alexametrics
Minggu, 27 Sep 2020
radarmadura
Home > Cerpen
icon featured
Cerpen

Cerpen KHAIRIL ANWAR: Bigalan

04 Agustus 2020, 21: 11: 48 WIB | editor : Abdul Basri

Cerpen KHAIRIL ANWAR: Bigalan

Share this      

HARIYAH, perempuan setengah baya itu lari terbirit-birit sambil meraung sejadinya mendengar anak sulungnya, Nur Hasanah, dikabarkan dibawa bigalan. Hari itu Dusun Lamojang, dusun paling selatan Desa Pordapor, Guluk-Guluk, berbatasan dengan Desa Tanudung, benar-benar kehilangan angin sepoi lembah yang memainkan pucuk nyiur tambah eksotik, kehilangan orkestra cicit mano’ koju’ yang menjadi ayat damai alam perkampungan kala pagi dan sore hari, dan kehilangan tawa kanak-kanak yang saban sore bergelak tawa di pematang mengadu layang-layang.

Semua sontak berganti riuh. Bigalan kata paling banyak mengudara di warung kopi, pasar, toko, sungai, bahkan teras masjid. Setiap ada orang berkumpul di sana kata bigalan terucap bersanding dengan Nur Hasanah yang hilang tanpa jejak. Saat itu pula, anak-anak dilarang keluar rumah. Lelaki dewasa dan tua berjaga, bergerombol.

Sudah tiga hari tak terdengar celoteh Nur, panggilan akrab Nur Hasanah, bergelayut pada ujung baju Hariyah merengek minta dibelikan tapai parut kesukaannya. Hariyah sungguh kehilangan masa kalemnya. Ketenangan baginya bagai suara burung hantu yang ditinggalkan kelamnya malam. Air hujan deras tergenang di matanya. Mendung bagai jubah kelam menyelimuti sekelumit langitnya.

Walau minggu itu surat edaran yang dikeluarkan Kapolres Sumenep mengimbau agar tidak mudah percaya dan tidak mudah menyebarkan kabar penculikan anak yang akhir-akhir ini membuat resah masyarakat. Bagi Hariyah dan suaminya, Sanadin, surat edaran tersebut bagai agas yang hanya hidup kala magrib tiba. Malahan semua itu hanya membuat Sanadin, naik darah. Mereka tahu apa? Jelas-jelas anak saya diculik bigalan, geramnya dalam batin.

”Pak, bagaimana?” Suaranya bergetar.

”Sabar, saya usahakan pencarian dan pengajuan laporan kehilangan sudah saya ajukan pada Kapolsek,” Pak Kalebun mencoba menenangkan Sanadin.

”Bajingan bagaimana, Pak? Apa sudah ada kabar dari mereka?” Desak Sanadin.

”Belum, belum, Pak!”

”Waduh, celaka, celaka, Anakku!”

Sanadin mondar-mandir di hadapan Pak Kalebun yang sedang menyoroti layar handphone-nya saksama. Semakin jelas di dunia khayali Sanadin berbagai cerita simpang siur tentang perlakuan sadis bigalan terhadap korbannya. Pak Kisman, misalnya, dia bercerita bahwa korban akan dimasukkan ke ruang remang dengan bau anyir yang begitu legit. Di dinding kelamnya berjejer pisau bedah, cutter, dan alat sulit diterka statusnya apa. Di sana tercecer beberapa nampan berisi darah dan potongan tubuh manusia. Nampan berukuran sedang tepat ada di bawah ranjang lengkap dengan lampu bedah yang menyamai ruang operasi rumah sakit. Ranjang itu yang nantinya akan menjadi saksi bisu bahwa anak Sanadin akan dibedah dan diambil organ vitalnya seperti mata, ginjal, dan entah apa lagi. Atau versi cerita Pak Muksan, korban bigalan akan didandani semenarik mungkin, dikirim ke agen penjualan orang yang nantinya akan dijajakan di dalam atau luar negeri.

Terlepas benar dan salah cerita itu, serta dari mana sumbernya berasal, telanjur ditelan bulat-bulat oleh Sanadin, lelaki paruh baya yang hanya tamat sekolah dasar itu. Bayangan anaknya menjerit di ruang operasi yang pengap nan antah-berantah atau merunduk lemah tak berdaya di dalam ruang kaca sebagai perempuan virgin mahal siap disantap lelaki hidung belang semakin merajai kepalanya. Dunia khayali Sanadin makin menjadi-jadi, membuat segenap guratan pada wajah lusuhnya semakin tampak kusut.

Segera dia bergegas keluar dari pekarangan Pak Kalebun berniat menghampiri dan mengajak istrinya pulang. Hariyah sepanjang waktu tak henti-hentinya berkalang duka dan bermandikan air mata. Berlari dari rumah ke sekolah serta ke setiap rumah teman-teman anaknya.

”Mayu, mole… mungkin Herman sudah punya kabar!”

