alexametrics
Selasa, 01 Dec 2020
radarmadura
Home > Kedai
icon featured
Kedai

Fondasi Budaya dan Doa yang Menyimpang

Oleh: Lukman Hakim AG.*

16 November 2020, 17: 41: 40 WIB | editor : Abdul Basri

Fondasi Budaya dan Doa yang Menyimpang

Share this      

HIDUP di Madura itu mudah. Tidak mungkin mati kelaparan meski tidak punya uang. Asal mau berusaha mengikuti ritme sosial yang menuntun hidup guyub. Tidak individualistik, yang dalam bahasa Madura digambarkan dengan kata nekke’.

Nekke’ ini berasal dari kata tekke’ (tokek). Kata ini disematkan pada sifat manusia yang pola hidupnya seperti binatang berkaki empat itu. Tekke’ hanya keluar sarang saat hendak bersuara. Tapi tidak jauh dari tempatnya bersembunyi. Setelah itu kembali ngumpet.

Personifikasi nekke’ dimaksudkan agar manusia Madura tidak menyendiri. Berbaur bersama tetangga itu lebih baik daripada berdiam diri di rumah. Dengan sering hidup bersama itu akan mendatangkan peluang positif. Salah satunya jalan mendapatkan rezeki.

Kata itu sekaligus sebagai penegas bahwa manusia hidup sosial yang tak mungkin berdiri sendiri. Dalam peribahasa yang lain disebutkan la’as padha la’as, apolong daddi potena (gabah berkumpul sesama gabah bisa menjadikannya beras). Gabah sebiji sulit jadi beras. Namun, interaksi dalam kebersamaan saat ditumbuk atau digiling itu yang menjadikannya mengelupas hingga menjadi beras.

Laku kehidupan sosial itu kemudian bertemu dengan nilai silaturahmi yang banyak memberikan manfaat. Jika ”hanya” ingin menyeruput kopi hangat, segera bertandang ke rumah tetangga atau kerabat atau siapa saja yang bisa didatangi untuk keperluan tertentu. Terutama yang tinggal di pedesaan yang masih menerapkan pola hidup kebersamaan. Sebab, pantang bagi orang Madura tidak menyuguhi tamu yang datang ke rumahnya.

Suguhan utama adalah kopi yang dalam bahasa Madura disebut kobi. Kata kobi mengandung makna kerata basa sebagai harapan koko kakabbi (semua kukuh tak bercerai-berai). Kalaupun tidak punya bubuk kopi, si tuan rumah akan tetap berusaha menyajikan dengan wedang jahe. Syukur-syukur bisa keluar makanan berat seperti nasi, kaldu, atau soto. Atau, setidaknya pisang goreng atau olahan hasil pertanian yang lain.

Pendek kata, kalau ingin mengganjal perut keroncongan bisa diselesaikan kerabat dan tetangga. Menjadi suatu kebahagiaan bagi tuan rumah jika suguhan itu dinikmati dengan baik oleh si tamu. Pantang bagi tamu untuk tidak menikmati suguhan tersebut.

Jadi, tidak terlalu menjadi masalah jika dompet sedang kering. Tidak punya uang masih bisa makan. Tapi, dengan tegas orang Madura tidak suka berpangku tangan. Orang Madura diajarkan falsafah sapa atane bakal atana’ (barang siapa yang bertani bakal menanak) dan sapa adagang bakal adaging (barang siapa yang berdagang akan punya penghasilan lebih).

Karena itu, dalam berusaha digambarkan dengan ta’ mele lako e jalanna Allah (tidak pilih kerja di jalan Allah), alako berra’ apello koneng (kerja keras hingga berkeringat kuning), dan abantal omba’ asapo’ angen (berbantal ombak berselimut angin). Semua itu menggambarkan semangat kerja luar biasa. Digambarkan dalam bahasa pertanian, perdagangan, dan sektor kelautan. 

Karena itu, ketika pandemi Covid-19 menghantam semua sendi kehidupan, tidak begitu terasa bagi kehidupan ekonomi akar rumput orang Madura. Kebutuhan dasar untuk makan tetap tercukupi dengan mengandalkan hasil pertanian, perdagangan, dan kelautan. Sebab, mereka yang bertani tetap ke sawah. Nelayan juga tetap melaut. Kebutuhan sayur tinggal petik di pagar dan sekitar rumah. Misalnya, daun kelor, kacang-kacangan, dan semacamnya.

Dampak yang dirasakan tidak sampai menggoyahkan ekonomi masyarakat bawah. Modal sosial dan dimensi kebudayaan bisa jadi penyanggah. Menjadi aib jika hidup hanya digunakan untuk nonggul to’ot (duduk bertongkat lutut) dan ajarukkong e penggir lorong (nongkrong di pinggir jalan). Sebab, kebiasaan orang nongkrong di pinggir jalan hanya mengomentari setiap orang yang melintas hingga seolah tidak ada sisi yang baik di matanya. Padahal, dirinya sendiri hanya nongkrong!

Di sisi lain, pemerintah telah melakukan berbagai upaya penanganan Covid-19. Selain persoalan kesehatan, pemerintah me-refocusing anggaran untuk penanganan dampak ekonomi. Kemudian, muncul berbagai jenis bantuan untuk memberikan stimulus kepada masyarakat. Antara lain, jaring pengaman sosial (JPS), bantuan sosial (bansos) dari Kemensos, bantuan langsung tunai (BLT) dana desa (DD), subsidi gaji, bantuan untuk usaha mikro, bantuan tambahan beras bagi keluarga penerima manfaat (KPM) program keluarga harapan (PKH), dan lain-lain. 

Namun, dalam pelaksanaannya muncul masalah. Ada yang tidak percaya adanya Covid-19 dengan tidak mengindahkan protokol kesehatan (prokres). Tapi, pada saat bersamaan menyambut berbagai macam bantuan itu dengan senang hati. Ini masalah mental hingga muncul doa yang menyimpang. Seperti ”Semoga korona panjang umur agar bantuan tetap lancar mengalir.”

Doa ini bermasalah karena mengandung mental pengemis dan pemalas yang hanya berharap belas kasih melalui bantuan. Tidak mencerminkan karakter manusia Madura yang pekerja keras. Juga tidak mencerminkan manusia Madura yang taat pada pemerintah yang telah diajarkan nenek moyang dengan adagium bupa’-babu’, guru, rato. Yakni, sikap taat kepada orang tua (ayah dan ibu), guru, dan rato (raja atau pemerintah).

Meski secara ekonomi tidak terlalu berdampak fatal hingga paceklik karena ditopang pondasi kebudayaan, sebaiknya tetap berdoa untuk kebaikan bersama. Dimensi sosial budaya itu hendaknya dipertahankan dan dikembangkan. Kalaupun dihadapkan dengan masa sulit, dengan kearifan lokal itu, kita bisa segera bangkit.

Korona, segeralah berlalu. 

*Wartawan Jawa Pos Radar Madura

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news