alexametrics
Selasa, 01 Dec 2020
radarmadura
Home > Bangkalan
icon featured
Bangkalan

RSUD Syamrabu Layani Hampir Seribu Pasien Biakes Maskin

16 November 2020, 14: 27: 42 WIB | editor : Abdul Basri

VISIONER: Direktur RSUD Syamrabu Bangkalan dr. Nunuk Kristiani.

VISIONER: Direktur RSUD Syamrabu Bangkalan dr. Nunuk Kristiani. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamrabu Bangkalan menyatakan tidak pandang bulu dalam memberikan pelayanan kesehatan. Pasien dengan latar belakang apa pun tetap ditangani maksimal. Terutama, pasien yang kurang mampu secara ekonomi.

Tahun ini RSUD Syamrabu melayani hampir seribu pasien yang mengakses pembiayaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin (Biakes Maskin). Perinciannya, lihat grafis.

Direktur RSUD Syamrabu Bangkalan dr. Nunuk Kristiani mengutarakan, selama ini pelayanan kesehatan di rumah sakit berjalan seperti biasanya. Tidak ada perbedaan antara pasien miskin dan pasien kaya. Semua terlayani sesuai kemampuan fasilitas kesehatan (fakes) yang ada. ”Mau kaya, mau miskin, tanpa pengecualian, semua dilayani,” tegasnya kemarin (15/11).

Menurut Nunuk, jika selama ini asumsi masyarakat hanya orang kaya yang dilayani, itu sama sekali tidak benar. Terbukti, untuk 2020 sejak Januari hingga November, terdapat 857 pasien kurang mampu yang mendapat pelayanan kesehatan dari rumah sakit. Mereka tersebar di 18 kecamatan se-Bangkalan. 

”Data di kami itu, ada 857 pasien Biakes Maskin yang sudah kami layani dengan baik,” ujarnya. 

Kendati begitu, salah besar manakala rumah sakit dibilang menolak pasien miskin. Justru yang terjadi pasien Biakes Maskin itu tetap terlayani dengan baik. Artinya, dengan jumlah yang hampir mencapai ribuan itu menunjukkan bahwa rumah sakit milik semua orang. Bukan hanya orang kaya. 

”Semua orang berhak berobat di rumah sakit. Tidak melihat latar belakang, agama, dan status sosial. Pasti kami layani. Pelayanan bagi pasien yang datang ke RS/IGD disesuaikan dengan tingkat kegawatannya, bukan status pasien umum/BPJS/Biakes. Tidak ada perbedaan dalam hal pelayanan (pelayanan seragam), katanya.

Bahkan, bagi pasien miskin yang tidak masuk DTKS, itu oleh rumah sakit diusulkan mendapat pelayanan kesehatan melalui Biakes Maskin. ”Masuk DTKS, tambah kami layani. Tapi, yang belum, kami usulkan dapat Biakes Maskin,” terangnya.

Nunuk menyatakan, adapun pengajuan Biakes Maskin untuk masyarakat yang kurang mampu atau prasejahtera tidak perlu meminta pertolongan siapa pun, bisa langsung mengajukan ke kepala ruangan dan akan diberi form untuk diisi nama DTKS (data terpadu kesejahteraan sosial ). ”Form DTKS yang sudah diisi ditandatangani oleh klebun atau kepala desa,” tuturnya.

Setelah itu, form DTKS dibawa ke dinsos. Apabila keluarga tersebut benar-benar miskin, dinsos mengeluarkan rekom yang akan dilanjutkan ke dinkes untuk mendapat pelayanan Biakes Maskin. ”Jadi, rumah sakit urus pelayanan, sedangkan yang merekomendasi adalah dinsos dan dinkes,” tandasnya. 

(mr/onk/daf/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news