alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Masjid Anwar Jangkebuan Titik Awal Cikal Bakal Kelahiran NU

01 Februari 2021, 17: 15: 52 WIB | editor : Abdul Basri

BERPENGARUH: Sketsa Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan karya Ketua Lesbumi NU Jawa Timur Nonot Sukrasmono.

BERPENGARUH: Sketsa Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan karya Ketua Lesbumi NU Jawa Timur Nonot Sukrasmono. (Mohammad Nasih Aschal for RadarMadura.id)

Share this      

JEJAK perjuangan Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan luar biasa. Guru para pahlawan nasional itu berkontribusi besar atas kemerdekaan negeri ini. Hal itu bisa dibuktikan dengan temuan manuskrip tulisan tangan Syaikhona Muhammad Kholil.

Selain itu didukung oleh pengakuan santri-santrinya yang sudah didapuk menjadi pahlawan nasional terlebih dahulu. Salah satunya KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo. Selain puluhan manuskrip, masih banyak bukti sejarah terkait ulama kelahiran Bangkalan 1835 itu.

Di antara sekian banyak tempat itu bersejarah adalah Masjid Anwar Jangkebuan. Masjid ini ada di Jalan KH Moh. Toha, Pangeranan, Bangkalan. Masjid ini menjadi lokasi awal cikal bakal kelahiran organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU). Dalam penuturan KH As’ad Syamsul Arifin, di masjid inilah 60 ulama berkumpul untuk sowan Syaikhona Muhammad Kholil.

JEJAK SEJARAH: Mufti Sohib, anggota Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil, menunjukkan Masjid Anwar Jangkebuan yang dijadikan tempat pertemuan 60 ulama nusantara.

JEJAK SEJARAH: Mufti Sohib, anggota Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil, menunjukkan Masjid Anwar Jangkebuan yang dijadikan tempat pertemuan 60 ulama nusantara. (DAFIR FALAH/RadarMadura.id)

Ketua Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan Ra Utsman Hasan menyampaikan, Syaikhona Muhammad Kholil diperkirakan lahir 1835 masehi. Sebelum usia 9 tahun menempuh pendidikan di Jawa. Di antaranya, pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Sidogiri dan Pondok Pesantren Cangaan Bangil, Pasuruan. Selain itu di Bungah, Gresik dan Langitan, Tuban.

Lalu, sekitar usia 9 tahun melanjutkan studi ke Makkah. Hal itu termaktub dalam manuskrip Syekh Yasin Bin Isa al-Fadani. ”Kurang lebih di Makkah itu mondok selama lima tahun,” sebutnya.

Setelah lima tahun, dia pulang ke Madura. Tetapi, pada masa itu dia sering bolak-balik ke Tanah Suci. Kemudian, menikah dengan Nyai Asyik, putri Lodra Putih. Tetapi, sebelum menikah, setelah kembali ke Madura, sempat bekerja pada Keraton Bangkalan sebagai penjaga malam. Lalu, diangkat sebagai pengajar agama di keluarga keraton. ”Sekitar 1861 Syaikhona menikah dengan Nyai Asyik,” terangnya.

Dari hasil pernikahan dengan Nyai Asyik dikarunia seorang putri bernama Nyai Khotimah. Kemudian, dinikahkan dengan KH Muntaha dan menetap di Jangkebuan. Sekitar tahun 1877, pondok pesantren Jangkebuan diserahkan kepada menantunya, KH Muntaha. Sementara Syaikhona Muhammad Kholil pindah ke Demangan hingga wafat pada 1925.

Di Ponpes Demangan Bangkalan, Syaikhona mendidik santri dari seluruh penjuru nusantara. Jebolan ulama besar mayoritas menimba ilmu ke Demangan. Bahkan, dalam catatan Snouck Hurgronje disebutkan bahwa Bangkalan sejak awal telah dinilai menjadi sentral jejaring ulama-santri di Jawa. Snouck Hurgronje adalah penasihat Pemerintah Hindia-Belanda yang pura-pura masuk Islam.

Sebab, ketika Snouck Hurgronje keliling ke Jawa, matanya tertuju pada Bangkalan. Yakni ponpes di Demangan. Akan tetapi, temuan mata-mata Belanda itu tidak begitu dihiraukan karena Belanda menafikan kekuatan tanah Madura.

Posisi sentral Bangkalan dalam jejaring ulama-santri tidak lepas dari keberadaan Syaikhona Muhammad Kholil sebagai mahaguru ulama nusantara. Pada era revolusi kemerdekaan, santri-santrinya telah menjadi garda paling depan melawan agresi militer Belanda kala itu.

Dalam catatan Snouck Hurgronje, di Jawa Barat telah tersiar sebuah tradisi masantren dan ngetan. Yaitu sebuah tradisi pengembaraan ilmu ke pesantren-pesantren ke arah timur. ”Ternyata puncaknya, destinasi pengembaraan ilmiah para santri itu bermuara ke Bangkalan. Setelah mondok ke mana-mana, tetapi proses pentahbisan keilmuannya itu di Bangkalan,” ungkap Ra Utsman.

