alexametrics
Minggu, 27 Sep 2020
radarmadura
Home > Cerpen
icon featured
Cerpen

Puisi Ayah

Cerpen J. AKID LAMPACAK*

25 Agustus 2020, 23: 18: 24 WIB | editor : Abdul Basri

Puisi Ayah

Share this      

SEBENARNYA aku belum tahu pasti apa yang membuat ibu menangis ketika membaca puisi ayah. Yang jelas, ketika aku ingin baca puisi yang sering ibu pegang setiap malam itu, selalu dilarang. Ibu bilang aku belum waktunya memegang surat itu, apalagi sampai membacanya. Tentu makruh hukumnya.

Setiap selesai makan malam, aku tidak tega melihat ibu menangis. Aku tidak tega melihat ibu duduk di kamar ayah sambil meratapi pigura yang melekat di dinding dekat jendela. Tak tega melihat ibu sendirian hanya karena ingin membaca puisi ayah hingga lari dari pandanganku. Mungkin ibu malu, memperlihatkan kesedihannya kepadaku. Tapi, aku selalu tahu ketika ibu mulai bersedih. Walau ibu tak pernah sadar, bahwa aku selalu mengintip deras air matanya di lubang-lubang pintu kayu yang setiap tetesnya membasahi bekas jerawat di pipinya.

Selalu dengan rasa penasaran yang menemaniku sepanjang malam. Terkadang rasa penasaran itu terpaksa harus kucampur dengan rasa sedih dalam dada. Saat kuingat minggu kemarin ayah masih duduk di kursi ruang tamu. Menyaksikan aku membuka buku di bangku belajar. Sungguh tak bisa kulempar manis senyumnya saat ia harus bercanda bersama ibu, sebab ia terlalu bahagia melarangku menonton film kartun di televisi. Melarangku bermain game di HP. Dan pedihnya lagi, ayah juga melarangku tidur di atas pukul sepuluh.

Saat ini aku hanya bisa membayangkan dan merasakan. Tentang segala sesuatu yang sudah kupandang di saat ayah masih hidup. Sementara perjalanan rumah tangga sangat nampak perubahannya, mungkin karena seorang perempuan yang memimpin kekuasaannya. Jadi, segala yang sudah teratur dulu, sekarang hancur layaknya debu. Kebiasaan ibu yang sering memasak setiap pagi, sekarang berubah menyendiri. Kebiasaan ibu mengantarku ke sekolah, sekarang terbuang diganti susah.

Namun, di balik semua ini, aku masih tak kuasa mengaturnya. Ibu terlalu menganggapku masih kanak-kanak hingga aku tak berani jika aku menegur ibu untuk tidak selalu menangis ketika sedang membaca puisi ayah. Aku ingin sekali membuang puisi itu, agar ibu tak sering terkecoh waktu, membuang air mata hanya karena membaca puisi yang tak jelas apa maksudnya. Dalam perasaanku selalu terlontar, ”Apa? Ibu sudah tidak perduli kepadaku.” Selalu kutemukan rasa itu di wajah-wajah siang, di wajah teman-temanku ketika mereka dijemput pulang sekolah, di tubuh-tubuh mereka saat menemukan hangat pelukan ibunya, sementara aku hanya bisa menatap dengan air mata yang mengaliri rongga dada.

Barangkali aku tak mencapai apa yang sedang ibu rasakan saat ini. Mungkin saja, ia terlalu mencintai ayah, sehingga ia tak perduli apa yang sudah dititpkan ayah dalam hidupnya, yang terlihat pada dinding bayangnya selalu wajah ayah, berderai-derai seperti menatap hujan di pangkuan kemarau yang baru saja sampai. Tak kutemukan cara terbaik untuk memisahkan ibu dengan puisi itu. Ibu terlanjur dekat dengan puisi itu, ia menganggap puisi itu sebagai pengganti ayah dalam hidupnya.

Dengan rasa penasaran, walau aku terasa belum cukup umur, aku harus mencari tahu asal-usul puisi itu. Di antara kerabatku hanya paman yang tahu tentang puiai itu, karena sejak remaja, ayah hanya berteman paman di rumahnya, karena paman memang saudara satu-satunya.

Setelah kutanyakan kepada paman, tanpa aku sadari, paman telah menceritakan panjang lebar tentang ayah ketika masih muda, tentang ayah ketika masih bertunangan dengan ibu, tentang ayah ketika sering menuliskan puisi-puisi temannya, bahkan paman mengaku kepadaku, bahwa paman pernah menyuruh ayah membuat puisi untuk pacarnya.

