alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radarmadura
Home > Sastra & Budaya
icon featured
Sastra & Budaya

Potret Keagamaan Masyarakat Kiwari

28 Februari 2021, 19: 36: 10 WIB | editor : Abdul Basri

Potret Keagamaan Masyarakat Kiwari

Share this      

Berita Terkait

FENOMENA beragama di zaman kiwarimemanglah”gila”. Ada banyakperistiwa dantindakan manusiadengandalih”demi” agama dan iman, manusia menjadi beringas, kasar, layaknya singa lapar. Yang kemudian hal itu menjadikan kehidupan keagamaan kita tak lebih dari sekadar parodi di mana ”kejumudan, kekejaman, dan kekerasan” dipertontonkandenganbegituapik bermodalkan ayat dan dawuh-dawuh Rasulullah Saw. yang ditafsiri sepihak, semaunya, dan sesukanya demi kepentingannya.

Dari situ, kehadiran agama bukan lagi menjadi solusi kehidupan. Dengan agama, yang harusnya kita menjadi pribadi-pribadi mulia yang memuliakan Tuhan dan mengayomi manusiamalahberbalikmempolitisasi, mengkapitalisasi, mengkomersialisasiTuhan, dan menindasmanusia. Seakanapa yang dikatakan Thomas Hobbes bahwa manusia adalah serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus)benar-benar berlaku bagi manusia-manusia kiwari dalam menjalani agamanya. Agama, dengan segala kompleksitas ajarannya, diinterpretasi sesukanya dan lalu dijadikan alat justifikasiuntukmengangkat”pedang”—menebasusiamanusia yang tak sepaham dan taksegolongan.

Jika kitameniliklebihjauhfenomena beragama yang ironis ini, sebenarnya hal ini sudah bukan hal baru. Gus Dur, misalnya, sudah menyaksikan gejala beragama semacam ini lebih dulu dari kita. Maka dari itu, dengan pernyataan religius lagi humanis, Gus Dur menulis: ”ManusiaadalahciptaanTuhan yang paling sempurna. Memuliakannya berarti juga memuliakan Tuhan. Sebaliknya, merendahkan dan menistakan manusia, berarti juga merendahkan dan menistakan Tuhan. Kemanusian merupakan cermin ke-Tuhan-an”.

Baca juga: Siapkan SDM Unggul, Sambut Kehidupan Makmur

Setali dua uang dengan pernyataan Gus Dur, begitulah seharusnya lelaku kita sebagai manusia bergama. Sebab kehadiran agama di tengah-tengah kehidupan kita adalah untuk menjadikan kita manusia mulia; manusia yang memuliakan Tuhan—selaku yang Maha Segala-galanya—dan memanusiakanmanusiaselaku”karyacipta”dari yang Maha Segala-galanya itu.

Hal itu, adalah universalisme dan/atau ajaran universal dari agama (Islam) itu sendiri. Dan, melalui buku Sesaudara dalam Iman, Sesaudara dalam Kemanusian, Edi AH Iyubenumencobakembalimenegaskanhal itu kepada kita di tengah kehidupan beragama kita yang kering dan penuh percekcokan politis berbasis kepentingan; berbasis kekurangtahuan; dan berbasis kekotoran hati nurani yang berimplikasi kurang baik bagi wajah keberagamaan kita di zaman kiwari. Dan, oleh karena itu, tentu dan pasti, kehadiran buku ini adalah angin segar menyejukkan yang perlu kita sambut dengan suka cita.

Melalui buku ini, Edi mencoba membangun interpretasi genius perihal bagaimana kita menjalanilelakukehidupanberagama. Dalil-dalil agama dipahami dengan keberagaman literatur otentis, sehingga menghasilkan prinsip keagamaan yang dinamis, mampu berdialog dengan perkembangan dan dinamika zaman yang semakin kompleks dan majemuk tanpa menghilangkan prinsip ke-Tuhan-ancum kemanusiaan, baik dalam pikiran ataupun dalam praktiknya.

Sehingga dari situ, agama (Islam) bisa menjadi institusi yang mampu meingplementasikan dirinya dan ajarannya, yakni—sebagaimana ditegaskan Al-Quran—menjadi rahmat dan menebar kasih sayang kepada sekalian alam. Bukan hanya menjadi omong kosong yang penuh doktrin utopis atauhanyasebatasmenjadi”candu”—sepertiyang dikecamKalr Marx. Begitulah agama semestinyadiperlakukansebagai”pegangan” dan ”pedoman”dalammenjalanilelaku keagamaan dalam kehidupan beragama.

Agama tidak pernah mengajarkankekerasan dan lelaku-lelakukeagamaanlainnya yang dapat menciptakan kekacauan sosial. Jika hal semacam itu kita temukan dalam kehidupan kita, maka niscaya terdapat kecacatan logika pikir pada orang yang berlelaku keagamaan semacam itu. Jadi, adalah suatu yang tidak masuk akal bilamana kita temukan praktik keagamaan yang mengorbankankemanusian, persaudaran, dan rasa kesatuan manusia dengan alasan demi tegaknya agama. Karena itu, agama dengan segenap ajarannya, harus selalu diimplementasikan secara beriringan dengan rasa maslahat (kebaikan untuk semua) itu sendiri.

Niscaya, dengan hal itu, kehadiran agama di zaman kiwari yang penuh dengan tantangan kompleks ini, agama tetap bisa hadir sebagai solusi. Dan, perlu kita sadari bahwa, fenomena-fenomena keagamaan yang rentan memecah belah, menciptakan kekacauan sosial, merusak tali persaudaran—baik dengan yang seiman atau dengan yang sesaudara dalam kemanusian, itu adalah praktik keagamaan yang menyimpang.

Dan, bahkan, kita pun bolehcurigabahwa dibalikpraktik-praktikkeagamaan yang menyimpang,ada proyek politik atau bisnis keagamaan yang terselubung di balik semua itu. Karena sejauh ini, hanyalah praktik kegamaan yang ditunggangikepentinganpolitik-bisnislah yang menimbulkankekacauan sosial itu. Selama agama ditempatkan pada tempatnya, semua hal itu tidak akan terjadi. Dan, buku tebaru Edi AH Iyubenuiniadalahjalansekaliguslampu penerang untuk kita mengembalikan agama pada tempatnya itu. Sebuah tempat yang jauhdarikepentinganpolitik-bisnismenyedihkan. 

AHMAD FARISI

Pembacabuku di Garawiksa Institute Yogyakarta

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news