alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Pelukis Tamar Saraseh Tetap Produktif di Tengah Pandemi Covid-19

Manjakan Pengunjung dengan Beragam Lukisan

05 Februari 2021, 08: 15: 59 WIB | editor : Abdul Basri

ARTISTIK: Tamar Saraseh berada di Galeri Tamar Saraseh Art di Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Selasa (2/2).

ARTISTIK: Tamar Saraseh berada di Galeri Tamar Saraseh Art di Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Selasa (2/2). (JUINAIDI PONDIYANTO/RadarMadura.id)

Share this      

Merasa memiliki bakat tidak cukup untuk membuktikan kualitas hidup seseorang. Perlu ditopang dengan semangat dan belajar dengan tekun. Inilah yang dilakukan pelukis Tamar Saraseh.

JUNAIDI PONDIYANTO, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

TAMAR Saraseh lahir dan tumbuh di lingkungan pedesaan 56 tahun silam. Tamar kecil hidup seperti kebanyakan anak-anak. Bergumul di lingkungan ketat dengan ajaran nilai sosial dan keagamaan. Seperti umumnya budaya masyarakat Madura yang kental dengan ajaran religius.

Pendidikan dasarnya dia tempuh di MI Al Ittihad. Di Desa Tana Merah, Kecamatan Saronggi. Sejak saat itulah, pria kelahiran 1965 itu menyukai karya seni lukis. ”Misalnya lagi main kelereng yang kebetulan di lokasi itu ada lukisan. Saya justru lebih tertarik untuk mencermati lukisan dan kelereng saya tinggalkan,” kenang laki-laki 4 anak itu kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Selasa (2/2).

Saat kelas 4 MI oleh gurunya Tamar diminta melukis dinding kelas. Dia menggambar berbagai jenis binatang dengan peralatan seadanya. Lukisan itu diabadikan oleh pihak madrasah hingga dirinya dewasa.

Dia tidak menafikan mata pelajaraan lain saat mengenyam pendidikan. Matematika dan bahasa Inggris juga disukai. Walaupun pada akhirnya memilih untuk menekuni pelajaran seni.

Setelah lulus SPG, Tamar nekat mendaftar kuliah di IKIP Malang (Universitas Negeri Malang) dan masuk jurusan seni rupa. Taraf ekonomi keluarga yang tergolong pas-pasan tidak menyurutkan semangat Tamar untuk belajar. Awal masuk kuliah, dia disangoni Rp 60 ribu oleh orang tuanya dari hasil bertani.

Namun, uang itu tidak digunakan karena hidup Tamar mandiri sejak kuliah. Kuliah sambil bekerja di Kota Malang biasa dia lakukan. Misalnya, menjual keramik dan menerima pesanan jasa lukisan dari teman. Sampai lulus kuliah, uang dari orang tuanya itu masih tersimpan utuh.

”Uang itu saya belikan pompa air untuk orang tua karena saat itu orang tua menanam cabai dan membutuhkan pompa air,” cerita suami Anna Wiyati itu.

Di bangku kuliahlah Tamar banyak mempelajari teori seni rupa. Teknik dan cara melukis dengan menerima dan mencermati banyak karya dari pelukis-pelukis ternama. Hingga pada akhirnya, dia terus bertekad menjadi pelukis. Tanpa embel-embel bisa meraup keuntungan materi dari lukisan.

Sejak awal hanya untuk mengekspresikan diri, baik untuk mencerminkan kondisi kehidupan atau hanya memenuhi unsur estetika. Walaupun pada akhirnya, banyak karya lukis ciptaannya disukai kolektor dan terjual. Tak hanya di dalam negeri, karyanya bersaing di tingkat internasional.

Misalnya, di India, Swiss, Jerman, dan negara lain. Hal itu diketahui setelah mengikuti pameran atau langsung dihubungi teman. ”Saya anggap itu perantara yang disiapkan Tuhan untuk saya karena saya melukis bukan untuk mendapatkan reward atau materi,” ucapnya.

Bagi Tamar, menciptakan lukisan tidak perlu terbebani aliran tertentu. Membebaskan imajinasi membentuk ide kreativitas membuatnya lebih menghasilkan karya maksimal. Sesuai keinginannya menjadi seorang yang bebas, santai, disiplin, dan kreatif.

Bebas dalam berkarya dilakukan dengan perasaan santai. Tetap disiplin untuk konsisten berkarya dengan terus mengasah kemampuan. Waktu melukis juga tidak perlu terpengaruh siapa pun.

Puncak kegilaannya pada seni lukis terjadi 2015. Dalam setengah tahun hari-harinya penuh dengan aktivitas melukis. Setelah subuh hingga berangkat mengajar ke SMPN 2 Saronggi, Tamar berjibaku dengan kanvas. Lalu, dilanjutkan sepulang mengajar. Berhenti hanya untuk salat, makan, dan istirahat.

Kegiatan itu dilalui tanpa berpikir akan menjual lukisan. Melainkan, sebagai wujud mengekspresikan diri atas bakat yang dimiliki. Baginya, menyimpan karya adalah impian lama yang belum terwujud.

Sejauh ini, lukisannya selalu diminati penikmat seni. Kemudian, diboyong dari kediaman Tamar. Bagi sebagian orang mungkin menyimpan lukisan yang belum laku adalah penderitaan. ”Bagi saya, inilah yang harus dinikmati sebagai seniman seni lukis,” urainya.

Ornamen lukisan artistik terlukis besar pada dinding ruang tamu Tamar. Salah satu ruang khusus menjadi galeri lukisan. Setiap pengunjung yang datang akan dimanjakan dengan beragam lukisan karyanya yang menghiasi dinding Galeri Tamar Saraseh Art itu. Dari fenomina alam, kritik sosial, persoalan asmara, dan lainnya.

Di tempat itulah pria tiga cucu itu menghabiskan waktunya untuk melukis. Tantangan seorang seniman ialah dituntut terus menemukan ide baru. Sebab, menjiplak atau meniru karya orang lain adalah aib bagi seniman. Kecuali, sebatas menjadi referensi karena setiap pelukis pasti memilki karakter berbeda.

Di tengah pandemi Covid-19, Tamar aktif mengikuti pameran virtual. Karyanya disandingkan dengan karya lukisan pelukis dari berbagai negara. Pada penghujung 2020, dia menjadi peserta tamu Art Camp dan Art Exhibition dari Indonesia.

Sejumlah penghargaan lain juga biasa diterima dari ketekunan melukis. Salah satu yang diingat ialah pernah dinobatkan sebagai karya terbaik pada Art Freak Global 2018 dan 2019. ”Banyak yang lupa karena saya memang bukan pengarsip dokumen yang baik. Tapi, tidak apalah, yang penting saya tetap bisa terus berkarya,” jelasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news