alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Ngakan, Neddha, Adha’ar

oleh: ERLIYANA MUHSI

28 Februari 2021, 19: 42: 23 WIB | editor : Abdul Basri

Ngakan, Neddha, Adha’ar

Share this      

BERKOMUNIKASI merupakan salah satu bagian penting dari kehidupan. Manusia sebagai makhluk hidup yang bersosial sangat melibatkan komunikasi dalam kehidupannya sehari-hari, dalam mengenal dan memahami lawan atau teman selama hidupnya.

Saya termasuk manusia yang menggunakan bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi dengan banyak orang, dan sebagai manusia yang kebetulan ditempatkan di pulau yang kaya akan keindahan yaitu Pulau Madura, terkenal dengan tingkah dan tutur kata yang lemah lembut dan penyayang, saya sangat bersyukur dan berbahagia sekali.

Madura memiliki bahasa dengan beberapa jenis tingkatan, yang memang membutuhkan ”belajar” untuk mengetahuinya. KTP asli Madura tidak menjamin kualitas kemampuan berbahasa seseorang, kecuali ia keturunan keraton dan pesantren yang masih menggunakan sistem pengajaran tradisional. Pada dua tempat itulah bahasa Madura masih harum dan terawat baik dari tingkatan yang paling bawah sampai yang paling tinggi.

Baca juga: BPJS Kesehatan Pastikan Aplikasi P-Care Siap Sukseskan Vaksinasi Covid

Dalam tulisan sederhana ini, saya ingin sedikit mengupas satu kata kerja bahasa Madura yang berkali-kali digunakan dalam perbincangan sehari-hari. Kata yang sering digunakan tidak pada tempatnya, bahasa yang sangat sepele sebenarnya. Akan tetapi,akan menjadi sangat fatal jika penggunaannya kurang benar. Terutama ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, dan lebih tahu terhadap tingkatan bahasa Madura yang benar. yaitu ”makan”, dengan bahasa Maduranya ”ngakan”.

Ngakan merupakan tingkatan bahasa pertama yang biasa disandingkan dengan komunikasi ”enja’-iya”. Dalam bahasa Madura disebut dengan bahasa kasar dan termasuk tingkatan yang pertama. Tingkatan yang selanjutnya lebih halus, biasanya disandingkan dengan komunikasi”enggi-bunten” dan penggunaannya dibagi menjadi dua jenis. Yakni untuk diri sendiri dan untuk orang lain. ”Neddha” merupakan bahasa halus dari ngakan yang digunakan untuk diri sendiri. Misalnya, kaula ampon lastare neddha (saya sudah makan). Dan jika kepada orang lain menggunakan ”adha’ar”, contoh ngereng adha’ara (mari makan).

Neddha dan adha’ar mempunyai tempat tersendiri dalam penggunaannya. Bahasa Madura tak hanya sebatas bahasa tanpa arti dalam menghargai diri sendiri dan orang lain, melainkan dikemas sangat luar biasa dalam bahasa halus (tingkatan bahasa kedua dan selanjutnya). Jika untuk diri sendiri, bagaimana mungkin dapat merendahkan lawan bicara yang lebih tua dan lebih tahu. Sementara penggunaan bahasa Madura untuk orang lain dibuat sekiranya orang yang mengucapkan tersebut mengagungkan terhadap lawan bicaranya. Sangat luar biasa, bukan?

Namun, kian hari, tak sedikit yang mulai bodo amat terhadap bahasa Madura halus, terutama cara penggunaannya. Kepada siapa dan bagaimana seharusnya diucapkan, itu tak lagi dipikirkan. Dalam penggunaan bahasa halus ngakan, kadang-kadang saya merasa tertohok ketika adha’ar yang seharusnya pengucapannya digunakan kepada orang lain justru digunakan untuk diri sendiri, bisa dikatakan, justru orang tersebut mengagungkan diri sendiri di depan orang lain.

Setidaknya, jika kepada diri sendiri gunakanlah tingkatan bahasa pertama (tingkatan kasar), yaitu ngakan. Orang lain atau lawan bicara kita akan sedikit memaklumi ketidaktahuan yang mengoar-ngoar pada diri kita, akan tetapi jika adha’ar kita pantaskan dengan diri sendiri, kesalahan dalam berbahasa sangatlah fatal. Bahkan, akan mengundang kerisihan orang lain.

Betul, jika bahasa akan semakin pudar dan mulai menghilang jika di antara masyarakatnya sendiri tidak memahami dan tak ada usaha untuk mengetahuinya. Kearifan yang menjadi tolok keindahan dalam bermasyarakat dan bersosial akan tenggelam jika para pemainnya mulai gagal menjaga dan melestarikannya.

Ke depan, modernisasi akan semakin pesat, kultur budaya akan terombang-ambing, banyak dipertentangkan dan dijadikan tolok pemikiran rasional. Termasuk bahasa, akan menyusut dijejal bahasa asing yang katanya keren tapi tak dimengerti banyak orang. Maka, kita harus lebih lincah dan lebih cerdas lagi, mengambil strategi demi menyelamatkan aura Madura di wajah dunia. 

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news