alexametrics
Minggu, 27 Sep 2020
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Bersyukur dengan Totalitas

Oleh ABD. KADIR*)

25 Agustus 2020, 23: 20: 54 WIB | editor : Abdul Basri

Bersyukur dengan Totalitas

Share this      

KAMIS malam (20/8) atau 2 Muharam 1442 H saya diundang teman-teman ASN K2 Dinas Pendidikan Sumenep untuk melakukan refleksi Tahun Baru Hijriah. Temanya cukup menarik, Renungan Refleksi Diri 1 Muharam 1442 H. Saya berpikir ini momentum yang pas untuk merayakan Tahun Baru Hijriah sekaligus untuk melakukan refeksi, muhasabah, dan perenungan diri terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini.

Sejatinya, ketika kita memasuki tahun baru, apakah itu Hijriah ataupun masehi, maka secara kasatmata Allah telah menambahkan umur kita setahun. Dari penambahan ini, yang berumur 1 tahun menjadi 2 tahun, yang 2 tahun menjadi 3 tahun, yang 3 tahun menjadi 4 tahun, dan seterusnya.

Hanya, kita kadang abai, bahwa penambahan itu juga akan diikuti pengurangan umur kita dari jatah. Ketika jatah umur seseorang hanya diberi 60 tahun, maka substansinya, pergerakan tahun baru ini menambah umur satu tahun, sekaligus mengurangi jatah umur yang 60 tahun itu. Penambahan dan pengurangan ini ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat terpisahkan.

Pertanyaan yang muncul kemudian, apa yang perlu dilakukan dalam rangka muhasabah ini? Jawabannya cukup sederhana. Perbanyaklah bersykur karena kita sudah diberikan kenikmatan umur untuk bisa sampai pada bulan Muharam ini. Bersyukur juga atas segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Ada nikmat kesehatan, ada nikmat Islam, iman yang masih lekat di dada kita, dan nikmat-nikmat yang lain yang tidak mungkin bisa disebutkan satu per satu. Intinya bersyukur adalah kewajiban bagi kita, sehingga Allah akan menambah anugerah nikmat kepada kita dengan syukur yang kita ungkapkan ini.

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana perwujudan syukur kita ini? Lagi-lagi jawabannya cukup sederhana. Pertama, kita mewujudkan syukur dengan menguatkan hati kita untuk selalu mengingat Allah. Kita memantapkan tauhid kita bahwa Allah adalah zat Yang Maha Segalanya. Zat Yang Maha Mengetahui segala apa yang akan dialami oleh makhluknya. Zat Yang Maha Mengatur segala kehidupan makhluknya sehingga segala bentuk qada dan qadar itu harus terus melekat dalam hati kita bahwa semuanya atas kuasa Allah, dan tidak pernah lepas dari campur tangan Allah. Bahwa Allah telah mengatur yang terbaik bagi makhluknya. Bahwa semua yang kita alami di dunia adalah yang terbaik untuk kita. Bahwa tiada kekuatan selain kekuatan Allah dan bahwa tiada zat yang patut disembah kecuali Allah. Ini perwujudan utama kalimat baqiyah yang akan kekal dan akan kita bawa sampi hari kiamat: ”laa ilaaha illallah, muhammadurrasulullaah”.

Dengan menguatkan hati kita untuk selalu mengingat Allah dan meyakini bahwa Allah adalah zat yang maha baik bagi kita, maka semua akan terasa indah dan akan selalu memunculkan kenikmatan dalam hidup. Maka, sekali lagi, hati ini perlu terus diasah untuk tetap menguatkan tauhid kepada Allah dengan selalu mengingat Allah.

Kedua, mewujudkan syukur dengan kalimat verbal zikir kepada Allah. Berzikir tak terhalang oleh ruang dan waktu. Kapan saja, di mana saja, dan dalam posisi apa saja. Ini bentuk syukur dalam ucapan. Kalimat tahmid, tahlil, tasbih, takbir, dan kalimat kalimat toyyibah yang lain perlu terus diucapkan sebagai bentuk syukur verbal kita. Dengan pembiasaan mengucap kalimat-kalimat toyyibah ini, kita akan terhindar dari mengucapkan kalimat-kalimat yang tak berguna. Kalimat-kalimat yang mungkin bisa merugikan orang lain. Termasuk juga dengan membiasakan berzikir ini, akan menjadikan hati kita menjadi tenang. ”alaa, bizikrillaaahi tatmainnul quluub”.

Ketiga, syukur ini perlu diwujudkan dengan tindakan. Kita perlu mengaplikasikan bentuk ketakwaan kita dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah kita perlu diperbaiki, baik sebagai bentuk hubungan spiritual-vertikal kita dengan Allah, maupun ibadah yang masuk dalam konteks hubungan horisontal dengan masyarakat sekitar/sesama manusia. Jadi keduanya menjadi satu kesatuan. Makanya dalam salat, ada takbiratul ihram sebagai pembuka dan menjadi titik kunci penghambaan kita kepada Allah bahwa tiada yang besar kecuali Allah, dan ada penutup dengan salam sebagai bentuk ritual horisontal kita kepada sesama dengan mendoakan keselamatan kepada orang-orang di sekitar kita, di samping kanan dan kiri.

Selain itu, sebagai bentuk ’ritual’ horizontal, tradisi di bulan Muharam, biasanya ada sedekah bubur asyura. Ini sebenarnya simbol berbagi kepada sesama. Bahwa bersedekah itu memang dianjurkan dalam agama. Maka, sebagai simbolnya adalah berbagi bubur asyura. Sebenarnya tidak hanya bubur asyura, apa pun yang lebih dari bisa kita sedekahkan untuk orang lain yang membutuhkan. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya? Nah, di sini perlu ada perwujudan nyata untuk bisa menjadi yang orang bisa bermanfaat untuk sesamanya. Salah satunya dengan berbagi.

Ini semua adalah bentuk totalitas syukur yang bisa kita lakukan dalam rangka merefleksi hadirnya Tahun Baru Hijriah sehingga ke depan Allah akan menambahkan anugerah rezeki dan kenikmatan hidup kepada kita. Semoga! 

*)Kabid Pembinaan SD Disdik Sumenep

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia