alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Mengenal Robi Akbar, Pembuat Seruling Asal Bangkalan

Pakai Alat Tradisional, Tembus 4 Benua

06 April 2021, 20: 04: 18 WIB | editor : Abdul Basri

NYAMAN DIDENGAR: Rudi Akbar memainkan seruling di ruang tamu rumahnya, Sabtu (3/4).

NYAMAN DIDENGAR: Rudi Akbar memainkan seruling di ruang tamu rumahnya, Sabtu (3/4). (JUPRI/RadarMadura.id)

Share this      

Meski alat produksi yang dipakai sederhana, hal itu tidak membatasi kreasi Robi Akbar. Buktinya, dia mampu membuat seruling berkualitas. Selain berjualan seruling, Robi Akbar sambil mempromosikan batik.

JUPRI, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

SOSOK Robi Akbar benar-benar kreatif. Keterbatasan tidak membuatnya putus asa. Buktinya, dia tetap berkarya meski sarana dana modal usaha terbatas. Saat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mendatangi rumahnya di Perumahan Graha Mentari itu, dia memahat kayu di depan rumahnya di blok C7 nomor 10.

Baca juga: Winanto: Pemecatan Cacat Prosedur

Robi Akbar rupanya suami Elok Teja Suminar. Penulis buku Paraban Tuah yang diluncurkan dan dibedah di Kopi Kelud, Kelurahan Mlajah, pada pada Jumat malam (2/4). Sebenarnya, JPRM janjian bertemu Elok Teja Suminar. Di luar dugaan, perhatian koran ini malah tertuju kepada Robi Akbar, seorang pembuat seruling.

Saat memasuki ruang tamu Robi Akbar, puluhan seruling berbagai ukuran dipajang di dinding. Elok menyebut seruling itu buatan suaminya. Hasil keterampilan suaminya itulah yang selama ini menjadi salah satu penopang kebutuhan dapur rumah tangganya. Elok mengakui, royalti yang didapat dari buku yang ditulisnya memang tidak seberapa.

Robi Akbar merupakan pria kelahiran Bandar Lampung. Dia mempersunting Elok pada 2017. Pada 2012, Robi mendapat undangan membawakan monolog dalam sebuah pentas kesenian di Bandar Lampung. Saat itu Robi butuh seruling agar monolog yang akan disampaikan maksimal. Karena tidak punya, dia berinisiatif membuat seruling dari bambu. Bahan bakunya diperoleh dari tetangganya yang memiliki jemuran baju dari bambu. Ternyata, bunyi seruling yang dibuat secara otodidak tersebut sesuai ekspektasi.

”Seruling pertama milik saya terbuat dari jemuran baju dari bambu,” katanya.

Seusai pementasan, Robi kembali mencoba membuat seruling, tetapi gagal karena suara yang dihasilkan tidak bagus. Sejak itu, dia belajar dari internet dan mengamati tutorial melalui YouTube. Setelah memiliki kemampuan membuat seruling, profesi itu pun ditekuni dengan serius.

Agar tidak kebingungan memasarkan kerajinannya itu, Robi bergabung dengan komunitas penyuling Indonesia. Upaya itu bukan mendongkrak penjualan serulingnya, justru di-bully anggota komunitas. Sebab, seruling buatannya dianggap aneh dan harganya mahal.

”Pertamanya saya jual Rp 200 ribu di komunitas, itu pun tidak ada yang beli. Rp 150 ribu juga masih kemahalan. Kemudian, saya turunkan menjadi Rp 100 ribu hingga akhirnya Rp 50 ribu,” kenangnya.

Lalu, Robi memilih bergabung dengan komunitas suling internasional di media sosial (medsos). Ternyata, respons anggotanya berbeda. Banyak yang memberikan apresiasi, masukan, dan tertarik membeli seruling buatannya. Kesempatan itulah yang dimanfaatkan dengan baik untuk mengekspor hasil kerajinannya.

Pada akhir 2019, Robi memutuskan tinggal di Kota Salak atau di tanah kelahiran istrinya. Tepatnya, di Perumahan Graha Mentari, Blok C7, Nomor 10. Kala itu, dia mendapat order dari Singapura. Sebagai pendatang, Robi sempat kesulitan mendapat bambu sebagai bahan baku pembuatan seruling.

Namun, secara kebetulan, tetangga di depan rumahnya memotong pohon mangga. Robi kemudian meminta sebagian dahannya untuk dibuat seruling. Ketika jadi, seruling buatannya itu dikirim kepada pemesan. Harganya 200 dolar, jika dirupiahkan sekitar Rp 2,8 juta.

Seruling yang dibuat Robi bervariasi. Di antaranya, native american flute, ocarina, fujara, quena, anasazi, pinculo, serdam, drone flute, overtune dan moldavian kaval. Harga bergantung pada jenis, ukuran, dan tingkat kesulitan saat pembuatan.

Seruling buatan Robi dibanderol lebih murah jika konsumen membeli dalam jumlah banyak atau grosir. Misalnya, pada Maret lalu, ada seorang pemesan dari Amerika Serikat yang akan menjual kembali hasil kerajinannya di Negeri Paman Sam. Dari penjulaan itu, dia meraup pendapatan hingga Rp 10 juta.

”Masalah pendapatan tidak pasti, bergantung pesanan,” tutur pria kelahiran 1978 tersebut.

Robi mengaku seruling buatannya sudah terjual ke beberapa negara di dunia. Dari lima benua di dunia, hanya Benua Afrika yang belum pernah dikirim karyanya. Sedangkan ekspor ke Benua Eropa, Australia, Amerika, dan Asia sudah pernah dilakukan.

Sekarang Robi tidak lagi kesulitan mendapatkan dahan pohon untuk disulap menjadi seruling. Setiap melihat penebang pohon, dia sering meminta dahannya. Jika stok menipis, dia mendatangi penjual kayu bakar untuk membeli kayu yang bisa dijadikan seruling.

Semua jenis kayu dapat digunakan sebagai bahan baku. Namun, yang paling bagus adalah kayu jati. Sebab, seruling yang terbuat dari kayu jati mengeluarkan suara yang lebih bagus. ”Bahan baku dan jenis kayu itu memengaruhi suara. Kalau orang paham seruling, pasti mengakui jika kayu jati lebih bagus. Tapi, orang luar negeri cenderung memilih seruling yang nadanya stabil,” ungkapnya.

Saat memproduksi seruling, Robi mengaku memakai alat manual seperti gergaji, pahat, dan lainnya. Alat modern yang dipakai hanya bor. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat seruling bergantung jenis dan tingkat kesulitan. Contohnya, satu hari dirinya bisa menghasilkan dua seruling jenis okarina.

Robi sengaja membuat seruling dengan alat-alat manual. Sebab, selama ini konsumennya banyak yang tertarik dengan seruling klasik. Meski begitu, dia pernah membuat seruling memakai mesin router agar hasil lebih bagus. Ternyata, peminatnya sedikit. ”Seruling yang saya buat kadang diberi motif batik untuk mengenalkan budaya Indonesia ke luar negeri,” tukasnya.

 

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news