alexametrics
Minggu, 17 Jan 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Sosok Kapten Fadly Satrianto, Kopilot Nam Air di Mata sang Kakak

Suka Guyon, Pertemuan Terakhir Hanya 30 Menit

11 Januari 2021, 17: 34: 12 WIB | editor : Abdul Basri

TIGA GENERASI: Dokter Juan Setiadi Zenniko (tengah) foto bersama ayahandanya H. Sumarzen Marzuki dan Kapten Fadly Satrianto (kiri).

TIGA GENERASI: Dokter Juan Setiadi Zenniko (tengah) foto bersama ayahandanya H. Sumarzen Marzuki dan Kapten Fadly Satrianto (kiri). (DR JUAN SETIADI ZENNIKO FOR RadarMadura.id)

Share this      

Sampai kemarin (10/1), dr Juan Setiadi Zenniko terus meng-update informasi perihal penumpang Sriwijaya Air yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Sebab, adik kandungnya tercatat sebagai salah satu penumpang di pesawat nahas tersebut.

HARIYANTO, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

KAGET dan tidak percaya. Itulah perasaan dr Juan Setiadi Zenniko usai menerima kabar jatuhnya pesawat Sriwijaya Air di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu petang (9/1). Dia langsung ambil ponsel dan menghubungi orang tua. Tujuannya, menanyakan posisi adiknya, Kapten Fadly Satrianto.

Sebelum menghubungi orang tuanya, pria yang akrab disapa dokter Niko itu sebenarnya sudah berusaha menghubungi Fadly Satrianto. Tapi, tidak berhasil karena telepon adiknya tidak aktif. Karena berkali-kali tetap tidak tersambung, dokter Niko akhirnya memutuskan menghubungi orang tuanya.

”Saat menerima informasi Sriwijaya Air hilang kontak, saya langsung ingat adik saya, Fadly Satrianto. Sebab, adik saya bekerja di Nam Air (anak perusahaan maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Red). Adik saya salah satu kopilot Nam Air,” ucapnya.

Begitu terhubung dengan orang tuanya lewat layanan telepon, dokter Niko yang saat itu berada di Sampang langsung menanyakan posisi adiknya. ”Menanyakan adik kandung saya posisinya di mana? Flight ke mana? Orang tua saya menjawab Fadly Satrianto flight ke Pontianak,” ucapnya lirih.

Setelah mendapat penjelasan dari orang tuanya, dokter Niko semakin tidak tenang. Karena itu, dia menghubungi rekan sejawatnya yang bertugas di Jawa Timur. Apalagi, kabar jatuhnya pesawat Sriwijaya Air viral di media sosial. ”Saya coba cari informasi ke rekan-rekan dokter di Jawa Timur. Saya syok nama adik saya ada di manifes Sriwijaya Air,” ulasnya.

Berdasar data manifes Sriwijaya Air yang diterima dokter Niko, nama adiknya tertera jelas di urutan ke-40. ”Saya sangat sedih. Saya tetap berharap dan berdoa adik kandung tercinta saya selamat dan dalam lindungan Allah SWT. Kami sekeluarga menunggu rilis dari AirNav,” tegasnya.

Dokter spesialis anak itu menuturkan, adiknya bergabung di Sriwijaya Air sejak 2015. Karena itu, lajang kelahiran Surabaya berusia 28 tahun itu akhirnya berdomisili di Jakarta. ”Adik asli Surabaya. Sejak SD sampai kuliah di Surabaya. Setelah bekerja di maskapai penerbangan, kami jarang ketemu karena sama-sama kerja,” tuturnya.

Dokter Niko mengaku tidak punya firasat apa-apa. Dokter yang dikenal kalem itu mengaku bertemu adiknya terakhir kali dalam acara keluarga yang digelar di rumah orang tuanya di Surabaya. Saat itu, semua anggota keluarga hadir lengkap meski durasinya tidak terlalu lama.

”Saya masih ingat pertemuan terakhir dengan adik pada 19 Desember 2020. Meskipun cuma 30 menit, karena saya harus menghadiri acara lain. Saat itu suasana sangat cair, kami berdua bahkan guyonan. Ketawa-ketawa. Kami berdua juga makan sayur ginseng,” kenangnya.

Sementara itu, tim gabungan dari lintas institusi terus bekerja melakukan pencarian terhadap seluruh penumpang Sriwijaya Air yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Hasil yang ditemukan tim gabungan sampai kemarin sore adalah, serpihan badan pesawat dan bagian tubuh salah satu penumpang.

Sebagaimana diketahui, pesawat Sriwijaya Air SJ-182 hilang kontak pada Sabtu (9/1) sekitar pukul 14.40. Pesawat Boeing 737-500 dengan nomor penerbangan SJ-182 itu terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Supadio, Pontianak. 

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news