alexametrics
Selasa, 01 Dec 2020
radarmadura
Home > Bangkalan
icon featured
Bangkalan

Pasien Kurang Mampu, Pelayanan Tetap Sama

Kesaksian Pasien Biakes Maskin dan Komen

17 November 2020, 21: 55: 30 WIB | editor : Haryanto

AKSI SOSIAL: Komen Bangkalan mendampingi pasien kurang mampu untuk mendapatkan pelayanan Biakes Maskin.

AKSI SOSIAL: Komen Bangkalan mendampingi pasien kurang mampu untuk mendapatkan pelayanan Biakes Maskin. (Komen for RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN – Pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus optimal. Rumah sakit Umum Daerah (RSUD) Syamrabu Bangkalan memastikan bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak pandang bulu. Pasien yang selama berobat melalui program biaya kesehatan masyarakat miskin (Biakes Maskin) tetap ditangani secara optimal.

Antara pasien umum dan pasien yang biayanya ditanggung pemerintah, itu sama-sama mendapatkan pelayanan kesehatan yang prima. Kepastian itu disampaikan Usman, 56, pasien Biakes Maskin, asal Desa Parseh Utara, Kecamatan Socah.

Kepada Jawa Pos Radar Madura, dia menceritakan, selama berobat di RSUD Syamrabu, perawat dan dokter sangat baik dalam melayani. ”Saya tidak mengada-ada. Terus terang, saya dapat pelayanan kesehatan sangat baik,” tutur Usman.

PRIMA: Pegawai RSUD Syamrabu Bangkalan melayan keluarga pasien di lobi pelayanan.

PRIMA: Pegawai RSUD Syamrabu Bangkalan melayan keluarga pasien di lobi pelayanan. (Vivin Agustin Hartono/RadarMadura.id)

Menurut dia, meskipun dirinya mendapat jaminan kesehatan melalui Biakes Maskin, urusan pelayanan tidak berbeda. ”Saya dua hari di rumah sakit. Alhamdulillah, ditangani layaknya pasien umum,” ujarnya.

Usman menyampaikan, selama dua hari di RSUD Syamrabu Bangkalan, sedikit pun tidak mengeluarkan biaya apa pun alias gratis. ”Sama sekali tidak dipungut biaya. Saya sakit sesak napas dan alhamdulillah sekarang sudah sembuh,” ceritanya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Komunitas Emergency (Komen) Bangkalan David Hidayat. Dia menuturkan, aksi sosial Komen memang fokus bergerak di bidang kesehatan. Tugasnya mendampingi masyarakat yang kurang mampu, terutama pasien miskin yang tidak punya biaya.

”Untuk di Bangkalan, selama dua tahun ini saya melihat pelayanan di rumah sakit khusus pasien Biakes Maskin, alhamdulillah dilayani sebagaimana mestinya,” katanya.

Menurut David, ada sekitar puluhan pasien miskin yang didampingi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan melalui prorgam Biakes Maskin. Semua tidak ada yang mengecewakan. ”Pasien-pasien kurang mampu, ketika saya dampingi, syukurnya tidak ada yang ditelantarkan. Mereka tetap mendapat pelayanan seperti pasien biasanya,” terangnya.

Biasanya, lanjut David, ketika pasien gratis, pelayanan itu dianaktirikan. Namun, dia tidak menemukan hal yang demikian di RSUD Syamrabu Bangkalan. ”Semua sama-sama terlayani,” imbuhnya.

David menambahkan, program Biakes Maskin merupakan program Pemkab Bangkalan yang sangat membantu masyarakat kurang mampu. Dengan demikian, pihaknya sangat berterima kasih. ”Program Biakes Maskin ini sangat membantu. Siapa pun boleh, asalkan syaratnya miskin,” tuturnya.

Hanya, kendala yang dialami selama ini di lapangan terdapat warga miskin tanpa identitas, termasuk tidak terdaftar di jaminan kesehatan. ”Itu yang butuh pendampingan ekstra,” sambungnya.

Sebab, pihaknya terlebih dahulu harus mengurus pembuatan e-KTP. Untungnya, ketika bertepatan pada hari libur, pihak rumah sakit masih memberikan toleransi.

Semisal, manakala pasien datang Jumat atau Sabtu, otomatis dinas terkait tutup dan tidak bisa diuruskan untuk persyaratan mendapatkan pelayanan Biakes Maskin. Namun, baiknya rumah sakit masih memberikan keringanan untuk mengurus pada hari aktif.

”Artinya, pihak rumah sakit masih mendahulukan pelayanan ketimbang administratif. Itu kan bagus. Dari sisi kemanusian, saya apresiasi,” ulasnya. Dia menegaskan, sesuai pengalaman yang selama ini mendampingi pasien kurang mampu, pelayanan kesehatan di RSUD Syamrabu tetap sesuai harapan.

Yang perlu ditingkatkan mengenai pelayanan satu pintu. Semisal, antara instansi dispendukcapil, dinsos, dan BPJS Kesehatan itu ada perwakilan petugas yang ditempatkan di rumah sakit. Hal tersebut bisa lebih memudahkan pelayanan bagi pasien kurang mampu yang harus mengurus perlengkapan administrasi.

”Ketika saya mendampingi, dalam waktu sehari kurang maksimal, semacam dikejar waktu. Sebab, tempatnya kan mencar-mencar. Kalau satu tempat lebih mengefisiensi waktu untuk mengurus persyaratan Biakes Maskin,” tandasnya. (daf/onk/par)

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news