tulisnya. Dia mengeluh, menangis kepada ibu dan kakak perempuannya, namun mereka berdua tidak membelanya, hanya bisa menyuruh Kim Ji-yeong bersabar dalam menghadapi teman-temannya.

Lingkungan SMP masih tetap tidak berpihak terhadap perempuan, Ji-yeong. Dia masih tetap mengalami hal serupa seperti saat SD, ketidaknyamanan di sekolah. Kali ini bukan dari teman-teman sekolahnya, akan tetapi regulasi sekolah. Siswi dilarang menggunakan tank top di dalam kemeja, dilarang menggunakan bra di dalam kemeja, mereka diharuskan menggunakan kaus berkerah tinggi dan lengan panjang, karena kemeja baju sekolah nyaris tembus pandang. Sementara siswa diperbolehkan menggunakan kaus lengan pendek, singlet, bahkan ketika cuaca sedang panas, mereka membuka sebagian kancing kemejanya tanpa ada yang menegur. Yang paling miris, ketika siswi tidak diperbolehkan menggunakan sepatu olahraga.

Dalam novel ini tidak dijelaskan alasan kenapa perempuan dilarang menggunakan sepatu olahraga dan kaus. Namun pada suatu waktu ada siswi yang dicegat di gerbang sekolah karena menggunakan sepatu olahraga. Karena ditegur, perempuan tersebut melontarkan protes, kenapa perempuan tidak boleh menggunakan sepatu olahraga, saya di waktu SD sudah biasa berolahraga, lompat tali, dan lainnya. Larangan menggunakan sepatu olahraga bagi siswi ini memang rada aneh, dan terkesan mendiskriminasi. Dalam pemahaman saya dari protes siswi yang ketahuan melanggar aturan tersebut, bahwa perempuan dianggap tidak bisa bergerak atau olahraga.

Di Korea Selatan, dalam novel ini, digambarkan sudah tidak terpengaruh oleh stigma masyarakat ”ngapain perempuan sekolah tinggi-tinggi, nanti bakalan juga jadi ibu rumah tangga juga.” Perempuan bisa bersekolah sampai setinggi mungkin, asalkan mempunyai biaya. Meski begitu, perempuan tetap perempuan. Kasta perempuan tetap di bawah laki-laki—dalam gambaran novel tersebut.

Kim Ji-yeong berhasil melanjutkan pendidikannya sampai menjadi mahasiswa. Di akhir perkuliahan, dia sudah mencari pekerjaan agar bisa menghasilkan uang. Namun lagi-lagi, penderitaan dialami oleh Ji-yeong. Biasanya untuk melamar pekerjaan direkomendasikan dari fakultas kampus, namun yang diberikan surat rekomendasi selalu mahasiswa laki-laki (hlm. 95).

Menurut paham saya, Kim Ji-yeong dalam novel tersebut tidak hanya mendeskripsikan Ji-yeong yang berada di Korea Selatan, dia juga berada di Indonesia, berada di Afrika, Amerika, Rusia, dan seluruh belahan dunia. Karena memang, seluruh dunia, masih banyak mendiskreditkan perempuan.

Perlakuan dunia terhadap perempuan dikritik secara tidak langsung oleh kandungan pesan dalam novel ini. Bahwa, perempuan nyatanya lebih superior daripada laki-laki. Dengan satu gelar, ibu rumah tangga, perempuan bisa melakukan banyak hal, mencuci, memasak, mengurus anak, mengurus kebersihan rumah, dan lainnya. Sudah sepatutnya perempuan dihargai dan dihormati.

Semua pekerjaan di rumah tidak semua harus dikerjakan oleh perempuan. Laki-laki harus sadar diri. Selagi tidak ada pekerjaan yang menuntutnya untuk keluar rumah, bantulah perempuan untuk melaksanakan pekerjaannya. Karena sejatinya laki-laki dan perempuan adalah untuk saling melengkapi. Jika tidak ada perempuan, siapa yang akan melahirkan? Jika tidak ada laki-laki, siapa yang akan membuahi sel telur? Mari wujudkan dunia tanpa diskriminasi terhadap perempuan! 

BAGIS SYAROF

Penikmat buku di Garawiksa Institute Yogyakarta

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news