alexametrics
Selasa, 01 Dec 2020
radarmadura
Home > Sumenep
icon featured
Sumenep

Bisa Dibuktikan dengan Tes DNA

Keluarga Pasien Curiga Bayi Tertukar

18 November 2020, 21: 52: 18 WIB | editor : Haryanto

MEGAH: Warga berjalan di depan area RSUD dr H. Moh. Anwar Sumenep, Selasa (17/11).

MEGAH: Warga berjalan di depan area RSUD dr H. Moh. Anwar Sumenep, Selasa (17/11). (Junaidi Pondiyanto/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Pelayanan RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep menjadi sorotan. Penyebabnya, pasien asal Batang-Batang menduga bayi yang baru dilahirkan tertukar. Tes deoxyribonucleic acid (DNA) bisa menjadi cara untuk membuktikan perselisihan kedua pihak.

Pengalaman tidak menyenangkan itu dialami pasangan suami istri Subroto, 27, Nurma Ningsih, 25. Warga Desa Nyabakan Barat, Kecamatan Batang-Batang, itu menduga pihak rumah sakit menukar bayi perempuan yang lahir pada Jumat (13/11). Kekecewaan layanan rumah sakit dirasakan keluarga besar mereka.

Subroto melalui saudara kandungnya, Rikso, menyampaikan, pihaknya sangat yakin bayi itu tertukar dengan bayi lain. Keyakinan itu juga didukung oleh bukti-bukti yang dikantongi keluarga.

Ada perbedaan dari bayi yang dilahirkan Nurma Ningsih dengan bayi yang diserahkan pihak rumah sakit. Menurut dia, bayi tersebut lahir secara normal pada Jumat pukul 12.20. Seperti biasa, bayi itu langsung diadani oleh Subroto.

Kemudian, setelah diopname 1 hari, sang ibu diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit Tanpa membawa bayinya karena disarankan tetap berada di rumah sakit. Sebelum pulang, Nurma Ningsih sempat menyusui buah hatinya.

Saat itu Subroto juga sempat mengabadikan bayi lucunya melalui rekaman video dan foto. ”Saat disusui, bayi itu mengenakan penutup kepala berwarna biru,” ungkap Rikso. ”Dan diketahui kepalanya gundul saat penutup kepalanya terjatuh, tepatnya hari Sabtu,” imbuhnya.

Hari berikutnya, Minggu (15/11), pasutri itu kembali mendatangi rumah sakit di Jalan Dr Cipto itu untuk menjenguk sang anak. Pada hari itu, mereka juga berniat untuk kembali menuyusui. Saat itu respons pihak rumah sakit mulai tampak berbeda.

Petugas yang menemui pasangan pasutri itu menyapa dengan nada kurang sopan saat menanyakan kedatangan mereka. Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, pihak rumah sakit memberikan bayinya untuk disusui. Ketika disusui, ternyata topi bayi itu kembali jatuh. Pada saat itulah Subroto dan Nurma Ningsih melihat kepada bayi tersebut tumbuh rambut lebat.

Melihat bayi berbeda dengan dua hari sebelumnya, pasutri itu protes dan menyangkal kalau bayi itu bukan buah hati meraka. Mereka juga sempat memotret anak yang oleh rumah sakit sempat diberikan kepada mereka. Menurut mereka, tanpa penjelasan detail, petugas rumah sakit langsung membawa masuk bayi itu ke dalam.

Upaya komplain pihak keluaraga juga tidak mendapat respons dari rumah sakit. Pihaknya mengaku telah dihubungi agar membawa pulang bayi itu. Namun, Subroto dan Nurma Ningsih tidak bersedia karena bayi yang diserahkan diyakini bukan anaknya.

Atas kejadian itu, pihak keluarga sempat mau melapor polisi. Namun, oleh petugas disarankan untuk mediasi agar diselesaikan secara kekeluargaan. ”Kami lengkap semua bukti-buktinya dari dua bayi tersebut. Kalau tidak ada iktikad baik, kami pasti lapor polisi. Tuntutan kami sederhana, hanya ingin bayi yang pertama,” jelasnya.

Sementara itu, Humas RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep Arman Endika Putra menampik bahwa ada bayi tertukar sesaui dugaan warga. Sebab, pada hari yang sama tidak ada bayi lahir di rumah sakit selain buah hati Subroto dan Nurma Ningsih.

Dia menegaskan, pelayanan rumah sakit sudah sesuai dengan prosedur. Setiap bayi yang lahir diberi tanda khusus agar tidak tertukar. Pihaknya sempat memanggil pihak keluarga bayi untuk diberi penjelasan. Termasuk memperlihatkan sidik jari ibu dan sidik jari bayi. Namun, pihak keluarga masih bersikukuh dan tidak percaya dengan penjelasan rumah sakit.

Menurut Arman, memang lumrah bayi itu berbeda antara baru lahir dan beberapa hari kemudian. Dia berharap persoalan itu diselesaikan secara kekeluargaan tanpa harus masuk ke ranah hukum. Misalnya, melalui tes DNA untuk memastikan kebenaran bayi tersebut.

”Tapi, ini harus berdasar kesepakatan semua pihak dan ada pemahaman searah,” jelasnya.

Pendapat keluarga mengenai pertumbuhan rambut bayi yang dinilai begitu cepat itu merupakan penilaian subjektif. Bergantung subjek yang menilai dan tidak memiliki tolok ukur. Berbeda dengan tinggi badan yang didasari ukuran penggaris. ”Intinya jelas dari rumah sakit tidak ada bayi yang tertukar,” jelasnya.

Menanggapi tawaran tes DNA, pihak keluarga bersedia. Namun, proses itu harus dilakukan bersama. Keluarga tidak akan serta-merta menyerahkan proses ini kepada rumah sakit. Sebab, peristiwa itu telah mengurangi kepercayaan kepada pihak rumah sakit.

”Kalau tes DNA kami bersedia. Tapi, bayi yang pertama itu harus ada dan kami ketahui dulu. Kalau bayi yang kedua pasti ada di sana,” terang Rikso.

Anggota Komisi IV DPRD Sumenep M. Syukri mendesak rumah sakit serius menanggapi persoalan itu. Harus memfasilitasi pembuktian agar masalah selesai dengan baik. Tidak cukup hanya membantah bahwa tidak ada penukaran bayi.

Menurut dia, hal itu menyangkut masa depan anak tersebut. Secara nurani sangat miris apabila tidak diketahui kebenarannya dengan waktu yang lama. ”Tidak hanya membatah, tapi rumah sakit harus membuktikan,” tegasnya. (jun/luq)

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news