”Bagaimana, Ka’? Apa sudah?” Sebelum lengkap istrinya bertanya, tangan Sahuri sudah mencengkeram lengannya dan menyeret pulang. Sepanjang jalan para tetangga, kerabat, dan sanak famili bertanya tentang perkembangan kabar anak perempuan Sanadin dan Hariyah. Namun, keduanya hanya menjawab dengan gelengan kepala, kecewa.

”Sudahlah, Din! Relakan saja putrimu, paling-paling dia sudah mati,” Kisman menepuk bahu Sanadin.

”Atau dia sudah dikirim ke luar negeri…” tambah Muksan.

***

”Wah, bagus banget HP-nya, Pak!” Nur menyeka anak rambut dan poninya, semringah mendapatkan hadiah atas keberhasilannya mendapat ranking pertama dan lulus dari kelas lima sekolah dasar. Dibalik-balik dan dielus-elusnya handphone anyar di tangannya itu. Sesekali ia mengelapnya. Mata bening anak itu berbinar seolah baru menemukan air segar dari dahaga lama yang kerontang. Lesung pipinya semakin tampak manis seiring senyum yang mengembang. Android dengan layar lebar itu mengilap. Akhirnya, aku punya HP, sama seperti kawan-kawan yang lain. Aku akan memamerkannya besok, hehe. Batin Nur.

”Sudah simpan dulu. Besok Bapak suruh kakakmu pasangin SIM card.”

Nur bangkit dari sofa ruang tengah. Membawa dan menimang-nimang gadget baru itu ke kamarnya alih-alih melirik bapaknya yang sedang duduk mantap ditemani secangkir kopi pahit.

Malam Nur terampas, jengah ia memejamkan mata. Segala gairah untuk tidur tak ada. Kantuk seolah hijrah dari ranjangnya. Android telah menggantikan segala keindahan mimpi-mimpi anak itu. Ada rasa resah, kenapa azan subuh tak seperti biasanya, begitu cepat berkumandang, kenapa pula pagi belum bertandang. Derik jangkrik di belakang rumah Nur berdenging makin keras saja. Suara katak beralun bagai calung menambah lengang malam. Sedang Nur bising dengan suara hatinya sendiri, menanti pagi yang tak kunjung bersemi. Ah, tak dinyana pelan-pelan matanya mengatup jua dengan khidmat.

”Nak, bangun, salat Subuh!” Hariyah mengguncang tubuh anaknya seraya berseru lembut.

”Mana? Sudah pagi, Kakak mana, Mak?” Nur bangun tersentak bagai orang bangun dari mimpi buruk. Sedang emaknya mundur satu langkah. Sasmita mukanya berkata, abba na’-kana’ reya jat-ngerjadi bai. Seusai menghela napas, perempuan paro baya itu segera menyingkap kemul menyuruh Nur bangkit dan berwudu, sambil menggeleng-geleng pelan. Tak langsung bergegas, yang disuruh malah celingukan seraya mengangkat guling dan bantal mencari sesuatu.

”HP-nya ada di meja, ayo cepat salat nanti keburu terbit matahari!” Nur refleks menoleh ke arah titik tunjuk jari emaknya dan ber-puuuh, lega.

Pagi itu menjadi saksi dimulainya kehidupan baru sang bocah berusia dua belas tahun itu. Kakaknya, Herman, telah memasang SIM card di Android baru Nur, mengaktifkan paket data internet pula. Pantas saja Nur lupa sarapan, lantas berangkat sekolah membawa HP dengan jemawa. Tidak lupa sekali-kali selfie, bergaya artis yang sering ia tonton di televisi. Nyengir sendiri ia edit foto itu, miring kanan-kiri mengecek hasilnya.

”Oi, sudah punya HP, Kau!” Sambil meletakkan tas di mejanya Robiah menepuk bahu Nur, kemudian duduk di sampingnya. Teman sebangku Nur itu juga merogoh telepon di saku bajunya. Yang ditepuk mendongak, dari ekspresi wajahya bilang, bisa nggak sih tak ngaget-ngagetin.

”Boleh aku tengok HP kau?” Robiah menjulurkan tangan, meminta. ”Sini, aku instalin WhatsApp, Facebook, Tiktok, dan Instagram!” Nur melongo, seketika wajah kesalnya berubah. Ia tersenyum dan memberikan handphone-nya.

***

Herman tergopoh-gopoh, lari dari madrasah tsanawiyah tempat dia mengajar ke rumahnya yang jaraknya hanya berkisar seratus meter. Matahari tepat di atas ubun-ubun, menunjukkan pukul sebelas siang. Bukan main, Herman lari seolah dikejar orang sekampung, diteriaki maling pula. Tepat saat berada di depan rumahnya, dia berhenti mengelap peluh di dahinya dan mengambil napas dalam-dalam.

”Mak… Pak… Pak Kalebun Bahol tadi menelepon, katanya ale’ sudah ketemu!” Seorang laki-laki tinggi kurus tak lain adalah epak-nya keluar dari rumah dengan kaus kumal basah oleh keringat, tampaknya baru datang dari ladang. Emaknya muncul pula kemudian. Setelah satu minggu berkalang duka paling nestapa, kini keduanya dapat tersenyum berseri-seri, syukur tak henti-hentinya mereka panjatkan.

