alexametrics
Minggu, 17 Jan 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Duka Mendalam Kepergian Jurnalis Legenda di Sumenep Deny Abu Said

Teladan Bagi Wartawan Junior

08 Januari 2021, 18: 56: 15 WIB | editor : Abdul Basri

BERDEDIKASI: Ketua PWI Jatim Ainur Rohim (kiri) menyerahkan penghargaan kepada Deny Abu Said sebagai wartawan senior pada peringatan HPN 2020.

BERDEDIKASI: Ketua PWI Jatim Ainur Rohim (kiri) menyerahkan penghargaan kepada Deny Abu Said sebagai wartawan senior pada peringatan HPN 2020. (FIRMAN MUALANA FOR RadarMadura.id)

Share this      

Nama Deny Abu Said tidak asing di telinga wartawan. Dia sosok yang suka berbagi ilmu kepada junior. Mantan wartawan Jawa Pos itu selalu mengingatkan kode etik jurnalistik.

JUNAIDI PONDIYANTO, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

KABAR duka meninggalnya Deny Abu Said itu cepat melesat kemarin (7/1). Ucapan belasungkawa dari banyak pihak menggambarkan eksistensi almarhum semasa hidup. Kiprahnya di dunia jurnalistik tidak lagi diragukan. Bahkan, ilmu yang dia tebarkan tertanam pada diri setiap wartawan.

Deny meninggal sekitar pukul 04.00 di RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep. Dia yang wafat pada usia 66 tahun itu saat menjalani perawatan setelah dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. Sebelumnya Deny bersama sang istri, Siti Hafidah, memeriksakan diri ke rumah sakit.

Sejak saat itu Siti menjalani rawat inap. Sementara Deny pulang ke rumahnya di KH Agus Salim 18, Pangarangan, Kota Sumenep. Tiga hari kemudian atau Senin (4/1) kembali memeriksakan kesehatannya karena menderita batuk-batuk. Hasil pemeriksaan ditemukan radang di paru-paru. Sejak saat itu dia juga harus menjalani perawatan berjuang melawan Covid-19 di RSUD.

Firman Maulana, cucu pertama Deny, mengungkapkan, sungguh batasan usia seseorang tetap menjadi rahasia Tuhan. Keluarga besar sangat kehilangan sosok panutan. Dalam keluarga, almarhum dikenal sebagai orang sabar, ikhlas, dan tekun dalam bekerja.

Kegigihan, optimisme, dan keikhlasan dalam hidup menjadi pelajaran berharga dari sang kakek. Deny mendidik semua anak dan cucunya agar tidak mengabaikan pendidikan. Dia mendukung dan memotivasi agar menimba ilmu hingga perguruan tinggi.

Mahasiswa IAIN Madura itu mengaku pernah mendapat pesan khusus dari laki-laki kelahiran 1954 itu. Yakni, agar mempelajari jurnalistik yang selama ini digeluti. Pesan itu sangat terngiang. Karena itu, setelah lulus kuliah nanti, Firman akan terjun menjadi insan pers dan akan bergabung menjadi wartawan Jawa Pos seperti kakeknya dulu.

”Mohon doanya untuk semuanya agar eyang mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT,” ungkapnya.

Kenangan itu juga masih membekas di benak Rasul Junaidi. Dia sangat kehilangan dan turut merasakan duka yang mendalam atas kepergian Deny Abu Said. Almarhum merupakan sahabat yang dikenal kali pertama setelah Jawa Pos Radar Madura berdiri pada 27 Juli 1999.

Banyak ilmu jurnalistik yang Rasul dapatkan dari sosok penyabar itu. Khususnya tulisan features di kalangan wartawan Jawa Pos saat itu. ”Almarhum dikenal jago pada penulisan berita features,” tuturnya.

Secara tidak langsung, karakter dirinya dalam jurnalistik bentuk didikan Deny. Almarhum yang dia kenal adalah sosok yang ngemong seutuhnya. Mudah bergaul, sangat rendah hati, dan cepat akrab dengan orang lain. ”Jadi saya ketemu dalam konteks itu, sama-sama memperjuangkan kebebasan berekspresi saat itu,” tambahnya.

Mantan wartawan JPRM Moh. Rifai juga mengenal Deny Abu Said sebagai sosok yang baik. Tahun 1996 Rifai sebagai wartawan muda di JPRM. Saat itu, almarhum sebagai wartawan Jawa Pos dan ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumenep.

Dirinya mengenal almarhum sebagai sosok yang bersahaja. Seorang jurnalis kerap kali tanpa merasa kaku dan canggung memberikan wejangan kepada wartawan pemula. Memberikan masukan konstruktif pada tulisan terhadap karya jurnalistik.

Tidak hanya mendidik dalam penulisan berita, tapi juga mengajari cara berkomunikasi yang baik dengan narasumber. Termasuk, dalam menghadapi persoalan yang berkaitan dengan sumber berita. Rifai juga menilai Deny sebagai sosok pemimpin yang baik, sehingga dirinya juga memilih ikut bergabung dengan PWI pada 1999.

Berkat didikan almarhum, Rifai sempat menggantikan posisisnya sebagai ketua PWI Sumenep selama dua periode. Dalam memimpin, juga banyak mengadopsi program kegiatan dari kepemimpinan Deny. ”Sosok Deny Abu Said ini patut jadi contoh teman-teman wartawan yang masih aktif sampai sekarang,” ungkapnya.

Sementara itu, Seksi Pendidikan dan Karya Latih Wartawan (KLW) PWI Jawa Timur Ibnu Hajar menyebut Deny sebagai jurnalis legenda di Sumenep. Dia mengenal Deny sejak SMA kelas 1 pada 1987. Saat itu, di samping rumah Deny di Jalan KH Agus Salim itu menjadi tempat pemuda yang tergabung dalam Generasi Harapan Orang Tua (GHOT).

Di mata Ibnu, Deny sangat peduli anak-anak dan mengayomi. Selain mengajari tentang tulisan, Deny juga sering memberikan wejangan tentang etika jurnalis dan suka silaturahmi. Bahkan, Rabu (23/12/2020) masih menelepon. Saat itu Deny tanya kerja wartawan di masa pandemi Covid-19. ”Bagaimana teman-teman di masa Covid-19 dalam mencari berita? Tolong hati-hati,” ungkap Ibnu menirukan pesan almarhum.

Mantan wakil ketua PWI Sumenep itu mengaku banyak mengadopsi program masa kepemimpinan Deny. Salah satunya memberikan santunan kepada anak yatim setiap Lebaran. Ibnu juga mendapat pelajaran agar menjaga silaturahmi. Tidak hanya dengan wartawan yang tergabung dalam PWI, tapi juga senior yang sudah tidak jadi wartawan.

Ibnu dan Deny sering bertemu dan berbincang di meja bundar alhmarhum Edhi Setiawan. Rumah budayawan, sejarawan, dan fotografer itu menjadi tempat aktivis menempa diri. ”Kita sangat kehilangan,” ujar Ibnu.

Deny menjabat sebagai ketua PWI Sumenep kedua selama 12 tahun. Sejak 1992 hingga 2004 menggantikan Usman Saleh. Pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2020, mantan wartawan Jawa Pos itu dinobatkan sebagai wartawan senior oleh PWI Jawa Timur.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news