alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Pengalaman Nyantri

24 Januari 2021, 21: 04: 52 WIB | editor : Abdul Basri

Moh. Rafly Nor Syekhan Pegiat literasi di Komunitas Menulis Pasra (KOMPAS). Siswa kelas akhir di jurusan bahasa MA 1 Annuqayah.

Moh. Rafly Nor Syekhan Pegiat literasi di Komunitas Menulis Pasra (KOMPAS). Siswa kelas akhir di jurusan bahasa MA 1 Annuqayah. (Istimewa)

Share this      

DULU ketika saya sekolah di MTs Nasy’atul Muta’allimin, tepatnya pada kelas IX atau berada di kelas akhir, ada beberapa hal yang saya kagumi dari teman-teman seangkatan–khususnya angkatan yang kala itu sedang mondok di Yayasan Pesantren Nasy’atul Muta’allimin. Maklum saja, pada waktu itu saya belum sepenuhnya menjadi santri tetap. Namun, hanya sekolah di lingkup pesantren. Sehingga, dari beberapa kehidupan yang santri jalani, saya pun ikut mengetahuinya. Mulai dari hal yang membahagiakan sampai pada keadaan yang tidak menyenangkan. Bagi santri, bahagia bisa diraih melalui momen sederhana, semisal ketika perjumpaan dengan kedua orang tua pada waktu kiriman. Momen seperti ini, bagi sebagian orang –nonsantri– dianggap sebagai hal yang biasa. Sebab, mereka tidak pernah merasakan kerinduan yang disebabkan oleh jarak dan waktu.

Kemudian hari berganti minggu, lalu berubah menjadi bulan sehingga sampailah pada saatnya kira-kira menunggu dua bulan waktu pelulusan. Saya pun mulai berpikir dan merenung, ingin melanjutkan ke mana setelah lulus nanti di tingkat SLTP. Apakah akan tetap menjadi santri colok atau hijrah seperti teman-teman yang memilih jalur pendidikan di pesantren. Lalu muncul kata ”nyantri” di benak saya. Namun, saya tidak langsung mengamini. Saya harus mempertimbangkan, meminta restu guru, dan meminta restu kedua orang tua. Tujuannya, agar membuahkan keputusan yang terbaik. Usai menimbang, restu para guru serta orang tua mengizinkan niatan saya untuk mondok. Maka hal selanjutnya yang saya lakukan adalah memperbaiki niat sebagaimana yang dipesankan oleh kedua orang tua kepada saya, bahwasanya niatkan mondok untuk mengaji dan memperbaiki tata krama (akhlak). Sederhana bukan?

Kali pertama menginjakkan kaki di bumi pesantren sampai pada saat ini, kira-kira sudah 3 tahun berjalan menjadi santri aktif. Di perjalanan selama saya nyantri, banyak asumsi miring yang selama ini diterorkan oleh kalangan nonsantri kepada kehidupan santri di pesantren. Sentimen-sentimen kacau mereka bahwa pesantren itu jumud, kolot, dan terbelakang. Parahnya lagi, disebut sebagai kalangan yang tidak maju-maju karena di pesantren masih menerapkan kurikulum yang ketinggalan zaman. Nyatanya, Gus Dur, seorang intelektual kelas kakap telah mengafirmasikan antara kurikulum pesantren ”sebanding” dengan kurikulum universitas tertua di dunia, Al-Azhar. Sebab, begitu beliau masuk di fakultas Dirasah Islamiyah, ternyata materinya sudah diajarkan di pesantren klasik di Indonesia.

Seharusnya menjadi santri adalah pilihan yang tepat dan bijak bagi seorang manusia yang memiliki orientasi hidup yang jelas. Sebab, sejak dalam rahim pesantren, santri sudah dibekali beberapa ilmu dan berbagai keahlian personal dalam bentuk optimasi karakter santri ketika kelak terlahir kembali di kehidupan masyarakat beberapa pembuktiannya bisa dijabarkan.

Pertama, bentuk kecakapan literasi. Sebagai contohya kita ambil sampel PP Annuqayah dalam geliat literasinya yang banyak melahirkan penulis-penulis kompoten yang kini telah tersebar di berbagai kota bahkan ada yang menjadi penyunting di penerbitan, pemred majalah, dan menjadi penggerak literasi di kalangan masyarakat. Hal ini terjadi karena di Annuqayah, santri selain dibekali keahlian dalam mengaji kitb suci Al-Qur’an, kitab kuning, juga digembleng mengaji literasi. Maka tak ayal jika banyak komunitas-komunitas berwujud kepenulisan didirikan seperti Komunitas Penulis Pasra (KOMPAS) yang menjadi wadah bagi para anggota otonom Persatuan Santri Gapura (PASRA) dalam mengembangkan kecintaan mereka terhadap literasi. Oleh karenanya, tak usah kebingungan kalau bermunculan penulis dari kalangan pesantren seperti D. Zawawi Imron, Jamal D. Rahman, dan A. Dardiri Zubairi.

Kedua, santri dididik untuk selalu bersikap gigih selama berada di pesantren. Jika berbicara soal kesibukan dan tanggung jawab, hal ini seolah menjadi kodrat santri. Mulai dari waktu subuh hingga saat malam hari santri dihadapkan oleh kegiatan pesantren yang super menekan. Lain lagi bagi mereka yang memiliki tanggung jawab lebih di kepengurusan pesantren, organisasi, dan kepengurusan nonformal. Kalau tidak memiliki sikap gigih dan kuat mana mungkin mampu bertahan sampai nanti boyong secara resmi dari pesantren.

Hal demikian selaras dengan pernyataan Ach. Dhofir Zuhry, mengapa kita perlu menentukan sikap dan langkah besar? Karena jurang yang lebar dan dalam rimba kehidupan tidak bisa dilalui dengan langkah kecil. Maka, selama ini santri memang dipersiapkan agar menjadi orang yang besar bermental baja bukan bermental tempe.

Dengan orientasi visi-misi yang jelas, nyantri bagi saya adalah pilihan yang tepat bagi kaum milenial saat ini untuk menjaga substansi kemanusiaan yang kini mengalami pergeseran makna. Meski dalam banyak cerita santri yang mendeskripsikan bahwa menjadi santri harus siap mengalami kesedihan yang bertubi-tubi. Rela tidak memiliki agenda tidur sebagaimana orang lain biasa lakukan jawabannya karena kepercayaan santri waktu paling mujarap transfer ilmu yang paling manjur ada pada waktu malam hari. Sehingga, waktu malam hari mayoritas dijadikan momentum untuk mengasah intelektual kesantrian lebih-lebih kepada sang Khalik.

Bukankah madu yang memiliki rasa manis harus diperoleh dari sarang tawon yang berbahaya? Maka, sama dengan apa yang santri lakukan selama di pesantren. Sebenarnya kita sedang mempersiapkan bekal dalam kehidupan yang akan dipergunakan untuk masyarakat umum. Maka mari ikuti filosofi burung elang yang rela terbang jauh di ketinggian cakrawala demi menyatakan sebuah esensi pertarungan sejati dalam memburu mangsanya bahkan lengkingan suaranya saja bisa menakutkan. Berbeda dengan seekor unggas yang berada di kungkungan sangkar dan hanya menunggu panggilan makan oleh si empunya.

Sosok santri kurang lebih seperti ini, rela tinggal jauh dari sanak keluarga demi bertarung untuk mendapati ilmu yang barakah di pesantren dan pastinya meninggalkan hal-hal yang dapat meninabobokan dirinya. Wallahu a’lam. 

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news