alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Ponpes Puncak Darussalam Sanggupi ”Lapangan Pekerjaan” Lapas Kelas II

01 April 2021, 19: 11: 26 WIB | editor : Abdul Basri

PERTOBATAN: Pengasuh Ponpes Puncak Darussalam RKH Abdul Hannan Tibyan (tiga dari kanan) dan Kalapas II-A Pamekasan M. Hanafi dalam penandatanganan kerja sama pembinaan di aula lapas kemarin.

PERTOBATAN: Pengasuh Ponpes Puncak Darussalam RKH Abdul Hannan Tibyan (tiga dari kanan) dan Kalapas II-A Pamekasan M. Hanafi dalam penandatanganan kerja sama pembinaan di aula lapas kemarin. (ONGKY ARISTA UA/RadarMadura.id)

Share this      

Yang pernah berbuat salah tidak akan selamanya mengulagi perbuatannya. Dalam diri setiap manusia ada nurani. Dalam diri narapidana pun demikian. Setelah tersesat, masih ada peluang untuk kembali ke jalan yang benar.

ONGKY ARISTA UA, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

”BIMBING saya dengan benar, bimbing saya kembali ke jalan yang benar,” kata Rudianto Hartanto di atas podium di aula Lapas Kelas II-A Pamekasan kemarin siang (31/3). Raut wajahnya sedih. Ratusan napi yang duduk di depannya mendengarkan kata-kata Rudi dan wajah-wajah mereka juga tampak sedih.

Baca juga: Satruki Sudah Lama Sediakan Bilik Cinta

”Saya ingin hidup lebih baik dan ingin dibimbing kiai dan ustad agar lebih baik dalam salat dan lebih baik dalam mengaji,” sambung warga Pucangan, Surabaya, itu. ”Terima kasih atas kesediaan untuk membimbing kami,” imbuhnya.

Lalu, pria yang memiliki masa hukuman lima tahun itu turun dari podium dengan kepala tertunduk. Seperti tengah memeram penyesalan dan rasa malu karena telah berbuat sesat yang membawanya ke dalam jeruji besi.

Dia kembali ke tengah-tengah para napi kasus Narkoba. Duduk bersila.

Siang itu, sekitar 300 napi dikumpulkan untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian kerja sama. Antara lapas kelas ii-A dan Ponpes Puncak Darussalam, Desa Potoan Daya, Kecamatan Palengaan.

Perjanjian tersebut berisi kerja sama bimbingan dan pembinaan untuk narapidana di Lapas Kelas II-A Pamekasan. Tenaga pendidik atau ustad dari Ponpes Puncak Darussalam akan mengisi bimbingan mengaji, salat, dan bimbingan keagamaan lainnya.

Kerja sama itu bukan karena momentum menjelang bulan Ramadan, tapi berkelanjutan. Kerja sama tersebut pun dalam kontrak sukarela. Tanpa ada yang dibayar dan tanpa ada yang membayar.

Pengasuh Ponpes Puncak Darussalam RKH Abdul Hannan Tibyan mendatangi acara tersebut. Dia datang karena sangat antusias dan tertantang. Sebab, menurut dia, dakwah yang sesungguhnya di lembaga pemasyarakatan. Di tengah-tengah masyarakat yang benar-benar membutuhkan jalan yang lurus dan benar.

”Kami akan mengirimkan para santri ke sini untuk membantu pembinaan di lapas ini,” terangnya. ”Mereka akan kami tugaskan dengan sukarela untuk ikut andil membina kegiatan sosial, ibadah, dan ngaji Al-Qur’an,” sambungnya.

Bagi Ponpes Puncak Darussalam, kerja sama dalam bentuk pembinaan untuk narapidana di lapas adalah yang pertama dilakukan. Pihaknya menyanggupi ini karena memang tugas ponpes untuk membangun masyarakat dan narapidana adalah bagian dari masyarakat.

Narapidana, kata Abdul Hannan, jangan sampai dipandang miring. Sebab mereka juga masyarakat yang sedang tersesat. Yang dalam waktu-waktu ke depan bisa menyadari kesalahannya dan menjadi orang saleh.

”Ini lapangan yang diberikan untuk kami oleh lapas dan ponpes memang berorientasi membangun masa depan, bukan masa lalu. Saya sangat terharu karena melihat wajah-wajah yang masih semangat untuk berbuat baik. Ini menumbuhkan semangat kami untuk terjun ke lapangan dakwah ini,” jelasnya.

Dia ingin sekali terus hadir di tengah-tengah narapidana. Dia berharap pembinaan berlanjut. Tidak putus dalam waktu-waktu tertentu. ”Berlanjut dan bermanfaat,” sambungnya.

Kepala Lapas Kelas II-A Pamekasan M. Hanafi menuturkan, kerja sama dengan Ponpes Puncak Darussalam bersifat sukarela. Tidak ada kontrak berbayar dalam memberikan pembinaan.

”Rehabilitasi ini tidak hanya untuk 300 napi. Kita usahakan semua napi juga mendapat pembinaan,” terangnya. ”Kendati situasi Covid-19, anggaran sudah dipotong separo, kami tetap berupaya dan menggandeng Ponpes Puncak Darussalam tanpa dibayar,” ungkapnya.

Pria kelahiran Pamekasan itu mengatakan, yang harus dipahami masyarakat terhadap napi adalah mereka hanya tersesat. Karena itu, memerlukan pembinaan untuk bertolak dari ketersesatan itu. ”Menghadapi bulan Ramadan ini, kami meminta pak kiai meningkatkan intensitas pembinaan,” tutupnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news