alexametrics
Minggu, 17 Jan 2021
radarmadura
Home > Sumenep
icon featured
Sumenep

KBM SLB Berlakukan Sistem Guru Keliling

08 Januari 2021, 18: 50: 37 WIB | editor : Abdul Basri

GIAT: Seorang guru yang mengajar anak didk di SLB Cinta Ananda Sumenep.

GIAT: Seorang guru yang mengajar anak didk di SLB Cinta Ananda Sumenep. (AMINATUS SUHRA/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Wabah Covid-19 sangat berdampak pada kelangsungan pendidikan. Tak semua peserta didik bisa menghadapi dengan mudah untuk melakukan aktivitas pembelajaran.

Seperti halnya siswa yang menempuh pendidikan di sekolah luar biasa (SLB). Semua peserta didik membutuhkan perhatian khusus untuk menerima bahan ajar. Pembelajaran mereka tidak semudah seperti anak didik pada umumnya. Apalagi dilakukan secara virtual.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Sumenep Samsul Arifin menyampaikan, peserta didik di lembaga pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus (PK-PLK) diperlakukan berbeda. Sebab, ada beberapa keterbatasan siswa. ”Siswa butuh layanan rasa hati nurani dan keinginan bagaimana kita mengabdikan pada anak-anak yang berkebutuhan khusus itu bisa terlayani pendidikannya,” terangnya.

Ada kebijakan khusus untuk kelangsungan pendidikan di sekolah tersebut. Pembelajaran tatap muka (PTM) di lingkungan sekolah memang dilarang. Tetapi, kegiatan belajar mengajar bisa dilangsungkan sistem jemput bola.

Pihaknya memerintahkan kepada tenaga pendidik di lingkungan sekolah luar biasa (SLB) untuk mendatangi siswa. Sebab, siswa tidak bisa dengan mudah menerima pembelajaran. Karena itu, juga perlu dukungan orang tua. ”Datang ke rumah siswa dengan sistem guru keliling,” jelasnya.

Ketua MKKS PK-PLK Sumenep Ali Badwi menambahkan, pelaksanaan pendidikan di masa pandemi memang tidak seperti sebelumnya. Siswa tidak bisa dibiarkan begitu saja untuk melangsungkan KBM secara virtual. Selain daring, pembelajaran juga dilakukan dengan guru kunjung.

”Sudah dijadwalkan satu minggu sekali akan berkunjung ke rumah siswa, tidak hanya daring,” terang kepala SLB Negeri Saronggi itu. Cara itu dilakukan karena ada beberapa siswa dengan keterbatasan khusus yang harus mendapat pendampingan. ”Terutama autis, tunagrahita, dan lainnya. Banyak yang masih kesulitan pelaksanaan secara daring,” pungkasnya. (mi)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news