alexametrics
Sabtu, 06 Mar 2021
radarmadura
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Sembilan Tersangka Putus SMP, Empat Orang Positif Narkoba

29 Januari 2021, 23: 29: 56 WIB | editor : Abdul Basri

DIRINGKUS: Kapolres Pamekasan AKBP Apip Ginanjar didampingi Kasatreskrim AKP Adhi Putranto Utomo merilis kasus pencurian kotak amal Rabu (27/1).

DIRINGKUS: Kapolres Pamekasan AKBP Apip Ginanjar didampingi Kasatreskrim AKP Adhi Putranto Utomo merilis kasus pencurian kotak amal Rabu (27/1). (ONGKY ARISTA UA/RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Pengungkapan kasus pencurian kotak amal di Pamekasan menjadi tamparan keras terhadap dunia pendidikan. Pasalnya, sembilan dari sepuluh tersangka yang sudah ditangkap putus SMP. Sementara seorang tersangka yang lain merupakan siswa aktif sekolah menengah kejuruan (SMK).

Kasatreskrim Polres Pamekasan AKP Adhi Putranto Utomo membenarkan bahwa kebanyakan dari pelaku pencurian itu memang putus sekolah. Otak dari komplotan pencurian tersebut FDK. Remaja 17 tahun asal Kecamatan Proppo itu putus sekolah.

Sepuluh tersangka itu RM, 15; MI, 18; AF, 17, warga Kecamatan Kota Pamekasan. Lalu, FDK, 17, dari Kecamatan Proppo dan D, 17, dari Kecamatan Larangan. Kemudian, Royhan Fitra Yana Leste, 19, warga Desa Rombuh, Kecamatan Palengaan.

Lalu, Samsul Bahri, 19, warga Kelurahan Gladak Anyar, Kecamatan Kota, dan Nofalul Khoirul, 21, warga Desa/Kecamatan Kadur. Kemudian, Mohammad Dafir, 20, warga Desa Palengaan Laok, Kecamatan Palengaan dan Ach. Idris Efendi, 20, warga Desa Rombuh, Kecamatan Palengaan.

Komplotan pencuri itu beraksi di tujuh kecamatan. D, Nofalul Khoirul, dan Mohammad Dafir pernah beraksi di tiga masjid di Kecamatan Waru, satu masjid di Kecamatan Kadur, dan pernah hendak melakukan pencurian di sebuah toko.

Sementara di Kecamatan Larangan diaktori RM, Royhan, FDK, dan Samsul Bahri. Tidak hanya masjid, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah tersebut juga jadi sasaran. Pencurian di Kecamatan Kota diaktori AF, FDK, dan Samsul Bahri. Tiga masjid pernah jadi sasaran mereka.

Samsul Bahri dan FDK juga pernah beraksi di Kecamatan Proppo. Selain itu, FDK juga pernah mencuri di Kecamatan Palengaan bersama Royhan, Ach. Idris Efendi, dan D. Objeknya adalah kotak amal SPBU di Desa Larangan Badung dan dua toko.

Ach. Idris Efendi, FDK, dan D juga pernah menyasar Masjid Al Falah Pakong. Seorang tersangka berinisial F juga diduga ikut serta. Kini, anak di bawah umur itu menjadi buronan polisi.

”Hanya yang berinisial I yang sekolah di STM,” katanya kemarin (28/1). I yang dimaksud Adhi adalah MI. Remaja 18 tahun itu berasal dari Kecamatan Kota Pamekasan. Adhi mengatakan, aksi pencurian yang dilakukan komplotan anak ini terjadi dalam kuartal akhir 2020.

Sementara hasil uang yang dicuri sejak akhir 2020 itu tidak sampai Rp 10 juta. Mereka beraksi sejak akhir 2020 untuk bersenang-senang. Yakni, untuk membeli dan narkoba dan main perempuan.

Dugaan itu diperkuat hasil pemeriksaan urine. Dari sepuluh tersangka yang ditangkap, empat di antaranya dinyatakan positif. Mereka adalah RM, FDK, AF, dan Ach. Idris Efendi.

Sementara polisi belum menelusuri kejadian pencurian selama 2019. Akibatnya, mereka disangka melanggar pasal 363 ayat 1 ke-4 dan 5 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara.

Ketua Dewan Pendidikan Pamekasan Sahibudin mengatakan, kasus tersebut sangat memprihatinkan. Sebab, mayoritas pelaku anak usia pendidikan. ”Ada yang salah pada sistem pendidikan kita. Terutama pengawasan dari orang tua,” katanya kemarin (28/1).

Dewan Pendidikan Pamekasan akan mengkaji kenakalan remaja yang sangat keterlaluan tersebut. Menggali faktor penyebabnya dan akan mengoordinasikannya dengan pihak terkait. ”Sehingga, lebih intensif melakukan pembinaan. Sebab, ternyata wajib belajar sampai tingkat SMA ini belum dilaksanakan dengan baik,” tambahnya.

Mantan rektor Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan itu mengatakan, wajib belajar hingga SMA itu untuk menata mental. Pembinaan mental itu agar anak memiliki karakter sesuai yang diajarkan guru. Sistem pendidikan tidak boleh hanya bekerja di lini formal. Tapi, orang tua dan masyarakat juga terlibat.

Kasus pencurian kotak amal masjid oleh anak muda dengan tujuan bersenang-senang memesan perempuan dan narkoba adalah tamparan keras bagi para pendidik. Karena itu, ke depan harus lebih ekstra fokus pada pendidikan mental, spiritual, dan akhlak anak-anak.

Sahib mengatakan, kebebasan interaksi di dunia media sosial juga memengaruhi perilaku anak saat ini. Dia berharap moral anak didik harus benar-benar diperhatikan. Ini sudah di titik yang sangat mengkhawatirkan. Di ambang yang paling membahayakan. ”Ini harus diseriusi, agar anak-anak lebih baik ke depan,” tutupnya. (ky)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news