alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Syaikhona Kholil Didik Santri Ilmu Agama dan Cinta Tanah Air (3–Habis)

Ajak Santri dan Ulama Pulang ke Tanah Air

03 Februari 2021, 10: 20: 59 WIB | editor : Abdul Basri

TERBUKTI: Sampul Al-Qaul al-Sharih fi Manaqibi Syaikh al-Masyayikh Kiagus Muhammad Sholih.

TERBUKTI: Sampul Al-Qaul al-Sharih fi Manaqibi Syaikh al-Masyayikh Kiagus Muhammad Sholih. (UTSMAN HASAN FOR RadarMadura.id)

Share this      

Syaikhona Muhammad Kholil menjadi titik sentral penempaan dan pembibitan calon pejuang dan pahlawan. Fakta sejarah itu terungkap dalam kesaksian KH Saleh Lateng Banyuwangi.

DAFIR FALAH, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

SYAIKHONA Muhammad Kholil Bangkalan tidak hanya berpengaruh di nusantara. Putra Kiai Abdul Latif itu juga disegani di tanah Arab. Fakta tersebut ditemukan dalam biografi muridnya, Kiai Muhammad Sholih, atau lebih dikenal dengan nama Kiai Saleh, Lateng, Banyuwangi.

JADI JUJUKAN: Makam Syaikhona Muhammad Kholil di Desa Martajasah, Bangkalan, tidak pernah sepi peziarah.

JADI JUJUKAN: Makam Syaikhona Muhammad Kholil di Desa Martajasah, Bangkalan, tidak pernah sepi peziarah. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Dalam biografi tersebut dikisahkan tentang Kiai Muhammad Saleh saat masih belajar di Makkah. Suatu ketika Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan datang ke Makkah. Saat itu, Kiai Muhammad Saleh berada di Makkah selama enam tahun.

Jumhur ulama menjemput kedatangannya di Jeddah. Kedatangan beliau disambut dengan meriah. Sebab, Syaikhona seorang pembesar dari para ulama di dunia yang menjabat sebagai wali qutub.

Para ulama Haram menampatkan Syaikhona Muhammad Kholil sebagai sosok yang alim yang patut dihormati. ”Seandainya masyarakat Surabaya mengetahui derajat Kiai Kholil, niscaya mereka akan mengunjunginya setiap saat,” kata mereka sebagaimana ditulis dalam bahasa Arab di biografi tersebut.

Komitmen kebangsaan dan cinta tanah air Syaikhona Muhammad Kholil terungkap ketika dia hendak kembali ke Indonesia. Suatu ketika terjadi dialog dengan Kiai Saleh.

Katanya, ”Leh, ba’na kodu mole karana nagarana ba’na rosak (Leh, kamu harus pulang karena negaramu sedang kacau).”

Si murid segera menimpali, ”Sami’na wa atha’na.” Namun Kiai Saleh minta tempo satu tahun lagi untuk kembali ke Banyuwangi. Sebab, dia masih ingin melanjutkan pengembaraan ilmunya di Makkah. Dan gurunya memberi tempo satu tahun.

Kisah tersebut tertulis dalam manuskrip berjudul Al-Qaul al-Sharih fi Manaqibi Syaikh al-Masyayikh Kiagus Muhammad Sholih. Biografi ini ditulis Syekh Suhaimi Rofiudin Kampung Melayu Banyuwangi pada 1961 M. Kemudian, direvisi pada 1964. Lalu, disempurnakan lagi pada 1977 M. Keterangan dan foto biografi itu Jawa Pos Radar Madura (JPRM) peroleh dari Utsman Hasan selaku ketua Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil.

Perlawanan Syaikhona Muhammad Kholil kepada pemerintahan kolonial Belanda memang tidak terlibat adu fisik langsung. Namun, menebarkan semangat nasionalisme melalui jalur pendidikan kepada santri-santrinya.

Tidak heran jika hampir semua santrinya menjadi pejuang gigih. Sebut saja KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Abdul Karim Lirboyo, KH Muhammad Shiddiq, KH Bisri Syansuri, Kiai Munawwir Krapyak, Kiai Maksum Lasem, KH Abdullah Mubarok, dan KH Saleh Lateng Banyuwangi.

Santri-santri Syaikhona itu yang kemudian terangkai sebagai jejaring penebar pemikiran dan gerakan sang guru. Mereka secara aktif menguatkan perjuangan agama dari kalangan pesantren. Pemerintah Hindia Belanda pun mengakui jika perlawanan-perlawanan yang muncul di seantero Jawa dan nusantara berasal dari kaum santri.

Saat kondisi tanah air sedang dalam ancaman, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan pemerintahan Hindia Belanda, Syaikhona Muhammad Kholil kembali melakukan gerakan nasional. Putra Madura itu mengajak jejaring santri dan ulama di hijaz (Makkah dan Madinah) untuk pulang ke Indonesia.

Ketua Tim Kajian Akademik dan Biografi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan Dr Muhaimin mengungkapkan, bukti sejarah itu tertuang dalam manuskrip santri-santrinya. Termasuk, kesaksian KH Saleh Lateng Banyuwangi. Sebagai santri, dia diminta pulang oleh Syaikhona ke tanah air untuk mengabdikan diri mendidik santri dan berjuang mengawal pergerakan. Namun, Kiai Saleh meminta waktu satu tahun untuk menuntaskan mengaji di hijaz.

”Cepat pulang, Leh (KH Saleh Lateng Banyuwangi). Tanah air sekarang gawat. Tidak nyaman dan juga ketidakadilan,” kata Muhaimin menirukan perintah Syaikhona Kholil kepada Kiai Saleh yang diperintahkan pulang.

Nasionalisme yang dibangun melalui jejaring ulama santri di hijaz tidak lepas dari ajakan Syaikhona untuk peduli dan memikirkan nasib bangsa Indonesia kala itu. Dia menggalang kekuatan di Arab Saudi ketika menuntut ilmu di Makkah dan kembali untuk melaksanakan ibadah haji.

Syaikhona Kholil berinteraksi secara kuat dengan komunitas keturunan Indonesia di Makkah memikirkan kondisi dan kelanjutan bangsanya. Dia memikirkan bagaimana melepaskan Indonesia dari penindasan, ketidakadilan, dan penderitaan rakyat akibat kolonialisme yang terjadi waktu itu.

Tujuan akhir nasionalisme dari pemikiran dan gerakan Syaikhona Kholil adalah pembebasan dari penjajahan. Juga untuk menciptakan masyarakat yang adil dan tidak ada lagi yang mendapatkan penindasan atau sejenisnya.

Upaya itu dilakukan melalui pemberdayaan jalur pendidikan Islam dan penanaman nasionalisme hingga gerakan perlawanan. ”Itu muncul dari Syaikhona yang kemudian diimplementasikan oleh santri-santrinya,” tandas Muhaimin.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news