alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
Cara IAIN Madura Siapkan Mahasiswa Moderat

Dirikan Rumah Moderasi Beragama untuk Tangkal Intoleransi

14 Oktober 2020, 06: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

SEMANGAT: Rektor IAIN Madura Dr. Mohammad Kosim, M.Ag. (kanan) berbincang dengan pengurus Rumah Moderasi Beragama di ruang kerjanya kemarin.

SEMANGAT: Rektor IAIN Madura Dr. Mohammad Kosim, M.Ag. (kanan) berbincang dengan pengurus Rumah Moderasi Beragama di ruang kerjanya kemarin. (MOH. ALI MUHSIN/RadarMadura.id)

Share this      

Intoleransi dalam beragama menjadi ancaman nyata. IAIN Madura berupaya keras untuk menangkal gerakan tersebut. Mahasiswa dibekali pemahaman moderasi beragama.

MOH. ALI MUHSIN, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

GERAKAN atau paham intoleransi dalam beragama sangat berbahaya. Bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Bahkan bisa berujung pada konflik berkepanjangan antarumat beragama.

IAIN Madura sejak dini telah mengantisipasi untuk menangkal benih-benih gerakan intoleransi dalam beragama tersebut. Sebagai wujud nyata, IAIN Madura mendirikan Rumah Moderasi Beragama.

Ketua Rumah Moderasi Beragama IAIN Madura Ah. Fawaid menjelaskan, lembaga tersebut didirikan untuk menjadi spirit semua elemen di tanah air seiring dengan meningkatnya gerakan-gerakan intoleran terhadap kelompok yang berbeda.

”Ini merupkan respons terhadap fenomena sosial yang ada, tindakan intoleran, membenci, dan kekerasan atas nama agama meningkat,” terangnya.

Langkah awal yang akan dilakukan adalah sosialisasi ke lembaga. Yaitu, memperkenalkan pada civitas academica, termasuk pada lembaga-lembaga di luar bahwa IAIN Madura memiliki Rumah Moderasi. Selain itu, tindakan-tindakan taktis berupa sosialisasi dan seminar.

”Termasuk riset-riset akedemik terkait dengan peta dan kecenderungan mahasiswa di IAIN Madura. Kira-kira potensi mereka untuk tidak moderat kami petakan melalui riset-riset yang akan kami lakukan,” imbuh Fawaid.

Dengan Rumah Moderasi Beragama ini, fokus pertama yang akan dilakukan adalah membangun semangat moderat di internal civitas academica. Baik itu dosen, karyawan, ataupun mahasiswa.

”Tentu saja harapannya spirit ini tetap menjadi komitmen mereka ketika sudah menjadi alumni dan berkiprah di masyarakat,” harapnya.

Selain itu, mengevaluasi mahasiswa baru sekaligus saat mereka akan lulus. Kemungkinan perubahan secara signifikan atau tidak di dalam cara pandang ketika menyikapi persoalan keagamaan.

Menurut Fawaid, potensi benih-benih intoleransi ada di kampus. Namun, potensi tersebut di IAIN sangat terkendali. ”Jika membangun semangat moderat dari awal, maka potensi itu tidak melebar,” terangnya.

Sementara itu, Muhammad Taudiq selaku sekretaris Rumah Moderasi Beragama menjelaskan, cara pandang mahasiswa atau masyarakat sering kali dipengarahui media sosial (medsos). Meski medsos tersebut tidak bisa dikonfirmasi mengenai keabsahan informasi yang diterima.

”Karenanya kami akan menggalakkan internet sehat bagi mahasiswa. Bahwa pengetahuan bisa diakses di mana saja, tapi harus selektif terhadap informasi. Check and recheck harus menjadi semangat yang harus dimiliki insan akademisi,” terangnya.

Rumah Moderasi Beragama juga akan menjalin kerja sama dengan berbagai elemen yang memiliki semangat dan tujuan sama. ”Dengan wadah ini, saya berharap di Madura bisa tercipta moderasi dalam beragama yang lebih mementingkan kesamaan daripada perbedaan,” harapnya.

Rektor IAIN Madura Dr. Mohammad Kosim, M.Ag. menjelaskan, Rumah Moderasi Beragama itu didirikan berdasar edaran Dirjen Pendidikan Islam 2019. Edaran itu mengamanatkan agar setiap perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) mendirikan Rumah Moderasi Beragama sebagai pusat edukasi, pendampingan, pengaduan, penguatan wacana, dan gerakan moderasi beragama di lingkungan PTKIN.

”Rumah Moderasi Beragama IAIN Madura diresmikan oleh Dirjen Pendidikan Islam Prof. Dr. Phil Kamaruddin Amin, M.A. pada 23 Desember 2019. Ini merupakan semangat bersama dari berbagai elemen, termasuk Kementerian Agama, untuk membangun semangat moderenasi kepada seluruh jajaran di bawahnya, termasuk perguruan tinggi agama Islam,” papar Kosim.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news