Paman bilang, selain ayah pandai menulis puis,i ia juga dikenal seorang penulis cerita-cerita cinta yang selalu tumpah di berbagai media. ”Maka, jangan heran jika perempuan secantik ibumu terbeli tanpa harus dibayar.” Kata paman tersenyum lebar sambil menatapku yang belum sempat mengedipkan mata, karena terlena pada cerita ayah ketika masih muda. Dan yang tak membuatku percaya apa yang dikatakan paman, ”Siapa pun yang pernah membaca puisi yang ditulis ayahmu itu mesti merasakan sedihnya”. Dengan rasa penasaran, tiba-tiba aku ingin pulang, ingin cepat-cepat membuktikan, apa yang telah paman katakan.

Sesampai di rumah, kutatap wajah ibu, kutatap bening matanya yang terhias dengan kelopak ungu, seakan ia mewujudkan kesedihan yang tak pernah aku lihat sebelumnya, mulutnya seperti terkunci, tak bisa bicara, aku anggap ibu sudah gila. Karena pada pandangannya terkilas sebuah warna yang kosong. Ia seperti sudah tak peduli pada apa yang terjadi di sekitarnya, kertas yang ia pegang demikian lusuh, huruf-huruh yang tertulis sudah kabur jauh, jika aku yang membacanya barangkali sudah tak utuh kalimatnya, sebab dalam kertas itu hanya tersirat bintik-bintik hitam dengan bekas bentuk huruf yang banyak menghilang.

”Jika ibu selalu begini, kapan ibu bisa tenang kembali?” Beserta nada yang membelai, kukatakan larangan belas kasih sayang. Kuiringi belaian suaraku dengan tetesan air mata yang tak kurasa. Mungkin benar kata paman tadi, ”Siapa pun yang membaca puisi itu akan merasakan sedihnya.” Telah kubuktikan sedih yang ayah tulis dalam kehidupan lumayan membakar. ”Nak, aku bukan tidak tenang dalam menghadapi kedukaan ini. Justru dengan ketenangan ini, air mataku tumpah berkali-kali.”

Mendengar detak jantung ibu seperti menuntun detak jantungku yang masih belajar berjalan di halaman rumah. Sejak saat itu aku merasakan apa yang telah ibu rasakan, merasakan sedih yang telah ayah tinggalkan, seakan-akan aku harus benar-benar sadar bahwa kepergian ayah bukan ditinggalkan, melainkan harus dikenang.

***

Tepat di hari Minggu, akhirnya kubaca juga puisi ayah yang sering dipegang ibu. Puisi itu kuambil pada lipatan baju pernikahan ibu tepat di lemari yang pecah kacanya. Semoga ibu tidak mengetahuinya karena jika ibu tahu, pasti ia memarahiku. Tapi yang kusangka sebelum kubaca ternyata tak sama, ibu sudah mengetahui dengan apa yang telah aku lakukan. Ia malah menyuruhku agar aku juga tahu dengan apa yang tertulis dalam kertas itu. ”Bacalah puisi itu agar kau tahu tentang apa yang akan kamu lakukan dari sekarang.” Suara ibu dari belakang membuatku malu dan menoleh ke belakang. Sebab, sudah ketahuan apa yang telah aku rahasiakan. ”Memangnya kertas ini berisi apa, Bu?” tanyaku sambil menatap wajah ibu dengan senyuman muda agar ibu bisa memberitahuku sebelum membaca.

Tapi, ibu malah pergi meninggalkan aku di kamar sendirian. Lalu, kubuka lipatan surat lusuh itu bersama tangan yang gemetar, takut apa yang kubaca nanti terbayang apa yang sudah hilang. Sebelum kubaca puisi itu terbayang ucapan paman. Di situlah aku menemukan kebimbangan antara membaca dan melipatnya kembali. Ketakutan sudah terlalu menyelimuti hati. Tapi jika aku tidak membacanya, berarti aku tak bisa menebus rasa penasaranku.

Akhirnya kupandang juga paragraf pertama dalam puisi itu. Kubaca kata per kata secara pelan-pelan. Tampaknya ayah hadir dalam sebuah bayangan. Kubaca kalimat yang tertulis, ”Kutitipkan puisi ini untuk anakku.” Pandanganku serentak seperti berada dalam pandangan lain. Yang kurasakan seperti ketika dulu ayah mengajakku bermain di taman sore, bercerita tentang daun-daun yang jatuh, bahwa ia akan kembali tumbuh sebagai daun walau angin meniupnya di setiap musim gugur. Tapi daun tak pernah habis, sebab daun selalu benci dengan tangis.

Lalu, ayah melambaikan tangan dan pergi dalam lamunan. Yang kusadari hanya ada ibu di sampingku. Ia langsung memelukku. Sementara lambaian tangan ayah masih jelas kudengar dalam detak jantung ibu. ”Ayah ke mana, Bu?” tanyaku. Setelah kulepas pelukannya, ia mengusap air mata di seluruh pipiku beserta ucapan yang membuatku membisu, ”Ayahmu adalah puisi itu”. 

*)Santri PPA Lubangsa Utara. Calon mahasiswa IST Annuqayah falkultas teknik prodi teknologi informasi. Sedang jatuh hati pada perempuan yang mendalami ilmu hukum.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia