alexametrics
Sabtu, 17 Apr 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
Kesaksian Santriwati Selamat dari Longsor

Rindu Kakak dan Umi, Rabiah Ingin Mati dalam Keadaan Suci

26 Februari 2021, 17: 59: 17 WIB | editor : Abdul Basri

MENAHAN TANGIS: Tia Muharramah menunjukkan foto temannya yang menjadi korban longsor saat ditemui di kompleks Ponpes An-Nidhamiyah, Dusun Jepun, Desa Bindang, Kecamatan Pasean, Pamekasan, kemarin.

MENAHAN TANGIS: Tia Muharramah menunjukkan foto temannya yang menjadi korban longsor saat ditemui di kompleks Ponpes An-Nidhamiyah, Dusun Jepun, Desa Bindang, Kecamatan Pasean, Pamekasan, kemarin. (ONGKY ARISTA UA./RadarMadura.id)

Share this      

Duka mendalam keluarga besar Ponpes An-Nidhamiyah masih terasa. Kenangan tentang para korban meninggal juga tak kunjung masih terbayang. Terutama bagi santri yang malam itu tidur bersama mereka.

ONGKY ARISTA UA., Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

TIA Muharramah selamat dari maut dalam bencana alam pada Rabu dini hari (24/2) itu. Sementara lima rekannya di Pondok Pesantren An-Nidhamiyah meninggal dunia.

Baca juga: Reklamasi Ilegal Kian Menjamur

Gadis 15 tahun itu masih ingat betul betapa malam itu dia lalui dengan kelam. Bangunan tempat dia bersama tiga rekannya ambruk. Hujan lebat yang mengguyur sejak sore semakin membuatnya ngeri. Ditambah lagi, pada malam itu listrik padam. Komplet!

Longsor menimpa dua bangunan kamar santriwati. Lima orang meninggal. Satu orang patah tulang. Sementara satu orang luka ringan. Dialah Tia Muharramah, santriwati asal Dusun Mojang, Desa Dempo Timur, Kecamatan Pasean, Pamekasan.

”Saya tidak tahu. Itu seperti mimpi,” kata Tia Muharramah kepada Jawa Pos Radar Madura kemarin (25/2). Pada saat kejadian longsor pada Rabu dini hari (24/2), Tia sekamar dengan Rabiatul Adawiyah dan Siti Komariyah. Keduanya meninggal dunia. Di kamar yang sama juga tidur Nurul Komariyah, korban patah tulang pergelangan kaki kanan.

”Saya bangun sudah ada reruntuhan di sekitar saya. Saya berteriak minta tolong. Perkiraan saya itu tengah malam sekitar jam dua belas,” tutur Tia mengenang malam-malam kelam itu.

Tia mengatakan, dia tidak mendengar tanda-tanda sebelum longsor. Baik bunyi tanah yang bergeser maupun reruntuhan bangunan kamar. ”Saya hanya ingat, waktu tidur sedang hujan lebat,” katanya.

Bersama teman-temannya, Tia tidur sekitar pukul 20.00. Pintu kamar dikunci setelah rutinitas pesantren. Dia tidur setelah selesai bercerita-cerita dengan tiga teman sekamarnya itu. Sementara hujan mengguyur sejak Selasa (23/2) pukul 16.00.

Di dalam kamar itu, dirinya dan tiga orang temannya sama-sama tidur di dekat lemari. Lemari tempat menyimpan pakaian itu terletak hampir menyentuh dinding kamar. Pada saat longsor, Nurul ”hanya” tertimpa siku lemari dan patah tulang. Rabiatul Adawiyah dan Siti Komariyah tertimpa penuh lemari sekaligus material bangunan yang roboh karena terdesak longsor.

Sementara Tia selamat. Ketika dia bangun, lemari di sebelah kirinya miring ke kanan, ke tembok. Saya terhindar dari reruntuhan karena lemari itu ”melindunginya”.

”Pada saat runtuh dan longsor itu, posisi saya sedang berbaring tidur. Saya tidak melihat apa-apa karena gelap. Lampu padam,” tambah santriwati asal Dempo Timur, Kecamatan Pasean, itu.

Tia mengatakan, pengasuh Ponpes An-Nidhamiyah KH Muhaidi sempat meminta agar santriwati tidak tidur di dalam kamar di sisi tebing setinggi sekitar 20 meter itu. Sebab, dia khawatir berisiko karena hujan lebat sekali disertai angin kencang. ”Karena kami tidur lebih awal, tidak mendengar itu,” katanya.

Ada 47 santriwati di kompleks ponpes putri. Mereka mayoritas selamat. Karena hanya dua kamar itu yang runtuh. Yakni, kamar yang ditempat Tia dengan tiga orang temannya dan kamar sebelahnya yang ditiduri tiga korban meninggal lainnya. Yakni, siswa kelas VIII SMP Susanti, siswa kelas VI SD Nabila, dan siswa kelas VII SMP Nur Azizah.

Evakuasi dilakukan kali pertama oleh Kepala SMP An-Nidhamiyah Maimun dan sejumlah santri. Evakuasi dilakukan pasca 30 menit longsor. ”Sampai hari ini saya masih tidak percaya atas peristiwa ini. Campur aduk. Kaget dan sedih,” tutur Tia sambil menyeka air mata yang menetes dari kelopak matanya.

Tia punya banyak kenangan dengan teman-temannya yang meninggal dunia itu. Senyum dan tawa mereka akan terus terkenang. Mulai dari makan bersama. Belajar bersama. Bercerita bersama dan menanggung susah-senang hidup di Ponpes An-Nidhamiyah.

”Kami sudah seperti keluarga, saling menjaga satu sama lain,” katanya. Duka akan peristiwa tersebut masih menyelimuti. Trauma dan ketakutan. ”Mereka telah pergi. Semoga husnulkhatimah,” katanya.

Suara lirih Rabiatul Adawiyah selalu terngiang-ngiang. Saat tertimpa runtuhan, terdengar suaranya yang mengatakan tidak kuat dan tidak kuat. Sebelum peristiwa pilu itu, Rabiah mengaku sangat rindu kepada umi dan kakak perempuannya.

Ibunda santri 14 tahun asal Desa Poreh, Kecamatan Karang Penang, Sampang, itu berada di Malaysia. Sementara kakaknya berada di Bangkalan.

Tia juga ingat keinginan Rabiah yang ingin mati dalam keadaan suci dari hadas. Karena itu, sebelum tidur dia berwudu terlebih dahulu. ”Kalau mati nanti bisa mati dalam keadaan berwudu,” kenang Tia menirukan pernyataan kawannya itu. Air matanya tak kunjung kering.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news