Secepat kilat Sanadin, Hariyah, dan Herman berbondong-bondong ke balai desa hendak menemui Pak Kalebun. Sanadin berboncengan dengan istrinya menggunakan motor butut miliknya. Sedang Herman sendiri sudah melesat jauh di depan mengendarai motor metiknya. Tak butuh waktu lama dengan mengendarai sepeda motor, tujuh menit kemudian balai desa sudah terlihat. Satu mobil polisi tampak memasuki pagar balai dan Pak Kalebun menyambutnya ramah.

”Oh, syukurlah sudah berkumpul semua.” Pak Kalebun mempersilakan duduk tiga orang berseragam polisi di karpet yang sudah tergelar serta sigap menyambut kedatangan keluarga Sanadin. Hariyah berlari dan langsung menyambar Nur, menenggelamkan bocah itu dalam pelukannya. Tangis keduanya pecah. Usai menyalami Pak Kalebun, Sanadin dan Herman pun menghampiri emak dan anak yang masih saling merangkul erat.

”Mari, Pak Sahuri, Herman, silakan duduk!” Pak Kalebun berseru. Sanadin dan Herman menoleh, balik kanan meninggalkan istri dan anak yang masih belum melepas pelukan. Mereka menyalami tiga orang tinggi-tegap berseragam polisi dan bersila dekat Pak Kalebun, membentuk lingkaran kecil. Di sana juga duduk beberapa Pak Carek.

Pak Kalebun memulai perbincangan dengan meminta keterangan tentang penangkapan bigalan yang selama ini diduga sebagai biang masalah keresahan masyarakat. Tiga polisi itu malah tertawa mendengar kata bigalan setelah sebelumnya bersitatap.

”Maaf sebelumnya, sebenarnya menyangkut kehilangan anak Bapak siapa…, Pak polisi berhenti, memandang Pak Kalebun dengan ekspresi bingung mengingat sesuatu, langsung saja Pak Kalebun menyela menyebut nama, iya Bapak Sanadin, tidak ada sangkut pautnya dengan bigalan,” polisi yang menjelaskan itu tarik napas sejenak, kemudian meneruskan, ”Bukankah kami sudah mengeluarkan surat edaran satu minggu lalu yang mengimbau agar masyarakat tenang, tidak mudah percaya tentang kabar penculikan anak. Kabar itu sebenarnya hoaks. Terus mengenai anak Pak Sahuri.”

”Terus, yang di Desa Manding, Bakeong, dan Daleman? Di sana juga kan ada kasus penculikan anak, Pak!” Sahuri nyeletuk cepat, memutus penjelasan. Salah satu dari tiga polisi itu sekonyong-konyong angkat suara.

”Oh, saya sangka Bapak sudah tahu tentang semua kabar itu. Di surat kabar kami telah memperjelas keabsahan kabar bigalan. Setelah mengadakan pemeriksaan dan penyidikan secara intens, kami dapat simpulkan di Desa Manding, anak yang dikabarkan hilang sejatinya hanya main di rumah kawannya tanpa berpamitan terlebih dahulu pada kedua orang tuanya. Di Desa Bakeong, awalnya berasal dari sebuah pemandian di sana. Seorang pemuda mabuk tiba-tiba loncat ke sumber yang kebetulan anak-anak semua, sontak mereka meneriaki pemuda itu bigalan. Sedangkan di Desa Daleman, tak ada bukti apa pun yang membenarkan adanya kabar penculikan anak di sana. Kemungkinan besar itu hanya berita bohong yang disebar di media sosial. ”Penjelasan panjang lebar dikemukakan oleh bapak polisi itu. Sanadin, Herman, Pak Kalebun, dan beberapa orang yang mendengar penjelasan itu manggut-manggut.

”Nah, untuk kasus anak Bapak, semua dapat dijelaskan lewat barang bukti ini,” Bapak polisi menyerahkan beberapa kertas dan sebuah handphone pada Sanadin. Ia ingat sekali, belum genap dua bulan HP itu ia beli. Lihatlah, masih mengilat pula casing-nya.

Sanadin terbelalak bukan main usai membuka lembaran-lembaran itu dan membaca chatting mesra anaknya, bahkan terlampau mesra dengan seorang laki-laki yang tak dikenalinya. Napasnya tersengal. Dadanya sesak seolah ada sesuatu yang menjerat paru-paru. Wajah Sanadin merah padam memeram murka yang tiada tara. Seraya bangkit menghampiri serta menarik lengan anak gadisnya dengan kasar. Bocah itu terpelanting lepas dari pangkuan emaknya dan…

”Pate’, korang ajar! Apa saja yang telah kamu lakukan dengan lelaki itu, hah?”

Buk… plasss… tiba-tiba raungan histeris menguap ke atap balai. 

*)Santri PP Annuqayah Lubtara, asal Batuampar

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia