alexametrics
Sabtu, 17 Apr 2021
radarmadura
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal
Dijerat Pasal Penipuan

Kades dan Oknum LSM yang Diminta Tolong Urus Izin Acara

18 Maret 2021, 17: 36: 31 WIB | editor : Abdul Basri

Kades dan Oknum LSM yang Diminta Tolong Urus Izin Acara

Share this      

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Sejak Selasa (16/3), Kepala Desa (Kades) Pamorah, Kecamatan Tragah, Nai serta oknum lembaga swadaya masyarakat (LSM) Hosen ditahan Satreskrim Polres Bangkalan. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat pasal tentang penipuan. Keduanya ditahan usai menjalani pemeriksaan yang berlangsung sekitar dua jam.

Kasatreskrim Polres Bangkalan AKP Sigit Nursiyo Dwiyugo mengatakan, penetapan tersangka sudah sesuai prosedur. Penetapan tersangka sudah melalui sederet tahapan. Termasuk, melakukan gelar perkara, menaikkan status perkara menjadi penyidikan, dan menetapkan terlapor sebagai tersangka. ”Terkait penahanan itu kewenangan penyidik,” katanya.

Perwira pertama berpangkat tiga balok emas di pundaknya itu menambahkan, penyidik menjerat tersangka dengan pasal 378 Kitab Udnang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Penipuan. Ancaman hukumannya empat tahun. Namun, itu pasal pengecualian. ”Jadi, bisa dilakukan penahanan,” tegasnya mewakili Kapolres Bangkalan AKBP Didik Hariyanto.

Baca juga: Cara Bupati Slamet Junaidi Percepat Pembangunan di Kota Bahari

Sigit menjelaskan, awalnya Nai dan Hosen dimintai keterangan sebagai terlapor. Karena sudah mengantongi bukti-bukti yang cukup, status keduanya dinaikkan menjadi tersangka. ”Saat dimintai bantuan untuk mengurus izin, meminta uang sebesar Rp 5 juta,” ungkap pria yang pernah berdinas di Ditreskrimsus Polda Jawa Timur itu.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, sambung Sigit, Nai dan Hosen langsung ditahan di Polres Bangkalan. Dia berkomitmen akan memproses kasus tersebut hingga tuntas. ”Jika membutuhkan keterangan tambahan, kami akan memanggil saksi lainnya. Termasuk pelapor. Yang jelas, saksi yang sudah dimintai keterangan sekitar empat sampai lima orang,” bebernya.

Ditambahkan, kedua tersangka awalnya diminta mengurus izin keramaian oleh H Muhyi. Sebab, H Muhyi hendak mengadakan acara di kediamannya yang terletak di Desa Pamorah pada pertengahan Februari lalu. Kemudian, keduanya minta uang sebesar Rp 5 juta. Anehnya, meski sudah diberi uang, kedua tersangka tidak mengurus izin sesuai permintaan H Muhyi. Karena merasa dirugikan dan ditipu, kasus tersebut dilaporkan ke polisi.

”Tersangka menjanjikan akan mengurus izin keramaian. Sementara pada hari pelaksanaan acara, tim gabungan melakukan pembubaran. Tuan rumah saat itu menyatakan sudah mengurus izin keramaian. Setelah diselidiki, uang tersebut diterima Kades, sementara oknum LSM yang mengeksekusi,” tandasnya.

Sementara itu, Kasipidum Choirul Arifin mengatakan, institusinya sudah menerima SPDP dari penyidik Satreskrim Polres Bangkalan. ”Pokok perkaranya tentang penipuan. Kami akan berkoordinasi dengan penyidik. Yang jelas, saat ini masih dalam tahap pemberkasan. Sementara ancaman hukuman maksimal empat tahun,” ucapnya singkat.

Sekadar informasi, pada Senin malam (15/2) di Desa Pamorah digelar resepsi pernikahan dengan hiburan orkes. Menerima informasi tersebut, tim gabungan yang dipimpin Kabag Ops Polres Bangkalan Kompol I Made Widyana bersama Kapolsek Tragah AKP Musihram melakukan pembubaran acara yang digelar di Dusun Pancor tersebut. Sebab, dinilai melanggar protokol kesehatan (prokes).

(mr/rul/yan/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news