alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarmadura
Home > Catatan
icon featured
Catatan
Refleksi HPN 2021

Wartawan, Stigma, dan Potensi Menyimpang

Oleh: ONGKY ARISTA UA.*

11 Februari 2021, 01: 07: 41 WIB | editor : Abdul Basri

ONGKY ARISTA UA Wartawan Jawa Pos Radar Madura

ONGKY ARISTA UA Wartawan Jawa Pos Radar Madura (RadarMadura.id)

Share this      

Stigma yang Menggeneralisasi

SAYA tidak pernah membayangkan akan menjadi jurnalis atau wartawan. Karena ada stigma dalam bayangan saya ketika itu. Stigma itu bermacam-macam. Namun yang cukup mencolok, wartawan itu ’tukang cari masalah’ hanya untuk ’keperluan duit’.

Tetapi saat itu pula saya menyadari bahwa itu hanya stigma. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, stigma didefinisikan sebagai ciri negatif yang muncul karena pengaruh lingkungan. Artinya, citra negatif kepada wartawan atau jurnalis tidak semata-mata lahir dari kecelakaan dalam profesi wartawan itu sendiri. Tetapi juga lahir dari keterlibatan masyarakat—yang juga dengan ramai-ramai mendesain citra negatif pada diri wartawan. Efek ramai-ramainya masyarakat ini menyebabkan citra wartawan selalu buruk.

Sekitar pertengahan 2019 saya mulai masuk Jawa Pos Radar Madura. Saya belum menemukan stigma itu bersemayam. Saya bersama dua teman saya yang masuk JPRM pasti juga merasakan hal yang sama. Saya disibukkan oleh urusan berita. Tidak ada kaitannya dengan ’keperluan duit’. Berita adalah satu urusan. Duit adalah urusan lain.

Saya pun berpikir,’tukang cari masalah’ dan ’keperluan duit’ pada diri wartawan ternyata stigma yang terlalu ’memukul rata’. Sebab, tidak semua wartawan terdidik dan beridentitas ’tukang cari masalah’ hanya untuk ’keperluan duit’. Mungkin ada sebagian oknum yang seperti itu. Juga, tidak menutup kemungkinan ada sebagian yang tidak seperti itu.

Di sinilah saya mengambil kesimpulan. Satu wartawan dengan wartawan lain itu tidak sama. Ketidaksamaan ini harus diposisikan sebagai tiang untuk mengibarkan bendera dialogis antara masyarakat dengan setiap individu wartawan. Masyarakat harus mengenal setiap sosok wartawan. Sebab, apa yang dilakukan satu wartawan belum tentu dilakukan wartawan lain.

Tiga Pengalaman

Pada 2020, dalam perjalanan karir saya menjadi wartawan, ada tiga hal yang barangkali tidak bisa saya lupakan. Pertama, saya pernah meliput oknum LSM yang menjadi tersangka kasus pemerasan. Oknum LSM tersebut meminta uang kepada Kades. Jika Kades tersebut tidak memberikan uang, si oknum LSM akan menulis berita yang negatif tentang si Kades.

Kedua, saya pernah dipanggil oleh oknum anggota DPRD. Pada saat itu, saya mengira untuk keperluan berita. Perkiraan saya benar. Namun, ada hal lain. Saya diminta untuk menulis berita demi kepentingan pragmatis. Berita saya diminta untuk ditulis dengan isi attack ke salah satu kontraktor dengan tujuan pragmatis setelahnya.

Ketiga, saya pernah menerima curhatan dari salah seorang kontraktor. Melalui saluran telepon itu dia bercerita tentang seorang oknum wartawan yang mendatanginya meminta uang dengan jumlah sekian. Keberanian wartawan meminta uang karena melihat proyek yang digarapnya tidak beres.

Saya tidak mengeneralkan semua LSM itu sama, anggota DPRD itu sama, dan wartawan yang diceritakan oleh kontraktor tadi itu sama. Saya lebih cenderung melihat kasus demi kasus, oknum demi oknum. Setiap kasus dengan kasus lain yang hampir sama tidak akan betul-betul sama. Satu oknum wartawan yang memeras tidak bisa disamakan dengan oknum lain yang juga berstatus wartawan. Setiap kasus itu berbeda dan setiap orang juga berbeda. Untuk itulah, sudah saatnya setiap perkara yang menyangkut wartawan harus ditinjau case by case dan tidak memukul rata.

Potensi Menyimpang

Wartawan itu profesi cukup unik. Dia bisa dekat dengan siapa pun. Semakin sering mewawancarai, ada potensi semakin dekat. Termasuk dengan pemangku kebijakan. Pemangku kebijakan tidak pernah lepas dari kepentingan. Di posisi ini ada potensi wartawan menjadi begitu dekat dengan pejabat berkepentingan. Potensi ini bisa berujung pada mengaburnya nilai-nilai objektivitas pada berita.

Suatu hari seorang teman lama datang. Dia menceritakan dirinya yang baru keluar dari tempatnya bekerja. Saya ingat kata-kata pertama yang dia katakan; profesi wartawan ini mengancam idealisme saya. Dia bercerita, betapa kedekatan dengan seseorang bisa mengeblurkan objektivitas.

Dia mengatakan, ketika objektivitas sudah ngeblur, maka karya jurnalistik pasti memihak. Bukan kepada masyarakat, melainkan kepada penguasa, kepada klien atau kepada kolega atau pejabat yang dekat secara personal dengan wartawan. Akhirnya, teman saya itu memilih menjadi penulis. ”Idealisme itu memang omong-kosong, tapi lebih suka omong kosong daripada yang lain,” kata-kata lain yang saya ingat dari dia.

Saya terngiang-ngiang perkataan Andreas Harsono dalam bukunya A9ama Saya Adalah Jurnalisme. Dalam bagian awal buku itu, Andreas mengatakan bahwa loyalitas wartawan cenderung terpecah-pecah. Pertama, kepada pembaca dan masyarakat luas. Kedua, kepada perusahaan. Ketiga, kepada klien dan pemasang iklan.

Loyalitas itu semua tidak lepas dari konsekuensi. Ke mana loyalitas jurnalisme hari ini? Menurut saya, itu kembali kepada diri setiap wartawan. Karena setiap wartawan itu tidak sama. Setiap wartawan tidak sama. Sekali lagi, setiap wartawan itu tidak sama. Selamat Hari Pers Nasional.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news