alexametrics
Minggu, 17 Jan 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
Hamimah Lebih 20 Tahun Derita Kaki Gajah

Kata Dokter Harus Operasi Lagi, tapi dari Mana Dapat Biaya? 

07 Januari 2021, 18: 50: 40 WIB | editor : Abdul Basri

BUTUH ULURAN TANGAN: Hamimah ditemui di rumahnya di Desa Buddagan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Selasa (5/1).

BUTUH ULURAN TANGAN: Hamimah ditemui di rumahnya di Desa Buddagan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Selasa (5/1). (ONGKY ARISTA UA./RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Bertahun-tahun Hamimah tidak banyak beraktivitas. Sekujur kakinya membengkak. Pernah dioperasi. Namun, belum berhasil. Operasi lanjutan belum terlaksana karena terkendala biaya.

jawa pos radar madura (JPRM) menuju rumah perempuan bernama Hamimah sekitar pukul 10.30 Selasa (5/1). Berbekal petunjuk seorang teman via telepon, JPRM berangkat dari Jalan Kabupaten.

”Tahu Kafe Three Five?” tanya informan yang memberi petunjuk. ”Di seberang kafe itu ada gang ke arah timur, masuk di situ,” jelasnya. JPRM pun masuk ke gang dimaksud. Menarik gas kendaraan ke arah timur.

Karena tidak ingin tersesat, JPRM bertanya kepada warga. ”Terus ke arah timur, ada rumah besar, rumahnya anggota DPRD. Terus ke timur. Sampai di sana, tanya ke warga, karena untuk sampai ke rumah Bu Mimah ada beberapa belokan,” kata warga yang sedang menggendong anaknya.

JPRM pun melaju. Melewati rumah megah berlantai dua yang disebut-sebut milik anggota DPRD Pamekasan itu. Bertemu warga, JPRM bertanya lagi. Bertemu warga, bertanya lagi. Hingga sampai ke rumah perempuan kelahiran 1967 tersebut.

Secara administratif, rumah Hamimah terletak di Dusun Tengger, Desa Buddagan Kecamatan Pademawu. Sesuai data yang tertera di kartu tanda penduduk (KTP) milik Hamimah. ”Saya panggil dulu Hamimah. Silakan duduk,” kata seorang laki-laki saat JPRM tiba di rumah perempuan penderita filariasis itu.

Sambil lalu JPRM duduk di kursi, Hamimah pun keluar dari arah dapur. Dengan senyum yang tenang, perempuan yang belum dikaruniai anak itu menyapa JPRM. Lalu, duduk berbincang santai. Penuh senyum hangat sambil lalu menceritakan akar penyebab penyakit kaki gajahnya. Tanpa tergambar raut muka sedih pada wajahnya.

”Awal mulanya saya merasakan sakit dan panas di sekujur tubuh,” kenangnya. ”Setelah itu, tumbuh sebuah kelenjar di daerah paha,” imbuh Mimah. Karena dikira bukan penyakit serius, dia pergi ke tukang pijat. Namun, upaya itu justru membuat kakinya semakin membengkak.

Hamimah tidak ingat sudah berapa tahun dan tahun berapa awal mula gejala kaki gajah itu terjadi. Namun yang pasti, sudah lebih dua puluh tahun lalu. Itu terjadi pasca dia berpisah dengan suami pertamanya.

Kemudian dia menikah pada pertengahan tahun 80-an dengan suami keduanya, Suliyanto. Saat itu dia sudah menderita penyakit tersebut. Namun, kaki gajah yang dialaminya tidak mengubah lekukan kedua pahanya. Dia masih tampak normal. Hanya, dengan bentuk paha dan betis yang lebih berisi.

Tahun demi tahun dia lalui dengan penuh kekhawatiran. Keluarga besarnya waswas. Takut penyakit kaki gajahnya kian parah. Mereka khawatir Hamimah tidak bisa berjalan. Berbagai macam penanganan pun dilakukan.

Dari mulai jalur medis hingga nonmedis. Pergi ke tempat-tempat pengobatan di Madura hingga Jawa. Pengobatan tradisional hingga pengobatan modern. Namun, pengobatan itu tak kunjung membuahkan hasil. Optimistis sembuh pun menipis.

Namun, pada 2009, keluarga sepakat Hamimah dioperasi di salah satu rumah sakit ternama di Surabaya. Mereka berangkat atas rekomendasi seorang dokter bedah di Pamekasan.

Dibawalah Hamimah ke Surabaya. Dioperasilah di sana. Kedua pahanya dibedah untuk mengatasi akar kelenjar yang membuat kakinya dijangkiti filariasis.

Uang yang dihabiskan untuk operasi dan obat-obatan sangat besar, Rp 40 juta. Bukan karena mampu, tapi karena nekat dan optimistis bisa sembuh. 

Setelah dioperasi tidak ada perkembangan sama sekali. Tubuhnya kian membengkak seperti sekarang. Bahkan, sempat keluar cairan. ”Petunjuk dokter harus operasi lagi, tapi dari mana dapat biaya?” sambung Hamimah.

Ayah Hamimah seorang tukang becak. Suaminya, Suliyanto, hanya sopir truk. Ibunya hanya ibu rumah tangga. Sehingga, tidak bisa memenuhi petunjuk dokter untuk melakukan operasi lagi. Ketidakmampuan biaya ini menyebabkan penyakit kaki gajah yang dideritanya tidak diobati lagi hingga sekarang.

”Dari mana saya dapat biaya untuk itu?” tanya Hamimah. Saat ini Hamimah tidak bisa banyak beraktivitas. Hanya bisa menyapu di rumah. Bila kelelahan menerpa, dia memerlukan bantuan kursi untuk bergerak. Salat dilakukannya dengan cara duduk. ”Saya beraktivitas sedikit-sedikit karena saya takut stroke,” katanya.

Aktivitas rumah tangganya dikerjakan oleh ibunya. Dia memang tinggal bersama ibunya. Juga seorang anak angkat dan suaminya. Keperluan memasak dan keperluan lain dikerjakan oleh ibu.

Keluhan yang dia rasakan sekarang terkadang datang ngilu di sekujur tubuhnya. Ketika mulai ngilu, dia pun segera berobat. ”Selama seminggu, kadang beberapa kali sakit dan ngilu,” katanya. ”Kalau sakit, capek, dan sulit berdiri, butuh kursi dan tongkat,” tambahnya.

Hamimah mengaku tidak pernah didatangi tokoh pejabat. Dia juga mengaku tidak pernah menerima bantuan pemerintah selain BLT DD pada saat pandemi Covid-19. ”Sekarang, yang saya butuhkan hanya sembuh dari penyakit ini,” ungkap perempuan lulusan SD itu.

Kesembuhan untuk Hamimah bisa dilakukan dengan operasi lanjutan. Namun sayang, Hamimah tak mampu dari sisi biaya. Dia membutuhkan tangan-tangan mulia untuk sembuh. Untuk bisa kembali hidup normal sebagaimana Hamimah yang dulu.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news