alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

UMM Kukuhkan Elfi Jadi Guru Besar Baru

Usai Angkat Hasil Pertanian Lokal Berpigmen

18 September 2020, 21: 26: 36 WIB | editor : Haryanto

LUAR BIASA: Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. saat menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pemberdayaan Hasil Pertanian Lokal Potensial ”Berpigmen” dan Peran ”Sadar Gizi” Keluarga Mendukung Ketahanan Pangan Halal Thoyyiban.

LUAR BIASA: Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. saat menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pemberdayaan Hasil Pertanian Lokal Potensial ”Berpigmen” dan Peran ”Sadar Gizi” Keluarga Mendukung Ketahanan Pangan Halal Thoyyiban. (UMM for RadarMadura.id)

Share this      

MADURA – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. sebagai guru besar pada Jumat (18/9). Dosen Fakultas Pertanian-Peternakan itu dikukuhkan sebagai guru besar bidang Teknologi Hasil Pertanian.

Pengukuhan itu dilaksanakan di ruang terbuka agar sirkulasi udara lebih baik. Tepatnya di jembatan depan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 Kampus III UMM.

Dalam orasi ilmiahnya, Elfi menyampaikan tajuk Pemberdayaan Hasil Pertanian Lokal Potensial Berpigmen dan Peran “Sadar Gizi” Keluarga Mendukung Ketahanan Pangan Halal Thoyyiban.

Menurut dia, pentingnya ketahanan pangan dalam ekonomi global dan nasional harus dipahami oleh berbagai kalangan, baik pemerintahan, organisasi internasional, pengelola sektor swasta, maupun lembaga kemasyarakatan. Hal itu dapat dimulai dari ketahanan pangan keluarga.

Salah satu yang berpengaruh terhadap kualitas pangan adalah penggunaan bahan tambahan pangan (BTP). Misalnya, pewarna, pengawet, penyedap rasa, antigumpal, pemucat, dan pengental. Penggunaan warna pada produk pangan (makanan-minuman) memengaruhi kualitas produk dan meningkatkan selera.

Sayangnya, kebutuhan pewarna sintetis masih disuplai dari luar negeri. Penggunaannya kerap menimbulkan kekhawatiran, baik dari sisi takaran maupun cara penggunaan. Melihat hal tersebut, Elfi mengembangkan penelitian tentang sumber daya hayati Indonesia yang tinggi kandungan zat gizi dan nongizi yang menyehatkan.

Mengusung semangat ”Mari Dukung Produk Unggul Lokal”, karya tersebut juga merupakan bentuk perhatian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi masyarakat.

”Konsumen semakin sadar bahwa agar kehidupan yang dijalani senantiasa sehat, maka bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari juga harus bergizi dan sehat. Mereka yang menyadari hal tersebut juga lebih selektif menentukan jenis makanan yang akan dikonsumsi,” urai Kepala Laboratorium Sentral dan Halal Center UMM ini.

Mengapa bunga? Elfi mengaku penelitiannya diilhami dari Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 68–69. Dalam surah tersebut disampaikan bahwa minuman yang dikeluarkan dari perut lebah atau yang biasa disebut madu itu berasal dari macam-macam warna yang biasa dikenal sebagai pigmen yang terbukti bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit.

Salah satu bunga yang memiliki pigmen tersebut adalah mawar merah (Rosa sp.). Pengaruh senyawa antosianin yang dikandung Isolat dan pigmen pekat/konsentrat pigmen bunga mawar merah dapat mencegah dan memperlambat terjadinya oksidasi lipid.

Kemudian, mencegah berlanjutnya oksidasi senyawa, baik dalam produk (zat gizi, enzim yang mudah teroksidasi). Hasilnya, proses kematian sel dan penurunan fungsi metabolisme hati dapat dihindari.

”Upaya meningkatkan daya guna ekstrak pigmen antosianin dari mahkota bunga mawar sebagai pengawet alami juga dilanjutkan terhadap sifat hambatnya di beberapa mikroba pembusuk maupun patogen. Misalnya, bakteri Escherichia coli, Salmonella typhimurium, dan Pseudomonas sp.

Hasilnya, konsentrat bunga mawar merah yang diujikan dengan bakteri uji Pseudomonas sp. mampu membunuh bakteri dengan sangat baik. Bahkan telah dibuktikan, hasil ekstraksi tersebut dapat membunuh dan menghambat pertumbuhan mikroba pada ikan,” kata Elfi.

Konsep ini menggambarkan sifat fungsional beragam pigmen (hayati lokal). Bukan hanya sebagai zat pewarna, melainkan juga sebagai zat antioksidan alami. Karena itu, seyogianya produksi bahan pewarna alami yang efektif untuk beberapa jenis pangan (makanan-minuman) dapat dijalankan.

”Harapannya, bumi pertiwi yang subur penuh sumber hayati ini dapat menghasilkan pigmen berkualitas dari beberapa organ kekayaan hayati lokal, khususnya sebagai pengganti pewarna berbahaya Rhodamin B, Methanyl yellow, dan Amaranth,” tandas Elfi.

Melengkapi hal tersebut, penulis buku Perjalanan Menggapai Cintamu ini menyampaikan bahwa yang dibutuhkan masyarakat dan keluarga dalam mendukung ketahanan pangan adalah pemahaman dan transfer ilmu dan teknologi (IPTEK).

Karena itu, diperlukan edukasi dan sosialisasi multisektoral yang berkesinambungan agar kemandirian pangan dengan dominan sumber potensi lokal dan ketahanan pangan tercukupi jumlah dan mutunya hingga perorangan dalam keluarga.

Kepala LLDikti Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Ir. Suprapto, DEA. saat memberikan sambutan mengapresiasi kepakaran Elfi. Dia menyebutkan, penelitian Elfi teramat jarang ditemukan di Indonesia.

”Sekalian saya sampaikan kepada pemerintah agar jangan lagi mendatangkan guru besar impor. Ini loh di UMM. Kualitas guru besarnya tidak kalah bagus. Saya cek, yang memiliki kepakaran seperti Elfi ini sedikit sekali. Sebab, yang diteliti fokus di produk lokal,” pungkasnya. (*/pen)

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news