alexametrics
Sabtu, 06 Mar 2021
radarmadura
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Polisi Jemput Paksa Subiyakto

Kuasa Hukum Belum Dapat Surat Penahanan

03 Februari 2021, 07: 30: 59 WIB | editor : Abdul Basri

SUBIYAKTO  Tersangka dugaan penganiayaan.

SUBIYAKTO Tersangka dugaan penganiayaan. (RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Polisi masuk kantor Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep Selasa (2/2). Mereka menjemput Kabid Pemuda dan Olahraga Subiyakto. Dia dibawa ke Polres Sumenep terkait kasus dugaan penganiayaan yang membelitnya.

Satu unit mobil bertulis Resmob Reskrim Polres Sumenep berhenti di depan kantor tersangka sekitar pukul 09.00. Yaitu di Jalan Gotong Royong Nomor 1, Kelurahan Pajagalan, Sumenep. Sampai di kantor yang menghadap Lapangan Kesenian Sumenep (LKS) itu, polisi naik ke lantai dua.

Tak lama setelah itu, polisi turun dan keluar ke halaman kantor bersama Subiyakto. Selanjutnya Subiyakto masuk ke mobil Mercy miliknya. Lalu, bergegas keluar area kantor ke arah utara menuju Jalan Panglima Sudirman. Dia dikawal mobil Resmob Satreskrim Polres Sumenep.

Peristiwa penjemputan itu disaksikan oleh sebagian pegawai disparbudpora. Salah seorang staf mengaku menyaksikan penjemputan Subiyakto. Dia melihat polisi dengan senjata lengkap. Ada juga yang berpakaian preman.

Mereka datang dan langsung menuju ruang Subiyakto di lantai dua. ”Lalu bergegas bersama dengan Pak Subiyakto,” kata pegawai yang meminta namanya tidak dikorankan itu kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Budi Sampurno selaku kuasa hukum Subiyakto membenarkan penjemputan paksa oleh polisi terhadap kliennya. Menurut dia, ada yang janggal dari tindakan yang dilakukan oleh anggota Satreskrim Polres Sumenep. ”Ya, ditangkap dan dijemput paksa. Pertanyaan saya, urgensinya apa?” katanya.

Dia menjelaskan, sampai saat ini belum ada surat resmi penangkapan terhadap tersangka. Menurut dia, sebelum satu kali dua puluh empat jam belum bisa disebut penahanan. ”Setelah satu kali dua puluh empat jam baru penahanan namanya. Saya belum dapat surat penahanannya,” paparnya. 

Sementara itu, Kasubbaghumas Polres Sumenep AKP Widiarti membenarkan penjemputan paksa terhadap Subiyakto. Menurut dia, anggota resmob satreskrim yang menjemput paksa menggunakan satu unit mobil. ”Ya, dijemput paksa ke kantornya,” katanya.

Namun, mantan Kapolsek Kota Sumenep itu tidak menjelaskan alasan upaya polisi menjemput tersangka. Dia berdalih, polres akan merilis secara resmi setelah memperoleh data dari penyidik. ”Selebihnya saya tidak tahu. Nanti saja rilis resminya yang jelas dijemput paksa,” janji perempuan berkerudung itu.

Kasus dugaan penganiayaan tersebut terjadi di tepi Jalan Angkasa, Perumahan Satelit, Desa Pabian, Kota Sumenep, Rabu (13/1). Korban atas nama Alwi Bil Faqih, 28, warga Jalan Kartini Nomor 534, Desa Pangarangan, Kota Sumenep.

Sebelum kejadian, Alwi Bil Faqih berhenti di sebuah toko untuk membeli minuman. Lalu, ada satu unit mobil berhenti tepat di sisi kanan pria 28 tahun itu. Kemudian, pria dari dalam mobil itu membuka pintu mobil hingga mengenai Alwi.

Akibatnya, Alwi terjatuh. Setelah Alwi berdiri, seorang yang diduga Subiyakto itu menggores siku tangan kiri pelapor menggunakan cutter. Usai melukai, pria itu masuk ke mobilnya, lalu melaju ke selatan.

Polres Sumenep kemudian menetapkan Subiyakto sebagai tersangka Senin (25/1). Penetapan tersangka setelah polisi melakukan gelar perkara dan menyimpulkan Subiyakto terbukti melakukan penganiayaan. 

Selanjutnya, penyidik memanggil Subiyakto sebagai tersangka Kamis (28/1). Menurut Kasatreskrim AKP Dhany Rahadian Basuki, Subiyakto mengaku melakukan penganiayaan terhadap Alwi Bil Faqih. Kepada penyidik, warga Jalan Aquarius, Desa Pabian, Kota Sumenep, itu mengaku memukul pelapor dengan helm. Laporan Alwi Bil Faqih yang menyatakan siku kirinya digores pakai cutter dibantah.

Dalam perkembangannya, Subiyakto mengungkap kejanggalan penyidik satreskrim dalam menangani perkara yang membelitnya. Budi Sampurno, kuasa hukum Subiyakto, mengungkapkan, ada saksi terkesan diculik oleh penyidik. Saksi tersebut merupakan sopir dari Subiyakto pada saat kejadian.

Menurut dia, berdasarkan pengakuan saksi, penyidik tidak melakukan pemanggilan terlebih dahulu kepada saksi tersebut untuk menghadap. ”Saksi ini ditangkap lalu dibawa ke Polres Sumenep dan diminta untuk mengucapkan keterangan seperti yang sudah ditulis oleh penyidik,” ungkap Budi Senin (1/2).

Kasatreskrim Polres Sumenep AKP Dhany Rahadian Basuki tidak banyak menanggapi tudingan intimidasi kepada saksi. Dia mempersilakan agar dilaporkan ke pengamanan internal (paminal).

(mr/rus/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news