alexametrics
Selasa, 01 Dec 2020
radarmadura
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Madura Miniatur Negara

04 November 2020, 21: 44: 06 WIB | editor : Haryanto

Madura Miniatur Negara

Share this      

MADURA selalu menarik diperbincangkan. Sumber daya alam (SDA), budaya, bahasa hingga kondisi masyarakatnya sangat luar biasa. Banyak orang menyebut Madura adalah sepotong surga yang masyarakatnya tersebar di seluruh penjuru dunia.

Ungkapan Madura kaya raya bukan taklid buta. Itu fakta. Mulai dari sumber yang bersifat depleted, seperti minyak dan gas bumi (migas) hingga kandungan oksigen terbaik kedua dunia setelah Yordania ada di Madura. Tepatnya di Pulau Giliyang, Kecamatan Dungkek, Sumenep.

Kekayaan dari sektor kelautan dan perikanan juga sangat besar. Prof Muhammad Zainuri, alumnus Tokyo University of Fisheries, Jepang, menyebutkan bahwa potensi perikanan tangkap Madura mencapai Rp 3 triliun per tahun. Belum lagi perikanan budi daya.

Sejumlah korporasi eksploitasi alam secara besar-besaran. Mulai dari Bangkalan hingga Sumenep berdiri corong pengeboran migas. Entah berapa ribu barel minyak mentah serta gas bumi yang tiap hari ”dipaksa lahir” dari perut bumi Madura. Tidak tahu secara pasti.

Begitu kaya alam Madura, mestinya masyarakat sejahtera. Seharusnya, empat kabupaten Madura keluar dari peringkat 10 besar kabupaten termiskin di Jawa Timur yang hingga saat ini masih disandang.

Seni, budaya, dan bahasa sangat beragam. Diversitas kosakata hingga dialektika terjadi antar desa dalam satu kabupaten. Suku di Pulau Madura juga sangat majemuk. Mereka hidup secara rukun dan toleran. Seperti suku Bugis, Bajo, Mandar, dan suku Madura sendiri.

Kekayaan alam serta suku budaya yang plural menggambarkan Madura seperti miniatur negara. Sangat beragam tapi tetap dalam kebersamaan, serta toleransi antaragama, antarsuku serta antarkalangan.

Sejarah mencatat bahwa Madura pernah menjadi negara bagian pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS). Kedudukannya sejajar dengan Jawa Timur serta enam negara konstituen lainnya.

R.A.A. Tjakraningrat didapuk sebagai wali negara. Gayung bersambut dengan perkembangan politik, akhirnya pada era 1950-an Negara Madura kembali ke dalam pelukan bumi pertiwi Republik Indonesia.

Statusnya berubah dari negara bagian menjadi keresidenan. Berbeda dengan Jawa Timur yang statusnya berubah menjadi provinsi hingga saat ini.

Berkaca pada sejarah, tidak heran jika masyarakat Madura ingin mengembalikan kemandirian. Keinginan itu barangkali titik kulminasi dari sebuah kegelisahan rakyat Madura atas ketimpangan yang terjadi.

Keinginan Madura menjadi provinsi barangkali bagian dari sabda kerinduan atas kesejahteraan yang dimimpikan. Musyawarah besar (mubes) masyarakat Madura hingga judicial review yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi merupakan entitas hasil konsensus untuk satu tujuan; kesejahteraan.

Hidup di negara hukum, masyarakat Madura tentu harus mengikuti aturan (rule) untuk mewujudkan mimpi. Madura provinsi tidak bisa terwujud hanya sekadar diskusi. Apalagi sebatas celoteh fiksi di warung kopi.

Butuh langkah jitu dan jurus mabuk untuk menggapai mimpi yang absurd. Semisal, meminta persetujuan pemangku kebijakan. Lalu, lobi-lobi politik kepada penguasa agar rencana berjalan cantik dan ciamik.

Mimpi itu niskala. Akan selamanya mujarad jika tidak diimbangi tindakan nyata. Madura bukan sekadar miniatur negara. Tapi, pernah menjadi negara. Maka, Madura provinsi bukan sesuatu yang muskil jika diimbangi dengan perjuangan nyata. Selamat berjuang, rakyat Madura. (*)

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news