alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarmadura
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Debitur FIF Divonis Tiga Bulan Penjara

09 Februari 2021, 17: 46: 49 WIB | editor : Haryanto

Debitur FIF Divonis Tiga Bulan Penjara

Share this      

BANGKALAN - Kejadian yang dialami Moh. Hasan, 33, warga Desa Marandung, Kecamatan Klampis, harus dijadikan pelajaran. Pria tamatan SMP tersebut bersiap untuk merasakan pengapnya hidup di balik jeruji besi.

Hasan dilaporkan ke Polsek Klampis oleh Federal International Finance (FIF) Bangkalan, Rabu (10/6/2020). Dia dilaporkan karena memindahtangankan sepeda motor nopol M 2390 HT yang surat-suratnya dijadikan jaminan pinjaman ke FIF.

Atas perbuatannya, Hasan disidang di Pengadilan Negeri (PN) Bangkalan. Majelis Hakim PN Bangkalan yang diketuai Ahmad Husaini menyatakan Hasan bersalah pada sidang putusan yang dibacakan Selasa lalu (2/2). Hasan divonis tiga bulan penjara.

Recovery Section Head FIF Bangkalan Junaidi mengatakan, pihaknya tidak serta merta melaporkan debiturnya. Peristiwa yang terjadi kepada Hasan melalui beberapa tahapan dan pertimbangan sebelum membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

"Saat didatangi, motornya tidak ada. Diminta untuk membayar angsuran, ternyata tidak mau mengangsur. Setelah disomasi, tidak ada respons. Maka, kami laporkan," ucapnya kemarin (8/2).

Dijelaskan, selama memiliki tanggungan angsuran, debitur tidak boleh memindahtangankan kendaraan tanpa sepengetahuan kreditur. Sebab, tindakan tersebut melanggar Undang-Undang 42/1999 tentang Jaminan Fidusia.

"Kami berharap hal ini bisa menjadi pelajaran kepada semua debitur," ujarnya.

Dalam persidangan, Hasan didakwa melanggar pasal 23 ayat 2 juncto pasal 36 Undang-Undang 42/1999 tentang Fidusia. Dia dituntut enam bulan hukuman penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU). "Ancaman pidananya maskimal 2 tahun," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU), Aditya.

Aditya mengatakan, ada beberapa pertimbangan mengapa jaksa menuntut enam bulan penjara. Di antaranya, selama proses hukum berjalan, terdakwa kooperatif. Kemudian, terdakwa menebus kembali motor yang dipindahtangankan.

Pertimbangan lain, tidak ada alasan pemberat bagi terdakwa. Dengan demikian, hakim menjatuhi vonis tiga bulan penjara. "Terdakwa masih pikir-pikir terhadap putusan hakim. Begitu pula kami juga masih pikir pikir," katanya.

Masa pikir-pikir hanya tujuh hari setelah pembacaan putusan. Hari ini masa akhir terdakwa memutuskan menerima atau akan melakukan upaya banding. Jika tidak ada upaya hukum lanjutan, Hasan harus menjalani vonis yang ditetapkan majelis hakim.

Sementara itu, Ahmad Husaini selaku hakim ketua yang memutus perkara tersebut tidak bersedia memberikan keterangan. Dia beralasan semua jenis konfirmasi harus dilakukan melalui bagian Humas PN Bangkalan. "Kalau saya tidak boleh (memberikan komentar) karena ada kode etiknya," tukasnya. (jup/pen)

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news