alexametrics
Minggu, 27 Sep 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Raih Gelar Doktor setelah Teliti Interaksi Etnis Tionghoa-Madura

Tak Ada Perbedaan yang Jadi Alasan Berkonflik

06 Agustus 2020, 19: 35: 00 WIB | editor : Abdul Basri

PESAN DAMAI: Mohammad Ali Humaidy menunjukkan hasil risetnya saat ditemui di salah satu kafe di Kota Pamekasan kemarin.

PESAN DAMAI: Mohammad Ali Humaidy menunjukkan hasil risetnya saat ditemui di salah satu kafe di Kota Pamekasan kemarin. (ONGKY ARISTA UA./RadarMadura.id)

Share this      

Madura dan Tionghoa hidup berdampingan sejak 1270. Mereka guyub dan tidak pernah berkonflik. Bahkan, tidak ada perbedaan yang patut jadi alasan untuk berselisih.

ONGKY ARISTA UA., Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

NAMA aslinya Mohammad Ali Humaidy. Namun, dikenal dengan panggilan Malhum. Pria asal Sumenep ini tidak asing. Baru-baru ini dia menyandang gelar doktor setelah meneliti kehidupan etnis Madura dan Tionghoa.

Jawa Pos Radar Madura berkesempatan menemui lelaki yang aktif meriset itu di salah satu kafe di Kota Pamekasan siang kemarin (5/8). Perbincangan kami pun tidak jauh dari dunia riset.

Termasuk hasil riset terbaru dosen IAIN Madura tersebut. Riset yang mengantarkannya meraih gelar doktor di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu. Hasil penelitian itu diterbitkan menjadi buku berjudul Etnis Tionghoa di Madura.

Riset tersebut secara garis besar membahas pola interaksi sosial etnis Tionghoa dengan etnis Madura di Sumenep. Buku 182 halaman tersebut adalah riset yang mengawali diskursus tentang interaksi antar etnis Tionghoa dan Madura.

”Madura dan Tionghoa sama-sama memiliki stereotipe yang kurang terdengar baik. Tapi, mengapa keduanya memiliki interaksi yang bagus?” Alasan itulah yang menjadi salah satu daya tarik Malhum untuk menggali lebih dalam. Pertanyaan itu pun akhirnya membuka beberapa akar persoalan.

Etnis Madura dan Tionghoa sama-sama memiliki toleransi yang tinggi, sehingga keduanya berdampingan dan damai dalam menjalin interaksi sosial. ”Faktanya, sejak 1270 Masehi, belum ada konflik rasial. Keduanya beriringan,” ungkap Malhum.

Malhum mengatakan, antropolog asal Belanda Huub De Jonge memang mencatat satu gesekan. Gesekan antara etnis Madura dan Tionghoa itu terjadi di Prenduan, Kecamatan Pragaan, Sumenep. Namun, masalah tersebut bukan dipicu isu rasis, melainkan dilatarbelakangi perebutan ekonomi.

Dengan demikian, kedua etnis ini baik-baik saja. Dalam interaksi sosial tidak masalah. Menurut Malhum, interaksi kedua etnis ini berjalan baik karena keduanya sama-sama dilandasi nilai-nilai agama. Nilai-nilai agama itulah yang kemudian menjadikan dua etnis itu guyub dan hidup berdampingan tanpa konflik.

Malhum mengungkapkan, orang Madura tidak pernah berkonflik dengan etnis Tionghoa. Itu berarti karakter toleransinya tinggi. Tingginya toleransi ini menunjukkan pola pikir orang Madura terbuka. ”Orang Tionghoa mengakui toleransi orang Madura tersebut,” terangnya.

Sementara orang Tionghoa mudah melakukan penyesuaian di lingkungan Madura. Dua nilai positif itulah yang menjadikan keduanya hidup rukun. Orang Tionghoa ikut arus budaya lokal.

”Banyak orang Tionghoa nonmuslim, ketika Maulid Nabi diundang, mereka datang. Orang Tionghoa pun juga mengundang etnis Madura ketika ada acara,” katanya.

Bahkan, kata Malhum, ada salah seorang pengusaha besar etnis Tionghoa di Sumenep yang setiap tahun mengadakan Maulid Nabi. Menurut dia, acara itu merupakan bagian dari strategi sosial untuk memperkuat ikatan silaturahmi dengan yang berbeda etnis.

Simbol utama guyubnya etnis Madura dan Tionghoa adalah Masjid Jamik Sumenep. Tidak mungkin arsitektur Tionghoa tiba-tiba membangun masjid tanpa ada keakraban interaksi dengan etnis Madura terlebih dahulu. ”Simbol-simbol arsitektur Tionghoa adalah Masjid Jamik dan Labang Mesem,” katanya.

Selain itu, simbol keakrabannya pun ada di Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep. Di desa itu seolah menjadi miniatur keberagaman umat manusia. Di desa itu berdiri beberapa rumah ibadah di satu tempat yang berdekatan.

Di kampung toleransi itu berdiri Masjid Baitul Arham, Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel, dan Kelenteng Pao Xian Liang Kong. Tiga rumah ibadah ini berdiri di tepi Jalan Slamet Riyadi.

JPRM pernah menurunkan berita berjudul Pesan Damai Tiga Rumah Ibadah Beda Agama di Satu Desa. Berita itu terbit Jumat, 22 September 2017. Dari pusat kota, Masjid Baitul Arham berada di kanan jalan. Dari jalan raya menyeberangi jembatan yang menghubungkan dengan pintu masuk masjid.

Sekitar 20 meter ke timur, sebelah kiri jalan, ada sebuah gereja. Sebuah bangunan dengan gaya Eropa. Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel namanya. Bangunan tersebut terlihat megah dengan sebuah menara dan didominasi warna putih.

Sekitar 50 meter ke timur lagi, berdirilah sebuah bangunan dengan warna merah terang. Warna yang dipercaya membawa keberuntungan bagi sebagian orang. Bangunan itu adalah Kelenteng Pao Xian Lian Kong.

”Kalau tidak ada interaksi yang bagus, pasti akan tersulut konflik. Sampai hari ini keduanya masih akrab dan masih bagus interaksinya,” sambung pria yang lahir di Sumenep 45 tahun lalu itu.

Selain itu, yang menguatkan eratnya interaksi Tionghoa dan Madura adalah prinsip hidup yang dipegang masing-masing. Orang Tionghoa punya falsafah empat penjuru mata angin itulah saudara. Sementara orang Madura punya prinsip taretan dibi’.

Taretan dibi’ bukan hanya untuk saudara kandung atau famili dekat orang Madura. Tetapi, siapa pun yang tidak membuat kegaduhan dan berbuat baik dianggap saudara atau taretan.

Malhum berharap, hasil risetnya bisa membuka toleransi dan terus menciptakan akar-akar guyub antar sesama manusia berbeda etnis. Dengan begitu, perbedaan akan terajut dengan indah di bumi pertiwi.

Pada dasarnya, kata dia, tidak ada perbedaan yang patut jadi alasan untuk berkonflik. Sebab, setiap manusia dalam etnis-etnis yang berbeda itu diatur oleh prinsip agama dan falsafah hidup untuk saling membuka diri dan menjalin persaudaraan.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia