alexametrics
Sabtu, 06 Mar 2021
radarmadura
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Ajak Teman Bunuh Pacar, Dua Tersangka Putus Sekolah

02 Februari 2021, 17: 06: 53 WIB | editor : Abdul Basri

TAK BERKUTIK: Kapolres AKBP Abdul Hafidz merilis IS dan P di halaman belakang Mapolres Sampang

TAK BERKUTIK: Kapolres AKBP Abdul Hafidz merilis IS dan P di halaman belakang Mapolres Sampang (MOH. IQBAL/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Misteri penemuan mayat di Desa Paopale Laok, Kecamatan Ketapang, Sampang, terungkap. Mayat perempuan itu korban pembunuhan. Polisi telah menangkap dua orang yang diduga sebagai pelaku. Dia adalah pacar korban bersama temannya.

Mayat yang ditemukan tersebut adalah S, warga Kecamatan Ketapang. Gadis 16 tahun tersebut meninggal dunia karena dibunuh oleh pacarnya sendiri. Yakni IS, 17, warga Kecamatan Banyuates dan P, 16, warga Kecamatan Ketapang, Sampang.

Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (19/1). Sekitar pukul 12.00 S menghubungi IS melalui saluran telepon. Pelajar SMP itu mengajak pacarnya bertemu di salah satu bukit di Desa Paopale Laok, Kecamatan Ketapang.

Mendengar ajakan pacarnya, IS mendatangi rumah P. Jaraknya sekitar 500 meter dari rumah IS. Kemudian, mereka berjalan kaki sekitar 1 kilometer ke perbukitan Desa Paopale Laok, Kecamatan Ketapang.

Sesampainya di perbukitan tersebut, IS bertemu dengan S. Saat itu keduanya bertemu di salah satu gua. Dalam pertemunnya itu S mengaku sedang hamil tiga bulan atas perbuatan mereka pada Oktober 2020. Peristiwa itu terjadi di rumah tersangka IS.

Mendengar pengakuan itu, IS pun panik. Seketika membenturkan kepala kekasihnya ke batu. Benturan itu dilakukan hingga empat kali. Saat itu korban masih setengah sadar. Lalu, IS mengambil kerudung S dan disumpalkan ke mulutnya.

Keberingasan IS tidak berhenti sampai di situ. Tangan kanannya mencekik leher korban dan tangan kirinya menutup mata S. Sementara kedua lututnya menekan kedua tangan korban.

Dengan sisa-sisa tenaga, S terus memberontak berusaha untuk menyelamatkan diri dari pacarnya yang sedang gelap mata itu. Saat itu S masih bisa bernapas.

Melihat perempuan itu masih hidup, IS memanggil P. Saat itu P berada sekitar 3 meter dari tempat kejadian perkara (TKP). P segera mendekat. Dia membantu menginjak kaki dan memegangi tangan korban. Sedangkan IS terus mencekik leher S.

Berselang sekitar 15 menit kemudian S meninggal dunia. Setelah ”melaksanakan tugas”, P disuruh pergi meninggalkan gua dan menunggu di atas bukit oleh IS. Sementara IS melanjutkan aksi brutalnya.

Dia membuka semua pakaian korban. Lalu, menaruh pakaian itu di dekat kepala korban. Cara itu dilakukan agar S disangka korban pemerkosaan apabila ada orang yang menemukannya. Setelah itu, IS dan P pulang ke rumah masing-masing.

Kronologi itu diungkapkan Kapolres Sampang AKBP Abdul Hafidz kemarin (1/2). Hafidz mengatakan, peristiwa tersebut berawal dari jalinan asmara antara IS dan S. Keduanya menjalin hubungan tersebut selama 6 bulan. Kemudian, S mengaku hamil. ”IS dimintai pertanggungjawabannya, tapi tidak mau. Akhirnya, IS membenturkan kepala korban beberapa kali,” katanya.

Pengungkapan kasus tersebut bermula saat di wilayah utara Sampang ramai informasi anak perempuan hilang. Sembilan hari kemudian, ditemukan sesosok mayat di bebukitan. Polisi langsung bergerak melakukan evakuasi dan otopsi.

 ”Dari otopsi itu, hasil yang kita dapat adalah kematian yang tidak wajar. Kepalanya memar,” ucap Hafidz.

Dua hari dari penemuan mayat tersebut pihaknya melakukan penyelidikan lebih lanjut. Melakukan penelusuran dan pendalaman informasi lebih lanjut. Informasi yang diperoleh mengerucut pada IS.

IS itu ditangkap Sabtu (30/1). Remaja putus sekolah kelas IV MI itu diringkus di rumahnya. ”Saat ditangkap, yang bersangkutan juga mengakui bahwa melakukan pembunuhan kepada korban,” ucap Hafidz.

Kemudian, polisi melakukan pengembangan. Pada hari yang sama petugas berbaju cokelat itu menangkap P di rumahnya. Sampai saat ini tidak ada tersangka lagi. Tapi, Polres Sampang akan terus lakukan pengembangan apakah ini pembunuhan berencana atau tidak. ”Kedua tersangka diancam hukuman 20 tahun penjara,” tutup Hafidz.

Kasus tersebut membuat aktivis perempuan dan anak Sitti Faridah merasa dilematis. Sebab, terangka dan korban sama-sama masih di bawah umur. Namun, dia meminta agar proses hukum terhadap tersangka harus diberikan perlakuan khusus sesuai dengan undang-undang.

”Ini juga merupakan perbuatan yang keji. Selain membunuh ibunya, ini juga membunuh bayi yang ada di kandungannya,” katanya.

Sitti Faridah menyatakan, persoalan tersebut harus menjadi perhatian semua pihak. Terutama penanganan dari pemerintah daerah. Semua pihak harus bersinergi menangani perlindungan terhadap anak.

Termasuk, melakukan terobosan untuk menekan kekerasan dan dekadensi moral anak. ”Ini merupakan contoh yang parah. Semuanya harus bersinergi,” katanya. (iqb)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news