alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Sanggar Makan Ati, Penggarap Lagu Pamekasan Hebat

Kepuasan Terbesar Adalah Diterima Masyarakat

06 Februari 2021, 09: 20: 59 WIB | editor : Abdul Basri

TRADISIONAL: Eko Septiawan berada di tempat penyimpanan alat sekaligus tempat latihan musik Sanggar Seni Makan Ati di Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, Selasa (2/2).

TRADISIONAL: Eko Septiawan berada di tempat penyimpanan alat sekaligus tempat latihan musik Sanggar Seni Makan Ati di Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, Selasa (2/2). (ONGKY ARISTA UA./RadarMadura.id)

Share this      

Dukungan masyarakat menjadi salah satu pemicu kelompok kesenian bertahan lama. Puluhan tahun Sanggar Seni Makan Ati melahirkan karya. Sanggar yang dulu didirikan tujuh orang kini punya 85 personel.

ONGKY ARISTA UA., Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura 

”PERTAMA sanggar ini basisnya teater. Seiring waktu karena teater butuh musik, kami terus kembangkan juga ke musik, jelas Cahyanto menjelaskan sekelumit tentang Sanggar Seni Makan Ati Pamekasan.

Siang itu, Selasa (2/2) sekitar pukul 12.00 Jawa Pos Radar Madura (JPRM) ngobrol melalui sambungan telepon dengan pria kelahiran 1979 itu. Dialah inisiator berdirinya Sanggar Seni Makan Ati.

Sanggar Seni Makan Ati dia gagas bersama, Marsiono dan lima temannya. Sanggar ini berdiri sekitar Agustus 1998. Atau, 23 tahun lalu.

Selain teater dan musik, seiring waktu Sanggar Seni Makan Ati ini kemudian menggeluti dunia tari dan seni lukis. ”Kini teater justru mulai vakum, sambung pria yang berstatus aparatur sipil negara (ASN) itu. Saat ini dia mengabdi sebagai pendidik di SMPN 3 Proppo.

Usai berbincang via telepon, JPRM bergegas menuju basecamp Sanggar Makan Ati. Tempat berproses sanggar itu berada di Jalan Pintu Gerbang, Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan. ”Di depan pom, ada gang ke barat, lalu masuk, kata Cahyanto sebelum saluran telepon JPRM terputus.

Gang dimaksud adalah Gang VII di Jalan Pintu Gerbang. Saat mulai masuk ke gang tersebut, JPRM bertanya kepada warga. ”Lurus saja ke barat sampai mentok, di situ ada halaman sanggar, kata seorang pria yang sedang memperbaiki sepeda motor bebeknya.

JPRM terus ke barat hingga akhirnya sampai ke sebuah kompleks perumahan berhalaman panjang. Sebelum masuk ke kompleks basecamp Sanggar Makan Ati, ada plang kayu bertulis Turun Lebih Sopan”. Ditujukan kepada pengendara yang hendak masuk.

Sebelum duduk di sebuah rumah milik Marsiono, JPRM disambut laki-laki berambut gondrong. Laki-laki itu adalah Marsiono. Lelaki yang tampak bukan siapa-siapa.

Saat sampai ke basecamp, JPRM bertemu dengan anak lelaki Marsiono. Eko Septiawan namanya. Anak yang didorong oleh Marsiono menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Dia yang menunjukkan tempat atau gubuk latihan Sanggar Makan Ati.

Mulai dari tempat latihan musik, tari, teater, dan tempat latihan seni rupa atau seni lukis. Yang cukup mencolok dari sekian tempat adalah tempat latihan musik. Di tempat ini banyak sekali peralaant musik. Seperti gong, bonang, demung, gendang, dan sejumlah alat lainnya.

Di dinding terdapat banner berisi tulisan tentang Sanggar Makan Ati. Sanggar ini tercatat di notaris R. Ahmad Ramali, S.H, Nomor 02 Tanggal 04 Juni 2018. Selain itu surat Menteri Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum HAM) Nomor AHU-00077864.AH.01.07.Tahun2018. 

Di depan tempat alat musik itu terhampar halaman. Halaman itulah yang menjadi tempat latihan seni dan tari. Siang itu sepi karena tidak ada jadwal latihan.

Sementara ini latihan seni rupa atau lukis masih vakum. Sedangkan latihan teater, tari, dan musik tetap berjalan. Latihan setiap malam. Namun, sejak pandemi Covid-19 menerpa, latihan tetap setiap malam, kecuali Jumat.

Setelah berkeliling, kami kembali melabuhkan tubuh di kursi rumah milik Marsiono. Di sana, JPRM berbincang tentang Sanggar Seni Makan Ati. ”Makan Ati itu akronim dari Madura Kandang Aktivitas dan Kreativitas. Bukan makan hati, terang Marsiono sambil melepas tawa.

Sanggar ini bermula dari inisiatif Cahyanto. Ide itu muncul saat tujuh orang itu sering nongkrong di pinggir jalan. Tujuh orang itu, Cahyanto, Marsiono, Totok Suhartono, Fahmi Fuad, Fariz Chalid, Ahmad D., dan Rachmad Santoso. Suatu ketika mereka mendapat undangan pentas perpisahan kelas di SMKN 1 Pamekasan. 

Sejak saat itu mulai terbersit kebersamaan, persaudaraan sesama teman. Akhirnya tercetus Sanggar Seni Makan Ati. ”Kalau saya melatih musik, ujar Marsiono. 

Dari tujuh orang itu, hanya Rahmad Santoso yang tinggal di Pademawu. Sedangkan enam orang yang lain tinggal di Kelurahan Bugih. Namun, Ahmad D. sudah meninggal dunia.

Meski demikian, sanggar ini semakin berkembang. Saat ini personel sanggar yang aktif sekitar 85 orang.

Musik yang digeluti ini musik tradisional. Dikomparasikan dengan musik-musik modern. Sehingga, tidak monoton dan masih diminati generasi penerus sampai sekarang. Sudah ada lima generasi yang lahir dari Sanggar Seni Makan Ati ini.

Dalam perkembangannya, sanggar ini juga menggarap lagu Pamekasan Hebat. Syairnya digagas bersama Bupati Baddrut Tamam. Sementara aransemennya dari sanggar.

Jika Marsiono melatih musik dan seni rupa, Cahyanto lebih menekuni bidang teater. ”Dia kalau menggarap teater apik sekali, kata Marsiono tersenyum.

Di akhir perbincangan, Marsiono mengatakan, bahwa tidak ada kepuasan tertinggi selain ide yang terus dituangkan dan pementasan yang diterima oleh masyarakat. Salah satu sebab Sanggar Seni Makan Ati bertahan, salah satunya karena ide mereka terus dituangkan dengan penuh samangat.

Penampilan kami alhamdulillah diterima masyarakat. Lingkungan kami di sini semua mendukung. Kadang menyaksikan saat kami latihan, dan itu yang terpenting mengapa sampai sekarang kami masih ada, tutupnya

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news