alexametrics
Senin, 21 Sep 2020
radarmadura
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Yang Selipkan Narkoba di Songkok A Ternyata Pengedar

Polisi Janji Kembangkan Kasus

29 Agustus 2020, 19: 53: 07 WIB | editor : Abdul Basri

LANGSUNG DITAHAN: Kapolres Sampang AKBP Abdul Hafidz menunjukkan tersangka pengedar narkoba yang diselipkan di songkok adik santri kepada publik kemarin.

LANGSUNG DITAHAN: Kapolres Sampang AKBP Abdul Hafidz menunjukkan tersangka pengedar narkoba yang diselipkan di songkok adik santri kepada publik kemarin. (RUSYDI ZAIN/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Mat Tahom harus merasakan pengapnya ruang tahanan Polres Sampang. Dia ditangkap karena diduga menyelipkan narkoba di songkok pemuda berinisial A, adik salah satu santri Pondok Pesantren Darul Amin, Sumber Telor, Desa Pandiyangan, Kecamatan Robatal.

Kapolres Sampang AKBP Abdul Hafidz didampingi para pejabat utama polres menunjukkan tersangka ke publik kemarin (28/8). Kepada polisi, Mat Tahom mengakui jika pada Senin (24/8) menyelipkan satu poket sabu-sabu ke songkok adik salah satu santri yang akan menjenguk kakaknya di Pondok Pesantren Darul Amin.

Mat Tahom ditangkap polisi saat berada di salah satu rumah warga di Desa Astapah, Kecamatan Omben, Sampang, Kamis (27/8). ”Alhamdulillah, kami sudh berhasil menangkap pemilik sabu-sabu yang diselipkan di songkok adik salah satu santri itu. Tersangka ini statusnya pengedar,” ungkap AKBP Abdul Hafidz.

Pihaknya akan terus mengembangkan kasus tersebut melalui sejumlah keterangan dari tersangka yang sudah berhasil ditangkap. Penyidik juga telah mengantongi identitas yang akan menerima narkoba kiriman dari Mat Tahom tersebut.

”Untuk pengembangan masih dalam penyelidikan. Penerima atau pemesan barang masih dalam penyelidikan,” katanya.

Abdul Hafidz menyebut barang bukti yang diamankan dalam kasus tersebut 2,5 gram sabu-sabu. Akibat perbuatannya, tersangka diancam Pasal 114 ayat 2 subsider pasal 112 ayat 2 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun penjara.

Di tempat terpisah, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Amin KH Abdul Malik berharap polisi dapat mengungkap seluruh jaringan narkoba di Kota Bahari. ”Narkoba ini merusak moral bangsa, jadi harus jadi musuh kita bersama. Selain memusuhi barangnya, juga pemilik dan pengedarnya harus dimusuhi,” katanya.

Untuk diketahui, Senin (24/8) ada salah satu warga berinisial A menjenguk kakaknya yang mondok di PP Darul Amin. Pertemuan A dan kakaknya sekitar pukul 17.00.

Sebelum tiba di pesantren, A ditelepon warga Desa Tobai Barat, Kecamatan Sokobanah, bernama Mat Tahom. Alasannya, mau ikut A karena juga ingin menjenguk kakaknya di pondok.

Setelah didatangi ke rumahnya, ternyata Mat Tahom mengurungkan niatnya. Setelah itu, A langsung bergegas menuju PP Darul Amin. Setiba di pesantren, A pun bertemu dengan kakaknya.

Beberapa saat kemudian, Mat Tahom menghubungi A dan memberi tahu bahwa telah menaruh sesuatu di songkok A. Mat Tahom meminta A menyerahkan titipan tersebut kepada seseorang di gardu di sebelah barat PP Darul Amin.

A bersama kakaknya pun menuju gardu. Setelah bertemu orang yang dituju, A hendak menyerahkan barang, tiba-tiba A dan kakaknya diamankan polisi. Padahal, santri yang ditangkap bersama adiknya itu tidak tahu-menahu atas barang tersebut. Ternyata, barang yang diselipkan di songkoknya itu narkoba jenis sabu-sabu.

KH Abdul Malik menduga ada kongkalikong antara oknum anggota polisi dengan pengedar narkoba serta komplotan maling untuk menjebak santrinya. Karena itu, wali murid yang kebetulan membesuk ke pondok bersama warga mengamankan oknum polisi itu.

(mr/rus/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia