alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Sudarsono Tetap Eksis Bersama Sanggar Seni Tarara

Menyesuaikan dengan Prokes agar Bisa Pentas

11 Februari 2021, 01: 17: 29 WIB | editor : Abdul Basri

LENTUR: Sudarsono melatih peserta didik Sanggar Tarara di depan Stadion Karapan Sapi RP Moch. Noer Bangkalan, Rabu (3/2).

LENTUR: Sudarsono melatih peserta didik Sanggar Tarara di depan Stadion Karapan Sapi RP Moch. Noer Bangkalan, Rabu (3/2). (JUPRI/RadarMadura.id)

Share this      

Hempasan pandemi Covid-19 tidak hanya membuat perekonomian pincang. Sektor seni dan budaya juga kena imbasnya. Pola latihan dan pentas pun harus menyesuaikan dengan kondisi.

JUPRI, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

PULUHAN perempuan bermasker berjejer di depan Stadion Karapan Sapi (Skep) RP Moch. Noer Bangkalan, Rabu sore (3/2). Pakaian yang digunakan tidak seragam. Namun, gerak tubuh mereka bersamaan. Mereka adalah anggota Sanggar Tarara yang sedang latihan menari.

Sanggar Tarara tidak asing di telinga masyarakat. Setiap event, hajatan, dan kegiatan seremonial sering mewarnai panggung hiburan. Eksistensi sanggar seni yang dibentuk pada 2004 tersebut kian membumi meski dalam situasi pandemi.

Pembina Sanggar Seni Tarara Sudarsono mengatakan, semua sektor terdampak pandemi Covid-19. Tidak terkecuali dunia kesenian dan kebudayaan. Adanya pembatasan mengharuskan dirinya mengubah pola pendidikan kesenian yang selama ini berjalan.

Pada awal pandemi Covid-19, sanggar kesenian yang dibina sejak 17 tahun lalu itu sempat vakum tiga bulan. Latihan maupun pementasan tidak pernah dilakukan karena ada larangan berkerumun sesuai protokol kesehatan (prokes). Padahal, undangan pementasan saat ini cukup banyak.

Ada tiga paket pementasan yang selama ini diterapkan sanggar yang dikelolanya. Di antaranya paket lengkap, yaitu menampilkan penari, pemain musik, penyanyi, pengrawit, dan prosesi. Paket kedua, penari dan pemusik. Paket terakhir, penari dengan dipandu suara kaset atau rekaman.

Dari berbagai jenis pementasan, rata-rata penanggap pertunjukan memilih paket ketiga. Bukan karena biaya yang lebih murah, namun menyesuaikan dengan pembatasan undangan dalam hajatan. ”Kalau paket ketiga yang perform hanya tujuh orang yang terbagi tiga penari, penata rias, dan saya sendiri,” katanya.

Sudarsono kerap meneteskan air mata saat harus tampil dengan personel yang minim. Sebab, sebelum pandemi Covid-19 selalu manggung bersama-sama. Dirinya memahami anak asuhnya tidak hanya ingin belajar menari. Namun, juga ingin mementaskan kesenian di atas panggung.

Karena itu, pihaknya memberikan kesempatan yang sama untuk pentas. Meski terdampak Covid-19, Sudarsono bersyukur karena sanggar seni yang dikelolanya masih tetap eksis. Padahal, banyak sanggar seni di daerah lain yang vakum. ”Kami ada undangan untuk pementasan di Sumenep,” ujar pria 54 tahun tersebut.

Pembinaan terus berjalan meski tidak seperti biasanya. Setiap hari hanya 25 anak yang diperkenankan untuk mengikuti latihan. Padahal jumlah anggota sanggar mencapai 400 orang, meski yang aktif saat ini 56 orang. ”Anggota kami banyak yang bersuami dan kuliah ke luar kota,” katanya.

Bagi yang kuliah, Sudarsono menyarankan agar mereka melanjutkan pendidikan jurusan keguruan. Dengan harapan, kelak ketika menjadi pendidik, mereka mengajarkan kesenian kepada muridnya.

Dia juga sering memacu semangat dengan menyarankan untuk menciptakan karya seni sendiri. Sebab, selama hanya mempertontonkan karya orang lain tidak akan pernah dikenang seperti pencipta. ”Saya bersyukur anak didik saya sudah ada yang membuat karya-karya baru,” tandasnya.

Suatu ketika anggota Sanggar Tarara dikejutkan dengan kedatangan Ketua Dewan Budaya Zaenab Zuraidah Latif. Ketua TP PKK Bangkalan itu melihat langsung proses latihan anak-anak Sanggar Tarara di Stadion Karapan Sapi RP Moch. Noer Bangkalan, Minggu sore (26/7/2020).

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news