alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Syaikhona Kholil Didik Santri Ilmu Agama dan Cinta Tanah Air (1)

Sampaikan Narasi Perjuangan melalui Mimbar

01 Februari 2021, 17: 45: 08 WIB | editor : Abdul Basri

DOKUMEN OTENTIK: Ketua Tim Kajian Akademik dan Biografi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan Dr. Muhaimin menunjukkan cetak ulang manuskrip Syaikhona Muhammad Kholil.

DOKUMEN OTENTIK: Ketua Tim Kajian Akademik dan Biografi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan Dr. Muhaimin menunjukkan cetak ulang manuskrip Syaikhona Muhammad Kholil. (DAFIR FALAH/RadarMadura.id)

Share this      

Semangat nasionalisme sudah digelorakan Syaikhona Muhammad Kholil. Dalam selipan kitabnya dia menulis ”hubbul awthan minal iman”.

DAFIR FALAH, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

KIPRAH Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dalam membangkitkan semangat nasionalisme tidak perlu diragukan. Terutama, di kalangan pesantren. Secara masif terus menggelorakan nilai-nilai nasionalisme kepada santri.

Dia menjadi episentrum penanaman cinta kepada tanah air sebagai pemantik untuk melawan penjajah. Perlawanan kultural itu didengungkan secara rutin. Terutama setiap kali memberikan pengajian kepada santri-santrinya.

Alhasil, ketika santri-santrinya pulang dan terjun ke masyarakat, mereka membuktikan dengan cara perlawanan kepada kolonial Belanda. Sebagai wajud nyata dari nilai-nilai nasionalisme.

Inisiator-inisiator gerakan perlawanan di Tapal Kuda mayoritas santri-santri Syaikhona Muhammad Kholil. Bahkan, dalam catatan tulisan tangan Syaikhona Muhammad Kholil sendiri didapati tulisan yang bersinggungan dengan nasionalisme.

Catatan tersebut masih tertuang dalam manuskrip asli Syaikhona. Ulama yang wafat pada 1925 itu menulis Qasidah Wasiat bi al-Taqwa. Terdiri atas sepuluh bait tentang nasihat agama. Syaikhona Kholil menukil syiir gubahan Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad itu dalam tiga halaman.

Pada halaman dua di bait ke-6, tepatnya di syiir ”Wama hadzihi al-dunya bidari iqamatin/ wama hiya illa ka al-thoriqi ila al-wathoni” menggunakan aksara Arab. Dua baris syair itu berarti ”Dunia ini bukan rumah tinggal (abadi), tidaklah dunia ini melainkan ibarat jalan menuju negeri abadi. Di kata terakhir (al-wathoni), Syaikhona Kholil memberi catatan ”hubbu al-awthan min al-iman” atau cinta tanah air sebagian dari iman.

Dr Muhaimin selaku ketua Tim Kajian Akademik dan Biografi Syaikhona Muhammad Kholil mengutarakan, Syaikhona menggelorakan semangat perjuangan melalui pengajian. Syaikhona selalu menyelipkan semangat cinta tanah air. ”Hal itu tertuang dalam manuskrip Syaikhona sendiri yang ditulis di sela-sela kitabnya,” kata dia.

Menurut Muhaimin, semangat perjuangan, cinta tanah air, dan bangkit melawan kezaliman Pemerintah Hindia-Belanda selalu digelorakan oleh Syaikhona dari mimbar musala pengajian Pondok Demangan. Fakta tersebut diperkuat oleh pernyataan KH Syarifuddin Damanhuri, ketua MUI Bangkalan.

”Kakek dari KH Syarifuddin Damanhuri itu merupakan santri Syaikhona Muhammad Kholil,” ujarnya.

Menurut Muhaimin, ketua MUI itu mengungkapkan bahwa Syaikhona Muhammad Kholil intens menyampaikan narasi-narasi perjuangan melalui mimbar pengajian di musala Ponpes Demangan. Sehingga, membuat pemerintahan Belanda gusar. ”Kiai Syarifuddin itu dapat kisahnya dari Kiai Damanhuri, dan Kiai Damanhuri mendapatkan riwayat kisah dari Kiai Abdul Mu’thiy yang tiada lain adalah kakek dari Kiai Syarifuddin Damanhuri,” tuturnya.

Muhaimin menyampaikan, manuskrip itu sebagai bukti otentik yang tidak bisa dibantahkan.  Penanaman rasa kebangsaan kepada santri ditegaskan bahwa mencintai bangsanya merupakan bagian dari iman.

”Di samping pelajaran pokok, yakni agama, juga menyelipkan ajaran tentang nilai-nilai nasionalisme kepada para santri di tengah pergolakan kolonialisme Belanda di nusantara,” sebutnya.

Komitmen kebangsaan Syaikhona Muhammad Kholil itu diimplementasikan dalam dunia pendidikan dengan menanamkan tentang nilai-nilai nasionalisme dalam perspektif Islam. Penanaman nasionalisme begitu masif dan intensif disampaikan kala itu. Mengingat pada waktu itu, Indonesia masih berada dalam genggaman jajahan Belanda.

Menurut Muhaimin, tidak dapat dibayangkan, bagaimana metode, cara, dan teknik yang disampaikan Syaikhona Muhammad Kholil untuk menanamkan semangat. Alhasil, dalam diri santri-santrinya begitu terpatri gemuruh semangat nasionalisme yang sama dalam diri para murid- muridnya.

”Pemantik itu oleh para santrinya dijadikan landasan pembentukan karakter untuk mencintai tanah air dan bangsa. Lalu, diimplementasikan dalam berbagai bentuk perlawanan secara kultural dan fisik oleh santri-santri Syaikhona Muhammad Kholil di berbagai wilayah nusantara, terutama di Pulau Jawa dan Madura,” tuturnya.

Keteguhan sikap ditunjukkan dengan penegasan respons Syaikhona Muhammad Kholil terhadap Pemerintah Hindia Belanda yang mengibaratkan sebagai pencuri yang wajib dipotong tangan dan kakinya. ”Hal itu terungkap dalam manuskrip yang ditemukan berupa tulisan tangan Syaikhona Muhammad Kholil sekitar 2018 itu,” tandasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news