Hasan Mustafa, teman Snouck Hurgronje, menyebutkan bahwa puncak masantren itu ke Syaikhona Muhammad Kholil di Demangan, Bangkalan. ”Hasan Mustafa itu tokoh penting dalam kesusastraan Sunda,” kata Ra Utsman.

Selain ajaran agama Islam, Syaikhona Muhammad Kholil juga menyampaikan tentang isu-isu nasionalisme kepada santri. Yakni, kecintaan pada tanah air. Bukti bahwa Syaikhona kerap menerangkan demikian itu dikuatkan oleh manuskrip yang ditemukan melalui catatan Syaikhona tentang hubbul awthan minal iman. ”Juga didukung dengan posisi Syaikhona sebagai keluarga keraton yang pada saat itu ditekan habis-habisan oleh Belanda,” ucapnya.

Pada 1920 terjadi kegelisahan nasional dengan ancaman modernis, gerakan pembaruan dan sebagainya. Kiai-kiai nusantara yang notabene santri Syaikhona mau menghadap langsung ke Demangan. Namun, saking takzimnya santri kepada guru, ulama-ulama tersebut tidak berani ke Demangan. Para ulama itu sowan ke Jangkebuan. Ke menantunya, KH Muntaha.

Sebanyak 66 ulama yang tersebar se-nusantara berkumpul di Jangkebuan. Tetapi, sebelum Kiai Muntaha menyampaikan maksud kedatangan para ulama, Syaikhona sudah tahu dan mengutus santrinya, Kiai Nasib, dari Demangan untuk menjawab keresahan mereka.

Santrinya hanya disuruh menyampaikan ayat Al-Qur’an. Ayat tersebut menegaskan bahwa orang-orang kafir itu hendak memadamkan cahaya Allah dengan lisan-lisan mereka. Tetapi, Allah tetap akan menyempurnakan nurnya, meskipun orang-orang kafir itu tidak senang.

”Dengan jawaban itu, meskipun para ulama tidak bertemu dengan Syaikhona dianggap sudah selesai dan ulama-ulama merasa puas dengan isyarah dari Syaikhona,” tuturnya.

Jawaban ayat tersebut memberikan isyarah bahwa segetol apa pun orang-orang kafir ingin memadamkan cahanya Allah, yaitu Ahlusunah Waljamaah, tidak akan mengancam eksistensi Aswaja sedikit pun. Pertemuan para ulama di Jangkebuan itu juga sebagai bukti cikal bakal kelahiran NU. ”Karena kala itu ada ancaman terhadap eksistensi ahlussunnah waljamaah. Karena itu, para ulama itu sowan ke Syaikhona. Tetapi, dijawab dengan ayat tersebut,” jelasnya.

Empat tahun setelah pertemuan tersebut, tepatnya pada 1924, Syaikhona mengutus santrinya, KH As’ad Syamsul Arifin ke Jombang untuk mengantarkan tongkat. Sebab, kondisi bangsa saai itu kian tertekan atas ganggguan penjajah. ”Karena saat itu KH Hasyim Asy’ari Jombang didesak untuk mendirikan jam’iyyah,” tuturnya.

KH As’ad Syamsul Arifin mengantar tongkat dengan pesan ayat Al-Qur’an. Ayat itu tentang kisah Nabi Musa beserta tongkatnya. Makna isyarahnya, bahwa tongkat yang diberikan Syaikhona kepada pendiri NU itu diartikan sebagai simbol proses pergerakan.

”Tongkat itu melambangkan pergerakan. Karena dengan tongkat itu ketika masa Nabi Musa, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an, bisa berubah jadi ular untuk memakan ular-ular ilusi Fir’aun,” ucapnya.

Mendengar penuturan Kiai As’ad, KH Hasyim Asy’ari semakin mantap untuk mendirikan organisasi. Karena Kiai Hasyim menilai jika tongkat itu sebagai isyarah pergerakan dari Syaikhona.

Utsman mengatakan, dengan kondisi nasional yang mengalami desakan. Tentu, harus didirikan jam’iyyah. Sementara, saat itu hasil istikharah KH. Hasyim Asy’ari belum ada jawaban. ”Justru dijawab melalui Syaikhona dengan memberikan isyarah tadi itu,” katanya.

Beberapa waktu setelah tongkat diantarkan, Syaikhona kembali menyuruh KH. As’ad Syamsul Arifin mengantarkan tasbih kepada KH Hasyim Asy’ari. Bersamaan dengan tasbih itu, sang guru berpesan kalimat Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar, dan Ya Qohhar, Ya Qohhar, Ya Qohhar.

”Ya Jabbar itu kan mahadigdaya, mahaperkasa. KH. Hasyim Asy’ari itu menyimpulkan pesan dari Syaikhona. Siapa yang berani terhadap organisasi (NU) yang akan didirikan itu, akan hancur,” jelasnya.

Ra Utsman mengatakan, setelah dua isyarah itu diterima oleh KH Hasyim Asy’ari pada 1925, Syaikhona Muhammad Kholil wafat. Yakni, satu tahun sebelum NU didirikan pada 1926. 

Edisi cetak terbit di Jawa Pos Radar Madura edisi Minggu, 31 Januari 2021

(mr/luq/daf/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news